Cover Dialog Jumat edisi 22 Oktober 2021. Lindungi Anak Kita. | Dialog Jumat/Republika
24 Oct 2021, 06:17 WIB

Promosi Ala Prostitusi

Pornografi dengan orientasi seksual menyimpang juga kerap meramaikan lini masa media sosial.

Propaganda LGBT kian meresahkan. Aksi mereka di media sosial seolah tak bisa terbendungkan. Akun-akun pornografi bernada gay yang bertebaran bukan hanya berisi propaganda tetapi juga mengandung unsur prostitusi. Celakanya, mereka mulai mengintai usia bangku sekolah. Saatnya merapatkan barisan untuk membentengi keluarga dari pengaruh negatif mereka.

Lindungi Anak Kita

Propaganda gerakan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) semakin marak di media sosial. Pantauan Republika, konten LGBT bernada hiburan sangat mudah muncul di aplikasi seperti Tiktok maupun Instagram.

Akun-akun  pasangan gay, misalnya, mudah ditemukan muncul di halaman muka sejumlah aplikasi media sosial. Tidak hanya itu, pornografi dengan orientasi seksual menyimpang juga kerap meramaikan lini masa.

Terkait

Pakar media sosial dan juga Founder Aplikasi Drone Emprit, Ismail Fahmi, membeberkan data yang mengejutkan tentang konten negatif tersebut di media sosial. Lewat penelusurannya pada 10 September hingga 9 Oktober terhadap transmisi konten negatif komunitas gay saja, ada 7.751 percakapan di Twitter tentang gay. “Ini spesifik pada gay saja. Karena kalau ditelusuri lebih dalam tentang yang lain-lainnya (LBTQ) pasti akan sangat panjang,” kata Fahmi.

Dia menjelaskan, transmisi yang kaitannya dengan gay itu bersifat seperti promosi. Praktiknya bahkan sudah menjurus ke arah pornografi yang spesifikasinya untuk gay. Sejumlah hashtag tentang gay pun, kata dia, dengan sangat mudah ditemui yang menjangkau anak-anak usia sekolah mulai usia  SMP hingga SMA.

Dari 7.751 percakapan di Twitter, dia menyebut jumlah retweet yang paling banyak didapat ada di tanggal 3 Oktober dengan jumlah 400 retweet dan dengan jumlah likes yang banyak. Transmisi konten gay tersebut dinilai Fahmi tak hanya berupa konten yang bersifat kampanye tapi juga praktik, yakni terdapat unsur promosi yang mengarah pada prostitusi gay.

“Kalau di konten pornografi umum, ada istilah open BO (body order/prostitusi). Nah, di transmisi konten gay ini juga ada open BO gay-nya,” kata dia.

Dia menyebut, peta penyebaran transmisi konten negatif gay itu cukup besar. Dalam praktiknya, mereka menggunakan robot dan aplikasi untuk melakukan promosi prostitusi secara daring.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

“Sekarang saya bandingkan dengan rokok, (rokok) itu netizen umum. Kata kuncinya rokok, ini kelompoknya beda, maka akun yang umum ini nggak banyak mengakses pornografi, tidak banyak. Sedangkan klaster gay yang mengarah ke sana (yang melakukan promosi) sangat banyak, padahal klaster umum dan gay ini jumlahnya sangat besar,” kata dia.

Jika dilihat dari sebarannya di Indonesia, Fahmi menyebutkan bahwa transmisi konten negatif gay ini paling banyak didominasi di DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan seterusnya. Karena itu, dia menilai, konten negatif gay ini penyebarannya cukup lumayan di Indonesia.

“Saya simpulkan, di samping kampanye di medsos itu ada juga praktik. Dibuka, dan semua itu bisa diakses oleh siapapun,” ujar Fahmi.

 
Saya simpulkan, di samping kampanye di medsos itu ada juga praktik. Dibuka, dan semua itu bisa diakses oleh siapapun
ISMAIL FAHMI, Pakar Media Sosial
 

Komisioner Partisipasi Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra menyampaikan, apabila terdapat konten-konten propaganda LGBT yang bermuatan negatif (pornografi, terorisme, dan juga perjudian), pihaknya  mendesak Kominfo untuk melakukan takedown konten-konten tersebut.

Apalagi, kata dia, nilai-nilai Pancasila telah memastikan agar anak dan generasi masa depan dapat dengan layak mendapatkan hak informasi yang mereka terima. “Maka ini peran negara yang harus memastikan itu. Jangan sampai hal-hal seperti ini layak ditonton atau dikonsumsi oleh anak-anak kita,” kata Jasra saat dihubungi Republika, Rabu (20/10).

photo
Pegawai Kemkominfo memperlihatkan gambar GIF yang ada di aplikasi Whatsapp di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (6/11). - (Republika/Putra M. Akbar)

Dia mengakui, propaganda LGBT saat ini sangat marak. Dalam konteks Indonesia, kata dia, hal ini harus menjadi perhatian khusus setiap elemen termasuk pemerintah. Penelusuran terhadap konten-konten negatif dinilai perlu dilakukan sesuai dengan peraturan undang-undang bahwa perilaku menyimpang yang bisa memberikan dampak negatif kepada anak harus dihentikan.

Tidak hanya lewat media sosial, propaganda LGBT pun menyebar melalui buku. Mereka menyediakan buku-buku parenting hingga religi yang menjustifikasi gerakannya di internet. Buku-buku tersebut pun bisa diakses oleh masyarakat.

Untuk itu, Ketua Ikatan Indonesia (Ikapi) Jakarta Hikmat Kurnia menjelaskan, pada era keberlimpahan informasi dibutuhkan kemampuan untuk menyeleksi informasi, termasuk produk-produk penerbitan seperti buku. Untuk buku anak-anak, kata dia, dibutuhkan kepedulian dari orang tua untuk menyeleksi mana buku yang layak atau tidak untuk dibaca oleh anak.

“Orang tua harus punya kesadaran, kemampuan, dan pengetahuan yang memadai dalam menyeleksi bacaan anak, terutama bagi anak-anak usia dini. Untuk anak-anak yang lebih besar, orang tua harus mengajarkan pada anak-anaknya tentang pengetahuan yang baik dan tidak baik,” kata Hikmat kepada Republika, Rabu (20/10).

 
Orang tua harus punya kesadaran, kemampuan, dan pengetahuan yang memadai dalam menyeleksi bacaan anak, terutama bagi anak-anak usia dini.
HIKMAT KURNIA, Ketua Ikapi Jakarta
 

Dia menjelaskan, orang tua harus mampu membiasakan berdialog dengan anak-anaknya sehingga ketika ada sesuatu yang menyimpang, maka orang tua bisa memberikan peringatan. Di sisi lain dia menekankan, Ikapi sebagai sebuah organisasi penerbit buku berharap kepada para anggota untuk menerbitkan buku yang mampu mencerdaskan masyarakat.

Menurut dia, Ikapi juga mengimbau anggotanya untuk tidak menerbitkan buku yang bermuatan konten negatif. Apalagi buku-buku yang bertentangan dengan norma agama dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

“Sedangkan untuk konten buku sejatinya menjadi tanggung jawab penulis dan penerbitnya,” kata Hikmat.

Mengenai transmisi konten LGBT baik media sosial dan penerbitan, aktivis gay Hartoyo enggan memberikan komentarnya. Dia pun tak mengetahui perihal adanya buku panduan parenting yang diilustrasikan dengan cerita bergambar bermuatan LGBT dan disebarluaskan di dunia maya.

“Saya tidak tahu soal tersebut,” kata dia.


×