Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat melintasi Jalan Layang Non Tol (JLNT) Tanah Abang-Kampung Melayu di Jakarta, Ahad (23/5/2021). | Republika/Putra M. Akbar
26 Oct 2021, 03:45 WIB

Elektabilitas Ganjar Bukan Jaminan Tiket Nyapres dari PDIP

PDIP nantinya tetap cenderung mencalonkan Puan Maharani sebagai capres atau cawapres.

OLEH NAWIR ARSYAD AKBAR, HAURA HAFIZHAH

Nama Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo belakangan berada di atas puncak survei tokoh atau bakal calon untuk Pilpres 2024. Setelah sebelumnya Litbang Kompas menempatkannya di atas bersama Prabowo Subianto dengan angka elektabilitas 13,9 persen, kali ini Poltracking Indonesia lewat hasil survei terbarunya pada 3 hingga 10 Oktober 2021, menempatkan Ganjar berada di paling atas dengan elektabilitas sebesar 18,2 persen.

Tepat di bawahnya, terdapat nama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan 17,1 persen. Kemudian Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berada di urutan ketiga dengan 10,2 persen.

"Tertinggi Ganjar Pranowo di rentang margin of error dengan Prabowo, 18,2 persen. Prabowo mepet dalam margin of error, 17,1 persen," ujar Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR dalam rilis daringnya, Senin (25/10).

Terkait

Berdasarkan survei Poltracking, nama-nama lain seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, atau Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno mendapatkan elektabilitas di bawah 10 persen atau satu digit. Menurut Yuda, dari hasil survei ini peta calon presiden sudah mengerucut kepada tiga nama, yakni Ganjar, Prabowo, dan Anies.

Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai, tingginya angka elektabilitas Ganjar tak serta merta membuat Ganjar akan dipilih oleh PDI Perjuangan (PDIP) sebagai capres pada 2024. Ujang bahkan yakin, PDIP akan mengusung Puan Maharani.

"Walaupun elektabilitas Ganjar tinggi. PDIP mungkin punya skenario sendiri terkait Pilpres 2024 nanti, mungkin Megawati punya jagonya sendiri, bisa saja putri mahkotanya sendiri Puan," katanya saat dihubungi Republika, Senin (25/10).

Ujang mengeklaim telah mendapatkan bocoran dari internal PDIP bahwa, partai berlambang kepala banteng itu akan ‘memaksakan’ Puan ikut berkontestasi di Pilpres 2024. Namun, PDIP dihadapi oleh dilema bahwa, jika Puan diskenariokan menjadi cawapres Prabowo, maka ada kemungkinan PDIP akan menuai kekalahan.

"Skenarionya kemungkinan seperti itu. Karena saya mendapat bocoran dari pihak mereka. Yang mungkin Prabowo-Puan, namun bisa kalah. Itu yang sedang jadi dilema," kata Ujang.

Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego juga memiliki pendapat senada mengenai elektabilitas Ganjar. Indria memperkirakan PDIP nantinya tetap cenderung mencalonkan Puan Maharani sebagai capres atau cawapres.

"Kalau mencerna pandangan orang-orang Megawati itu, mereka lebih prefer untuk mendorong Puan menjadi calon presiden (capres). Jadi, PDIP hanya mencalonkan Puan karena bagaimanapun dia anak Ketua Umum yang merupakan tokoh sentral PDIP," ujarnya saat dihubungi Republika, Senin (25/10).

photo
Baliho kepak sayap kebhinekaan Puan Maharani terpasang di Rejowinangun, Yogyakarta, Rabu (11/8/2021). Beberapa baliho Puan Maharani di Yogyakarta terpasang di sudut Kota Yogyakarta. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Indria juga menyarankan Ganjar untuk mulai memikirkan akan diusung partai apa. Jika menyadari tidak akan diusung oleh PDIP, Ganjar harus segera membuat keputusan berminat dipinang oleh partai lain.

"Karena menjadi capres itu membutuhkan kendaraan politik, tak bisa dari jalur independen," ujarnya.

Adapun, PDIP tak mau bicara banyak menanggapi hasil survei elektabilitas Ganjar. Pihak DPP PDIP mengaku masih berkontemplasi dalam mengambil langkah terbaik.

"Seperti dikatakan Sekjen PDIP (Hasto Kristiyanto) bahwa Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sedang melakukan kontemplasi hingga pada waktunya mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara. Mengapa harus tergesa-gesa?" kata Politikus PDIP Hendrawan Supratikno saat dihubungi Republika, Senin (25/10).

Ia menambahkan, PDIP berdasarkan ambang batas perolehan suara yang harus diperoleh oleh partai politik dalam suatu pemilu untuk dapat mengajukan calon presiden (presidential threshold) merupakan satu-satunya partai yang sudah punya tiket untuk mengusung pasangan calon (paslon) pada pilpres.

Oleh karena itu, PDIP tidak akan menyia-nyiakan keunggulan ini dengan terburu-buru mengusung paslon sebelum partai politik yang lain memutuskan calon presidennya.

"Jadi, kami tenang, sangat tenang. Tidak mau dengar suara bising dari luar," ujarnya. 

Elektabilitas Poltracking

Ganjar Pranowo 18,2 persen

Prabowo Subianto 17,1 persen

Anies Baswedan 10,2 persen 


×