Alat-alat berat dioperasikan di pertambangan Bukit Asam yang merupakan salah satu area tambang terbuka (open-pit mining) batu bara terbesar PT Bukit Asam Tbk. di Tanjung Enim, Lawang Kidul, Muara Enim, Sumatra Selatan, Sabtu (5/11). PT Bukit Asam Tbk (PTB | ANTARA FOTO
26 Oct 2021, 09:59 WIB

PT Bukit Asam Tingkatkan Porsi Ekspor

PT Bukit Asam meraih laba Rp 4,8 triliun di tengah harga batu bara yang meroket.

JAKARTA -- PT Bukit Asam (Persero) Tbk memanfaatkan momen kenaikan harga batu bara internasional yang tembus ke angka 200 dolar AS per ton. Emiten berkode saham PTBA itu berencana meningkatkan porsi ekspor batu bara sebanyak 47 persen dari total produksi hingga tutup tahun ini.

Direktur Utama PTBA Suryo Hadi Eko mengatakan, total produksi batu bara perusahaan mencapai 22,9 juta ton hingga kuartal III 2021. PTBA menargetkan kapasitas produksi sebesar 30 juta ton hingga akhir tahun ini, artinya 47 persen dari total produksi sebesar 14,1 juta ton akan dialokasikan untuk porsi ekspor.

"Memang kami memanfaatkan peluang harga tinggi ini untuk meningkatkan porsi ekspor, namun ekspor ini akan memakai alokasi dari peningkatan produksi juga. Sebelumnya, kita alokasikan 24 juta ton hari ini kan 30 juta ton, jadi kelebihan produksi ini yang akan kami alokasikan untuk ekspor," kata Eko dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Selasa (25/10).

Eko optimistis hingga akhir tahun ini harga batu bara masih berkisar pada angka 200 dolar AS per ton. Meskipun, Eko menambahkan, nantinya ada fluktuasi, tetapi tidak akan terjadi penurunan yang signifikan.

Terkait

"Kami masih optimistis nggak akan ada penurunan signifikan, kalau ada fluktuasi itu kecil aja. Kami masih optimistis juga harga tahun depan tergolong tinggi walaupun nggak setinggi saat ini kita alami,” ujar Eko.

Direktur Pengembangan Usaha PTBA Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin mengatakan, PTBA menyasar lima pasar utama dalam peningkatakan porsi ekspor batu bara. Lima negara tersebut, antara lain, Filipina, Cina, dan Vietnam. Namun, pada pekan kedua tahun ini PTBA menambah pasar baru, yaitu Bangladesh.

"Pekan kedua Oktober ini kita (ekspor) ke Bangladesh. Pekan ketiga Oktober itu naik signifikan, jauh banget di atas harga batu bara paling pick pada 2008, yakni 194,79 dolar AS. Jadi, kami maksimalkan pasar ekspor ini," ujar Fuad.

Di tengah harga batu bara yang meroket, PTBA meraup laba Rp 4,8 triliun pada kuartal III 2021. Angka tersebut melonjak 176 persen dibandingkan kuartal III tahun lalu.

Pencapaian laba tersebut didukung pendapatan PTBA sebesar Rp 19,4 triliun, yang juga melonjak 51 persen dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 12,8 triliun.

Direktur Keuangan PTBA Farida Thamrin mengatakan, selain kenaikan harga dan kenaikan produksi, kinerja keuangan perseroan tahun ini ditopang dari hasil efisiensi yang dilakukan perusahaan. Upaya efisiensi perseroan secara berkelanjutan di setiap lini kegiatan sebagai langkah antisipasi menghadapi volatilitas harga batu bara.

Farida menjelaskan, efisiensi ini tecermin dari angka beban biaya produksi. Ia mencatat biaya produksi memang naik enam persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan biaya produksi ini karena ada kenaikan volume produksi.

"Terefleksi cash cost kita dibandingkan tahun lalu naik persen saja. Kita menjaga cost lebih efisien dan produksi dan harga sangat mendukung," ujar Farida.

Farida menambahkan, PTBA hingga kuartal III 2021 sudah merealisasikan capital expenditure atau belanja modal sebesar 51 persen dari rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP). Alokasi capex terbesar untuk penyelesaian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 8.

"Angka ini masih sangat baik. Sampai dengan kuartal III tahun ini, kita masih ada problem Covid-19. Hal ini sebetulnya di atas 30 persen realisasi capex itu sudah sangat baik," ujar Farida.

Progres proyek PLTU Sumsel 8 saat ini sudah mencapai 91,03 persen. Targetnya, kuartal I 2022 PLTU berkapasitas 2x620 megawatt (MW) tersebut sudah mulai beroperasi.


×