Pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Kamis (29/7/2021). Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)/Kementerian Investasi melaporkan realisasi investasi pada kuartal II 2021 tumbuh 16,2 persen menjadi Rp223 triliun dibandingkan periode yang sama tahun la | ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/rwa.
28 Oct 2021, 08:41 WIB

BKPM Optimistis Target Investasi 2021 Tercapai

BKPM mencatat pada kuartal III 2021, investasi terbanyak masuk ke perumahan, kawasan industri, dan perkantoran.

JAKARTA – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia optimistis dapat mencapai target realisasi investasi tahun ini yang sebesar Rp 900 triliun. Sepanjang Januari-September 2021, kata dia, realisasi penanaman modal telah mencapai Rp 659,4 triliun atau mencapai 73,3 persen dari target.

Ia menyebut, capaian realisasi investasi pada Januari-September 2021 itu tumbuh 7,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy). "Kami telah melakukan kalkulasi dan mapping terhadap beberapa investasi yang sudah terealisasi dan calon yang masuk pada kuartal IV dengan peluang yang ada. Doakan tercapai di angka Rp 900 triliun," katanya, dalam konferensi pers pada Rabu (27/10).

Sementara itu, Kementerian Investasi mencatat, realisasi investasi pada kuartal III 2021 sebesar Rp 216,7 triliun. Angka itu turun 2,8 persen dibandingkan realisasi pada kuartal sebelumnya yang sebesar Rp 223 triliun.

Meski begitu, jumlah tersebut naik 3,7 persen (yoy) bila dibandingkan realisasi investasi pada periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 209 triliun. "Sekali pun pandemi, para pengusaha dan investor tetap percaya diri dengan investasinya," ujar Bahlil.

Terkait

Realisasi investasi pada kuartal III 2021 lebih banyak dilakukan di luar Jawa dengan persentase 51,9 persen atau Rp 112,5 triliun. Sisanya sebanyak 48,1 persen atau Rp 104,2 triliun direalisasikan di Jawa.

"Atas pembangunan infrastruktur secara masif, berdampak positif dan memikat para investor tanamkan investasi tak hanya di Jawa. Ini untuk pemerataan pertumbuhan ekonomi baru," kata dia.

Dia mengatakan, pada kuartal III 2021, investasi terbanyak masuk ke sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran yakni sebesar Rp 28,1 triliun. Hal itu disusul sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi senilai Rp 26,6 triliun dan sektor industri logam dasar, barang logam bukan mesin, serta peralatannya sebesar Rp 25,1 triliun.

"Sektor paling utama realisasi investasi yaitu telekomunikasi karena kita sedang membangun data center. Hal ini sebagai bentuk kebijakan pemerintah daerah terpencil harus mendapatkan akses telekomunikasi," ujar dia.

Sementara itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi stabilitas keuangan berada dalam kondisi normal pada kuartal III 2021. Hal ini didorong pemulihan aktivitas ekonomi seperti PMI manufaktur yang berada dalam level ekspansif, indeks belanja masyarakat, penjualan kendaraan bermotor, penjualan semen, dan konsumsi listrik. Ketua KSSK Sri Mulyani mengatakan, pemulihan aktivitas ekonomi seiring membaiknya penanganan kasus Covid-19.

Menurut Menteri Keuangan, penurunan kasus harian Covid-19 memungkinkan terjadinya pelonggaran penerapan PPKM yang berimplikasi pada mulai pulihnya aktivitas ekonomi domestik. "Kasus harian telah menunjukkan penurunan sejak awal Agustus 2021. Perkembangan ini mendorong pelonggaran aktivitas masyarakat sehingga aktivitas ekonomi secara bertahap semakin pulih," ujarnya.

Ke depan, pihaknya mewaspadai risiko dari kondisi global, yaitu munculnya gelombang varian baru Covid-19, ketimpangan distribusi vaksin, serta gangguan pada suplai global yang bisa meningkatkan tingkat inflasi. “Global supply disruption yang lebih panjang telah menimbulkan kenaikan harga seperti harga-harga energi serta memicu terjadinya inflasi,” kata Sri.


×