Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas belakangan ini jadi perbincangan karena menyebut Kemenag hadiah untuk NU | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
26 Oct 2021, 10:27 WIB

Menag Klarifikasi Soal Kemenag Hadiah untuk NU

Pernyataan Kemenag hadiah untuk NU dimaksudkan untuk memotivasi internal kader NU di berbagai tempat.

JAKARTA — Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengklarifikasi pernyataannya tentang Kementerian Agama (Kemenag) hadiah untuk Nahdlatul Ulama (NU) yang menunai polemik. Ia menegaskan, pernyataan tersebut disampaikan dalam forum internal keluarga besar NU, yang tujuannya untuk memotivasi para santri dan pesantren.

“Itu saya sampaikan di forum internal. Intinya, sebatas memberi semangat kepada para santri dan pondok pesantren,” kata Menag di sela-sela menghadiri pembukaan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-20 Tahun 2021 di the Sunan Hotel, Surakarta, Jawa Tengah, Senin (25/10).

Menag kemudian menganalogikan pernyataannya soal Kemenag hadiah negara untuk NU dengan pasangan pria dan wanita yang mengatakan dunia milik berdua. "Itu sama kira-kira ketika kalian semua ini dengan pasangannya masing-masing melihat rembulan di malam hari, (mengatakan) dunia ini milik kita berdua, yang lain cuma ngekos, salah enggak itu? Saya tanya, salah enggak itu? Itu karena internal," kata dia.

Lebih lanjut, Menag menekankan bahwa Kemenag memberikan afirmasi terhadap semua agama. Kemenag memberikan hak secara proporsional terhadap ormas, bukan NU saja.

Terkait

"Cek coba sekarang, ada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah itu kader Muhammadiyah. Jangan salah dan itu biasa buat kami. Irjen Kemenag sama, bukan NU, itu biasa,” katanya.

“Memberi semangat itu wajar. Itu forum internal. Dan memang saya juga tidak tahu sampai keluar lalu digoreng ke publik,” kata Menag.

Menag juga menegaskan bahwa karakter dasar dan jati diri NU adalah terbuka dan inklusif. NU hadir untuk memberikan dirinya untuk kepentingan dan maslahat yang lebih besar. “Bukan semuanya untuk NU,” ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

 

Sebelumnya, Menag berbicara di webinar internasional peringatan Hari Santri 2021 yang diadakan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU. Pernyataan Menag di forum tersebut menuai banyak reaksi karena mengatakan Kemenag hadiah negara untuk NU.

"Kementerian Agama itu hadiah negara untuk NU, bukan untuk umat Islam secara umum, tapi spesifik untuk NU. Jadi, wajar sekarang NU itu memanfaatkan banyak peluang yang ada di Kementerian Agama karena hadiahnya untuk NU, kenapa begitu?" kata Menag dalam webinar tersebut.

Sebelumnya, saat merespons pernyataan tersebut, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menyebut, Kemenag adalah hadiah negara untuk semua agama, bukan hanya untuk NU atau organisasi umat Islam lainnya.

Helmy mengatakan, tidak disangsikan lagi bahwa NU memang punya peran besar dalam menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Bahkan, menurut dia, jauh sebelum kemerdekaan NU telah meletakkan pesantren sebagai pilar pembentuk karakter mental bangsa yang bertumpu kepada akhlakul karimah

Namun, menurut dia, hal itu tidak berarti NU boleh semena-mena berkuasa atas Kemenag ataupun merasa ada hak khusus. Karena itu, dia pun menilai bahwa pernyataan Menag tersebut kurang bijaksana dalam konteks membangun spirit kenegarawanan.

Sementara, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan, Indonesia termasuk lembaga-lembaga negara milik semua. Ia menegaskan, lembaga-lembaga negara tidak bisa dikuasai atau disebut menjadi hadiah bagi satu kelompok saja.

"Semisal elite negeri yang menyatakan suatu kementerian negara lahir diperuntukkan golongan tertentu dan karenanya layak dikuasai oleh kelompoknya. Suatu narasi radikal yang menunjukkan rendahnya penghayatan keindonesiaan," ujar Haedar dikutip dalam laman resmi Muhammadiyah, Ahad (24/10).


×