Azyumardi Azra | Daan Yahya | Republika
28 Oct 2021, 03:45 WIB

Revitalisasi Islam Kosmopolitan

Hanya dengan kosmopolitanisme dan Islam wasathiyah bisa diharapkan masa depan Islam dan Muslim lebih baik.

OLEH AZYUMARDI AZRA

Islam kosmopolitan yang memasuki relung budaya lokal (embedded) di kepulauan nusantara sejak abad ke-17 mengalami konsolidasi ortodoksi—pemahaman dan praktik Islam sahih yang disebarkan dan diajarkan ulama-ulama otoritatif.

Di luar ortodoksi itu, masih ada pemahaman dan praktik heterodoks atau menyimpang dan unortodoks atau tidak lazim.

Ketiga aspek ortodoksi Islam kosmopolitan kepulauan nusantara yang masih berlanjut sampai sekarang adalah: kalam atau teologi Asy’ariyah (tengahan di antara kalam literal Khawarij dan kalam liberal Mu’tazilah), fikih Syafi’i (tengahan di antara fikih literal Zahiri atau fikih Hanbali dengan fikih rasional Hanafi), dan tasawuf al-Ghazali (tengahan di antara tasawuf antinomian dan tasawuf falsafi spekulatif).

Terkait

Ketiga aspek ortodoksi Islam kepulauan nusantara ini bisa dalam segi tertentu berbeda, misalnya dengan ortodoksi Islam Semenanjung Arabia dengan kalam Salafi-Khariji, fikih Hanbali, dan antitasawuf.

Atau dengan ortodoksi Islam Anak Benua India yang berkecenderungan kuat pada kalam Mu’tazilah, fikih Hanafi, dan tasawuf antinomian.

Dengan ketiga aspek ortodoksi ini, Islam kosmopolitan kepulauan nusantara membentuk Muslim Indonesia umumnya menjadi ‘ummatan wasathan’ (Alquran 2:143), mengikuti, dan menjalankan pemahaman dan praksis wasathiyah Islam.

 
Islam kosmopolitan kepulauan nusantara terus terkonsolidasi abad demi abad di tengah kehadiran kolonialisme Eropa, khususnya Belanda.
 
 

Umat Islam kepulauan nusantara menampilkan Islam damai, akomodatif, toleran, dan ‘Islam with a smiling face’.

Ketiga aspek ortodoksi Islam kepulauan nusantara itu—meminjam kerangka antropolog Robert Redfield—menjadi inti atau dasar ‘tradisi besar’ (great tradition) ekspresi Islam di wilayah ini.

Tradisi besar ini mencakup banyak ‘tradisi kecil’ (little tradition) yang biasa juga disebut lebih pas sebagai ‘tradisi lokal’. Meski demikian, ada bagian tertentu tradisi lokal partikular yang tidak selaras dengan Islam universal atau Islam kosmopolitan sehingga memunculkan dinamika dan pergumulan.

Islam kosmopolitan kepulauan nusantara terus terkonsolidasi abad demi abad di tengah kehadiran kolonialisme Eropa, khususnya Belanda.

Kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang cenderung mengabaikan Islam selama tidak mengganggu status quo kekuasaannya, justru membuat Islam kepulauan nusantara terkonsolidasi menjadi Islam independen vis-a-vis kekuasaan.

Sementara itu, penjajah Jepang sebaliknya, merangkul Islam ke dalam ‘proyek Asia Raya’. Pasca-Perang Dunia II pada masa kemerdekaan, Islam Indonesia tetap bertahan dengan tradisi Islam wasathiyah dan tetap kosmopolitan.

Dengan karakternya yang damai, akomodatif, inklusif dengan smiling face, Islam Indonesia wasathiyah kosmopolitan menjadi menarik bagi publik Eropa, Amerika, bahkan dunia Arab dan wilayah Muslim lain.

 
Kosmopolitanisme jelas positif dan baik dan sangat perlu atau dibutuhkan, khususnya dalam kehidupan sosio-religio, religio- kultur, religio-politik.
 
 

Ada sejumlah figur Muslim Indonesia yang menonjol/prominen dalam pemikiran dan diseminasi Islam wasathiyah secara global. Mereka dapat disebut cendekiawan Muslim Indonesia kosmopolitan.

Apakah kosmopolitanisme positif atau negatif atau penting atau kurang penting dalam kehidupan Islam kepulauan nusantara dan Islam Indonesia sekarang?

Kosmopolitanisme jelas positif dan baik dan sangat perlu atau dibutuhkan, khususnya dalam kehidupan sosio-religio, religio- kultur, religio-politik.

Dengan kosmopolitanisme, individu dan komunitas berbeda dapat berinteraksi dan menjalin hubungan baik dan produktif untuk memajukan peradaban dunia dalam berbagai aspek: sosial, budaya, politik, dan seterusnya.

Banyak kalangan—Muslim dan non-Muslim—kadang-kadang mengeluh dan menganggap kosmopolitanisme Islam Indonesia dan cendekiawan Muslim Indonesia kosmopolitan cenderung kian sedikit.

Boleh jadi anggapan itu benar. Boleh jadi juga, keadaan itu disebabkan terbatasnya cendekiawan Muslim Indonesia yang terlibat dalam interaksi dan pertukaran gagasan kosmopolitan.

 
Selama tidak ada kosmopolitanisme, selama itu pula Islam dan kaum Muslim sulit berinteraksi lebih positif, produktif, dan kontributif dengan peradaban lain.
 
 

Peningkatan neo-konservatisme di kalangan umat Islam Indonesia belakangan ini, juga membuat kian banyak sarjana dan cendekiawan Muslim Indonesia menghabiskan banyak waktu untuk merespons berbagai isu lokal, bukan isu menjagat.

Gejala ini membuat banyak cendekiawan Indonesia—tidak hanya Muslim—berpikir dan bertindak seperti katak dalam tempurung.

Masyarakat Muslim Indonesia dan ummah Islam global membutuhkan Islam kosmopolitan dan kosmopolitanisme, baik dalam konteks Islam Indonesia maupun Islam global atau umat Muslim dengan karakter dan pandangan dunia kosmopolit dan kosmopolitan sangat mendesak diperlukan.

Hanya dengan kosmopolitanisme dan Islam wasathiyah bisa diharapkan masa depan Islam dan Muslim lebih baik. Selama tidak ada kosmopolitanisme, selama itu pula Islam dan kaum Muslim sulit berinteraksi lebih positif, produktif, dan kontributif dengan peradaban lain.

Pembangunan peradaban dunia lebih damai, adil, dan maju memerlukan Islam kosmopolitan wasathiyah. Karena itulah senantiasa perlu rekonsolidasi dan revitalisasi Islam kosmopolitan wasathiyah


×