Petugas mengawasi aktivitas bongkar muat peti kemas saat pelepasan ekspor komoditas pertanian serentak di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/8/2021). Pelepasan ekspor komoditas pertanian yang mengangkat tema | ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
23 Oct 2021, 09:26 WIB

Tren Pemulihan Ekonomi Berproses

Nilai impor Indonesia pada September 2021 tercatat 16,23 miliar dolar AS.

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, tren pemulihan ekonomi Indonesia kembali berlanjut setelah gelombang kedua pandemi Covid-19. Hal ini tergambar dari neraca perdagangan September 2021 yang kembali mencatatkan surplus 4,37 miliar dolar AS.

Surplus tersebut ditopang oleh surplus neraca nonmigas sebesar 5,30 miliar dolar AS dan defisit neraca migas sebesar 930 juta dolar AS. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan, surplus September 2021 melanjutkan tren surplus yang terjadi sejak Mei 2020, tetapi berada di bawah surplus bulan sebelumnya yang mencapai 4,75 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, surplus perdagangan periode Januari-September 2021 mencapai 25,07 miliar dolar AS yang terdiri atas surplus neraca nonmigas 33,48 miliar dolar AS dan defisit migas 8,40 miliar dolar AS.

“Optimisme peningkatan ekspor ditunjukkan adanya peningkatan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur September 2021 yang berada pada posisi 52,2. Posisi ini kembali memasuki periode ekspansif setelah selama dua bulan sebelumnya mengalami kontraksi,” kata Lutfi dalam pernyataan resminya, Rabu (20/12).

Terkait

Lutfi mengungkapkan, beberapa negara mitra dagang Indonesia penyumbang surplus perdagangan terbesar, di antaranya Amerika Serikat (AS), India, dan Filipina dengan jumlah mencapai 2,68 miliar dolar AS. Sementara itu, Australia, Thailand, dan Ukraina menjadi negara mitra penyumbang defisit perdagangan terbesar dengan jumlah 0,91 miliar dolar AS.

Kinerja ekspor pada September 2021 tercatat sebesar 20,60 miliar dolar AS. Nilai ini turun dibandingkan Agustus yang tercatat sebesar 21,43 miliar dolar AS atau turun 3,84 persen dari bulan sebelumnya. Penurunan pada September 2021 didorong melemahnya ekspor migas sebesar 12,56 persen dan nonmigas sebesar 3,38 persen. Namun, nilai tersebut naik 47,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (bps_statistics)

 

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada September 2021 tercatat sebesar 16,23 miliar dolar AS. Nilai ini turun 2,67 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm) namun naik 40,31 persen dibandingkan tahun sebelumnya (yoy). Penurunan impor didorong impor migas yang turun 8,9 persen (mtm) dan nonmigas yang turun 1,80 persen (mtm).

Menurut Lutfi, meskipun turun dibandingkan Agustus 2021, penurunan tersebut masih relatif kecil dan tidak mencerminkan penurunan permintaan terhadap industri di dalam negeri. Sebab, struktur impor Indonesia selama September 2021 masih didominasi bahan baku/penolong sebesar 74,51 persen yang turun 2,27 persen.

Sedangkan pangsa impor barang modal tetap sebesar 14,47 persen dan nilainya turun 2,67 persen (mtm). Pangsa impor barang konsumsi tercatat sebesar 11,02 persen dan nilainya turun 5,28 persen (mtm).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Perdagangan RI (kemendag)

Seiring dengan peningkatan surplus neraca dagang, Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) per Oktober 2021 menjadi 0,0 persen hingga 0,8 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, CAD diperkirakan akan tetap rendah dari perkiraan sebelumnya, baik tahun ini maupun 2022.

"Defisit transaksi berjalan diperkirakan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya menjadi di kisaran nol persen hingga 0,8 persen dari PDB pada 2021 dan akan tetap rendah pada 2022 sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia," kata Perry.


×