Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
26 Oct 2021, 03:30 WIB

Meneladan Nabi dalam Berdakwah

Dakwah Nabi Muhammad SAW murni mengajak manusia kepada jalan Allah.

OLEH AHMAD RIFAI

 

Mencintai Rasulullah adalah bagian dari keimanan. Jalan mewujudkannya dengan mengikuti dan meneladannya. Tidak saja dalam aspek ritual, tetapi juga nonritual seperti berdakwah.

Rasulullah adalah sosok dai yang andal. Objek dakwah Nabi Muhammad SAW menjangkau semua level masyarakat, mulai dari anak kecil, pemuda, hingga orang tua. Kehebatan itu terbukti pada keberhasilan beliau mendesain tatanan masyarakat yang memungkinkan tersemainya nilai kebaikan secara maksimal.

Terkait

Padahal, latar belakang objek dakwahnya sangat majemuk. Rata-rata pernah terjerembap dalam kelamnya kejahiliyahan. Namun, dengan sentuhan dakwah Nabi Muhammad, mereka menjadi sosok yang dikagumi manusia dan diridhai Allah.

Apa rahasianya? Yang pertama, pada ketulusan. Saat mengajak manusia, Nabi Muhammad SAW tidak mengajak untuk kepentingan pribadi, suku, atau atribut keduniaan lainnya. Dakwah Nabi Muhammad SAW murni mengajak manusia kepada jalan Allah, bukan kelompok atau kepentingan tertentu.

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman yang artinya, “Katakanlah wahai Muhammad inilah jalanku, aku menyeru manusia kepada jalan Allah di atas pijakan ilmu.” (QS Yusuf: 108).

Ketulusan inilah yang selalu mengundang datangnya pertolongan. Sehingga, sepelik apa pun problematika yang merintangi selalu ada solusi. Tak heran Nabi Muhammad SAW melewati masa-masa berdakwahnya dengan penuh kesabaran dan optimisme, meski tantangan yang dihadapi terbilang sangat berat.

Sisi keteladanan yang kedua pada konten dan cara mendakwahkanya. Nabi Muhammad SAW tidak menyampaikan selain apa yang Allah perintahkan. Semua yang beliau sampaikan tentang agama adalah wahyu dari Allah. Dalam menyampaikan, beliau melakukannya secara bertahap dengan mendahulukan yang paling penting.

Dalam sejarah terekam, tema terpenting dan paling utama dakwah beliau adalah penguatan dan pemurnian akidah dari kesyirikan. Karena akidah yang murni inilah yang akan melahirkan ketulusan.

Ibarat bangunan penanaman nilai-nilai tauhid adalah fondasi. Dalam konteks amal, ketulusan inilah yang menjadi pijakan kebaikan. Kebaikan tanpa pijakan ketulusan tak akan pernah tegak dengan kokoh.  

Keteladanan yang ketiga adalah kelembutan. Inilah karakter Nabi Muhammad yang mengiringi setiap nasihat-nasihat yang beliau sampaikan. Akhlak Nabi Muhammad sangat menakjubkan. Tutur katanya menyejukkan.

Namun, kelembutan beliau adalah kelembutan yang sempurna. Artinya, meski lembut, beliau tetap tegas. Beliau sedikit pun tidak pernah mengubah hukum dan ketetapan Allah dengan alasan lemah lembut dan kemaslahatan.

Bahkan, Nabi Muhammad pernah membuat satu pernyataan tegas, “Sekiranya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku pun akan memotong tangannya.” (HR Bukhari).

Nabi Muhammad SAW telah wafat, tapi ajaran-ajarannya tetap hidup dan eksis. Siapa pun dapat mengaksesnya. Sebab semua ajaran Nabi Muhammad SAW termasuk strategi dan manhaj dalam berdakwah dan menarbiyah para sahabat telah terwariskan melaui ilmu isnad (ilmu periwayatan).


×