Gambar Masjid Jami pertama kali didirikan tersimpan di arsip milik pengurus Masjid Jami, Kota Jayapura, Papua, Rabu (13/10). Masjid Jami tersebut merupakan masjid tertua di Jayapura yang didirikan tahun 1943 oleh umat muslim dari Ternate TIdora, Sulawesi | Republika/Thoudy Badai
24 Oct 2021, 09:30 WIB

Cerita Sejarah dari Masjid Jayapura

Masjid Jayapura menjadi saksi bisu berbagai peristiwa historis di Tanah Papua.

Gedung bertingkat tiga itu sepintas lalu tidak tampak seperti masjid. Bagian atapnya cenderung menandakan sebuah bangunan biasa, tanpa adanya kubah atau pucuk bulan-sabit dan bintang. Namun, Anda tidak hanya akan menjumpai tempat ibadah umat Islam tatkala memasukinya. Di sana, tersimpan pula jejak-jejak sejarah awal mula syiar agama ini di Papua.

Nama bangunan itu ialah Masjid Jami’ Kota Jayapura. Tidak ada sebutan tambahan, semisal al-Hidayah, al-Muhajirin, atau al-Ikhlas. Masyarakat setempat pun lebih sering menyebutnya Masjid Jamik.

Berdasarkan catatan riwayatnya, masjid itu dibangun pada tahun 1943 oleh sekelompok buruh pelabuhan Holandia—nama Jayapura pada masa silam. Mereka memfungsikan bangunan tersebut sebagai lokasi ibadah berjamaah. Kini, Masjid Jami’ Kota Jayapura telah menapaki usia 78 tahun.

Menurut Ahmad Kholiq, masjid tersebut adalah yang tertua di seluruh Jayapura. Sekretaris Takmir masjid itu menambahkan, para perintis tempat ibadah ini merupakan imigran dari banyak daerah, utamanya Kepulauan Maluku. Di antara mereka, ada yang berasal dari Ternate, Tidore, Halmahera, Waigeo, Buton, dan Salawati.

Terkait

Konstruksi awal Masjid Jami’ ialah sebuah bangunan seluas 12x12 meter persegi di atas lahan 1.440 meter persegi. “Awalnya, masjid ini belum dipakai untuk shalat Jumat karena jamaahnya masih sedikit. Biasanya, para pedagang dan buruh yang singgah saja di Kota Jayapura. Baru sekitar 1990-an, ini dipakai buat shalat Jumat,” kata Ahmad Kholiq menceritakan kepada Republika beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, Masjid Jami’ menjadi saksi sejarah dari berbagai peristiwa, termasuk lika-liku politik di Tanah Papua. Sebagai contoh, pada 1963 terjadilah prosesi penyerahan kekuasaan atas wilayah Irian Barat—nama Papua saat itu. Yakni, dari Kerajaan Belanda ke pemerintah Republik Indonesia.

Ahmad menuturkan, waktu itu beberapa pasukan Sekutu berasal dari bangsa-bangsa Asia Selatan, seperti India atau Pakistan. Mereka yang sejak dari tanah airnya dekat dengan kultur Muslim terkesan dengan adanya Masjid Jami’. Bahkan, di antara mereka kemudian singgah dan ikut merawat beberapa bagian dari masjid tersebut.

Bangunan bersejarah ini pun menyimpan cerita humanis. Sejumlah tentara Sekutu yang berdarah Pakistan hendak meninggalkan Papua. Mereka melihat, keadaan masjid itu sempat tidak terawat. Bahkan, beberapa warga setempat sempat menjadikan lingkungan sekitarnya sebuah bar.

Namun, lanjut Ahmad, seorang pendeta di daerah itu kemudian berinisiatif. Pendeta bernama Separai itu meminta warga untuk menutup bar di dekat Masjid Jami’. Dengan begitu, lingkungan tersebut kembali kondusif untuk menjadi lokasi tempat ibadah umat Islam.

