Petugas memindahkan bantuan logistik, makanan dan obat-obatan ke dalam pesawat jenis ATR 72 - 500 Pelita Air Service di Bandara Pertamina Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (2/10). PT Pertamina mengirimkan bantuan kemanusian untuk korban gempa | Republika/Mahmud Muhyidin
25 Oct 2021, 08:48 WIB

Pelita Air Tunggu Izin Terbang

Pemerintah menyiapkan Pelita Air untuk menggantikan Garuda Indonesia.

JAKARTA  — Anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang penerbangan, PT Pelita Air Service siap masuk ke penerbangan komersial berjadwal. Saat ini manajemen Pelita Air sedang mengurus kelengkapan syarat agar bisa kembali mengudara membawa penumpang baik domestik maupun internasional seperti maskapai komersial lainnya.

Direktur Utama Pelita Air Albert Burhan menjelaskan, Pelita Air memang saat ini saja masuk dalam penerbangan komersial berjadwal. Ia mengatakan, Pelita Air sempat ikut meramaikan jadwal penerbangan domestik pada 2000.

Namun sayang, Pelita Air kurang sukses dalam penerbangan komersial sejak 2005. Alhasil, Pelita Air fokus ke segmen penerbangan logistik, charity ataupun charter.

"Pelita Air memang berniat akan masuk penerbangan komersial berjadwal. Dulu memang kurang berhasil karena banyak faktor,” kata Albert saat dihubungi Republika di Jakarta, Ahad (24/10).

Terkait

Albert melihat saat ini peluang Pelita Air masuk dalam penerbangan komersial berjadwal sangat besar. Hal ini dilihat dari banyak maskapai penerbangan domestik yang mengalami kesulitan keuangan karena dihantam pandemi Covid-19. "Sekarang Pelita Air melihat ada peluang di sektor ini saat banyak airline domestik saat ini mengalami kesulitan keuangan karena pandemi," kata Albert.

Meski tak memerinci, Albert mengatakan, Pelita Air juga mempersiapkan berbagai strategi untuk bisa ikut bersaing dengan airlaine domestik lainnya yang sudah lebih dulu ada. "Kami mohon doanya agar kami bisa bersaing dengan airline yang sudah lebih dulu masuk dan memang sudah besar," ujar Albert.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto membenarkan saat ini Pelita Air sedang mengurus sejumlah izin terbang untuk bisa mendapatkan slot penerbangan berjadwal.

"Pelita Air sebenarnya sudah memegang Setifikat Standart Angud Niaga Berjadwal (SS AUNB). Namun, untuk bisa terbang lagi membawa penumpang seperti maskapai lain perlu ada izin AOC. Saat ini masih dalam proses untuk AOC tersebut," kata Novie kepada Republika.

Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membenarkan rencana untuk menyiapkan Pelita Air sebagai maskapai berjadwal nasional menggantikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Langkah ini untuk mengantisipasi apabila restrukturisasi dan negosiasi yang sedang dijalani oleh Garuda tak berjalan mulus.

’"Kalau mentok ya kita tutup, tidak mungkin kita berikan penyertaan modal negara karena nilai utangnya terlalu besar,’" kata Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wirjoatmodjo.

Menurut pria yang akrab disapa Tiko itu, progres negosiasi dan restrukturisasi utang Garuda dilakukan dengan seluruh lender, lessor pesawat, hingga pemegang sukuk global, melibatkan tiga konsultan yang ditunjuk Kementerian BUMN.

Meskipun demikian, negosiasi dengan kreditur dan lessor masih alot dan membutuhkan waktu yang panjang. Salah satu alasannya, pesawat yang digunakan Garuda Indonesia dimiliki puluhan lessor.

Tiko menilai, opsi penutupan Garuda tetap terbuka meski berstatus sebagai maskapai flag carrier. Alasannya, saat ini sudah lazim sebuah negara tidak memiliki maskapai yang melayani penerbangan internasional.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Pelita Air Service (pelita.air)

Tiko pun beralasan meskipun Garuda bisa diselamatkan, nyaris mustahil emiten berkode saham GIAA itu bisa melayani lagi penerbangan jarak jauh, misalnya ke Eropa. Karena itu, untuk melayani penerbangan internasional, maskapai asing akan digandeng sebagai partner maskapai domestik.

Pelita Air merupakan anak usaha dari Pertamina. Pelita Air Service berdiri pada tahun 1970 atau saat Indonesia mengalami booming minyak pada era Orde Baru.

Meraup keuntungan besar dari lonjakan produksi dan kenaikan harga minyak dunia, kala itu Pertamina mendirikan banyak anak perusahaan, salah satunya Pelita Air Service. PAS dibentuk untuk menggantikan divisi udara Pertamina, yakni Pertamina Air Service.

Hal ini mengingat kebutuhan pengangkutan udara ke daerah terpencil sangat tinggi, terutama di kawasan kantong-kantong tambang minyak BUMN tersebut dari Sabang sampai Merauke.

Selain melayani penerbangan para pejabat dan pegawai Pertamina, Pelita Air melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka penerbangan charter untuk transmigrasi, pemadam kebakaran, pengungsi, pelang merah, kargo, pengamatan tumpahan minyak, hingga foto udara.

Lini bisnis Pelita Air terus meluas. Kini, bisnisnya juga meliputi layanan penerbangan VVIP, evakuasi medis, survei udara, penyewaan helikopter, hingga pengibaran spanduk dari udara.

Pelita Air juga sempat menjajal bisnis penerbangan berjadwal sejak 2000. Kemudian bisnis penerbangan reguler ini ditutup pada 2005 dengan alasan perusahaan ingin fokus pada penerbangan charter.

Sebagai salah satu perusahaan operator pesawat charter terbesar di Indonesia, Pelita Air bahkan memiliki bandara sendiri, yakni Bandara Pondok Cabe yang berlokasi di Tangerang Selatan.

Pelita Air juga memiliki anak usaha, PT Indopelita Aircraft Services, yang memiliki kemampuan dalam melakukan perawatan dan perbaikan pekerjaan dari lapangan udara milik sendiri di Pondok Cabe yang terdiri atas hangar, gudang, dan landasan sepanjang 2.000 meter persegi.

Pelita Air Service mengoperasikan beberapa armada antara lain pesawat rotary wing dan fixed wing untuk melewati seluruh medan Indonesia. Di antaranya, ATR 42-500, ATR 72-500, CASA 212-200, AT 802, Bell 412 EP, Bolkow NBO-105, Sikorsky S76 C++, Sikorsky S76-A, dan Bell 430.


×