Model memperagakan busana muslim pada malam puncak pergelaran Fashion Show Aceh Sharia Festival 2021 secara virtual di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/8/2021). Kegiatan Aceh Sharia Festival 2021 yang digelar pemerintah Aceh bekerja sama dengan Bank Indonesia | ANTARA FOTO/Ampelsa/wsj.
25 Oct 2021, 08:25 WIB

RI Jaring Kolaborasi Industri Halal dalam Expo 2020 Dubai

Pemerintah RI disarankan lebih fokus pada industri fesyen Muslim dalam pengembangan produk halal.

JAKARTA -- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, Expo 2020 Dubai merupakan ajang strategis bagi sektor industri di Tanah Air untuk berkolaborasi dengan para pelaku bisnis internasional. Dalam pameran kelas dunia itu, Kemenperin mengungkapkan, terdapat tiga sektor terkait industri manufaktur dengan peluang kolaborasi yang terbuka lebar, yaitu penerapan industri 4.0, pengembangan kawasan industri, dan optimalisasi peluang industri halal.

“Masih terdapat peluang besar serta ruang luas untuk bekerja sama dengan para investor dalam mengembangkan sektor industri melalui pendekatan tiga kebijakan tersebut,” ujar Agus, akhir pekan lalu.

Agus mengatakan, Kemenperin fokus pada pengembangan industri halal di Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Indonesia perlu mengambil peran dalam industri yang berkembang pesat ini.

“Apalagi, negara-negara yang memakai dan memproduksi produk halal terbesar tidak hanya didominasi oleh negara Muslim. Contohnya, seperti Thailand yang memiliki pusat riset halal mutakhir serta Brasil yang merupakan produsen terbesar makanan dan minuman halal,” tutur Agus.

Terkait

Sementara itu, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) Sapta Nirwandar menyarankan, agar pemerintah lebih fokus pada industri fashion Muslim dalam pengembangan produk halal. Menurutnya, industri fashion Indonesia saat ini menjadi sektor yang paling berkembang dalam industri produk halal.

"Kita perlu fokus pada modest fashion karena ini yang paling kompetitif," kata Sapta.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki desainer yang cukup maju dalam bidang busana Muslim. Akan tetapi, penjenamaan produk fashion Muslim masih kurang baik sehingga belum dikenal luas dalam level internasional.

Sapta pun menyarankan agar Indonesia bisa lebih gencar dalam berkolaborasi dengan jenama yang sudah lebih mendunia untuk bisa dikenal oleh konsumen global. "Mungkin kita harus co-branding dengan yang lain, tapi tentu untuk produk yang punya kualitas dan desain bagus," kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Perindustrian RI (kemenperin_ri)

 

IHLC mencatat, berdasarkan laporan State of The Global Islamic Economy Report 2020/2021, nilai perdagangan fashion Muslim secara global mencapai 277 miliar dolar AS. Pada 2024, nilai tersebut diperkirakan akan naik menjadi 311 miliar dolar AS atau tumbuh rata-rata 2,4 persen per tahun.

Saat ini Indonesia menjadi negara kelima terbesar yang menjadi konsumen fashion Muslim dengan nilai 16 miliar dolar AS. Akan tetapi, Indonesia belum masuk dalam lima besar eksportir terbesar fashion Muslim.

"Kita konsumen besar, tapi belum menjadi eksportir besar. Kita bahkan kalah dengan Bangladesh yang menempati posisi kelima terbesar," ujar dia.


×