Masih pada tahun 1963, Masjid Jami' diambil alih oleh Kodam XVII/Cenderawasih. Otoritas setempat saat itu menunjuk satu pegawai Kementerian Agama RI, Haji Mansyur D Rahmad, untuk mengelola masjid tersebut. Masa baktinya berlangsung antara tahun 1963 dan 1973.

photo
Masjid Jayapura menjadi saksi bisu berbagai peristiwa historis di Tanah Papua. - (M Ikhwanuddin/Republika)

Setelah kepemimpinan Mansyur, masjid sempat direnovasi pada tahun 1974 dan 1980. Kira-kira pada 1999, Masjid Jami’ Kota Jayapura lalu dipugar total. Perkembangan terkini, sudah ada berbagai fasilitas edukasi di sekitarnya, termasuk tiga jenjang sekolah.

“Di sini, sejak 2007 ada sekolah juga, yakni SD, MI (Madrasah Ibtidaiyah), dan SMP. Masjid yang sebelumnya di bawah letaknya, sekarang berada di atas untuk menghindari orang mabuk nongkrong di sini,” kata Ahmad Kholiq.

Selayaknya tempat ibadah, Masjid Jami' kota Jayapura dibuka untuk umum. Akan tetapi, perlu energi ekstra untuk mencapai ruangan utama yang berada di lantai tiga gedung tersebut.

Ruangan utama masjid luasnya kurang-lebih seperti dua lapangan bulutangkis. Jamaah wanita disediakan tempat di sebelah belakang kiri. Untuk mengusir rasa gerah, pengurus masjid menyediakan empat unit pendingin udara (air conditioner/AC) yang hawa sejuknya bisa menyebar ke seluruh sisi ruangan.

Sementara, tempat wudhu berada di samping kiri ruangan utama. Toiletnya cukup bersih sehingga nyaman digunakan. Air yang mengalir dari pipa-pipa terasa agak payau, tetapi masih tampak jernih.

photo
Masjid Jayapura menjadi saksi bisu berbagai peristiwa historis di Tanah Papua. - (Thoudy Badai/Republika)

Selain dipakai salat, masjid ini juga biasa dipakai warga dan anak-anak sekitar untuk mengaji. Pengelola masjid menyatakan, warga setempat menerima dengan baik keberadaan tempat ibadah umat Islam. Bahkan, beberapa dari mereka memutuskan untuk menjadi mualaf. "Mualaf ada di sini, tapi memang tidak banyak," ucapnya.

Selama penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021, Ahmad menyebut jema'ah bertambah meski tidak signifikan. Menurutnya, pendatang lebih memilih salat di masjid raya atau tempat lain yang lebih dekat.

Di satu sisi, Masjid Jami' Kota Jayapura memerlukan perhatian khusus dari pemerintah daerah dan pusat agar menjadi salah satu cagar budaya di provinsi Papua. Dengan nilai sejarah panjang, bangunan ini layak mendapat pengakuan lebih baik.

Sebab, Ahmad mengaku belum ada donatur yang ingin membantu pemeliharaan masjid. Selama ini, katanya, hanya mengandalkan sumbangsih warga sekitar untuk membiayai operasional.

"Kalau ada dana lebih, setiap jum'at kami buat nasi kotak untuk warga sekitar. Untuk biaya listrik kurang lebih Rp400 ribu, ada AC tapi dipakai hari Jumat saja," kata Ahmad.

photo
Jadwal waktu shalat Indonesia bagian timur terpasang di Masjdi Jami Kota Jayapura, Papua, Rabu (13/10/2021). Masjid Jami tersebut merupakan masjid tertua di Jayapura yang didirikan pada 1943 oleh umat Islam dari Ternate Tidora, Sulawesi Tenggara, Halmahera dan sekitarnya yang bekerja sebagi buruh pelabuhan pada zaman Belanda. Masjid tersebut telah mengalami renovasi sebanyak tiga kali mulai dari tahun 1974, 1999, dan 2007. - (Republika/Thoudy Badai)


×