Petugas kesehatan melakukan tes usap antigen ke pelajar di SDN 015 Kresna, Cicendo, Kota Bandung, Jumat (15/10/2021). Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kesehatan Kota Bandung dan Dinas Pendidikan Kota Bandung melakukan tes usap antigen secara acak bag | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Nasional

23 Oct 2021, 03:45 WIB

Siswa dan Guru Positif Terus Bertambah

PTM akan dihentikan sementara jika kasus positif di kalangan siswa dan guru terus meningkat.

BANDUNG – Penularan Covid-19 dari klaster pembelajaran tatap muka (PTM) masih terjadi. Siswa dan guru di Kota Bandung, Jawa Barat, yang dinyatakan positif Covid-19 terus bertambah dari 54 orang menjadi 77 orang. Namun, jumlah terkonfirmasi positif ini kurang dari 5 persen dari total orang yang diperiksa sehingga PTM terus dilanjutkan.

“Untuk surveilans PTM sampai tanggal 21 Oktober diperiksa 3.545 (orang), positif 77 atau 2,2 persen,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Ahyani Raksanagara, saat dikonfirmasi, Jumat (22/10).

Ahyani mengatakan, seluruh siswa yang dinyatakan positif Covid-19 berasal dari berbagai jenjang, yaitu SD, SMP, dan SMA. Mayoritas yang terpapar didominasi oleh siswa. Terkait dengan adanya sekolah yang menghentikan sementara PTM karena didapati positivity rate di atas 5 persen, aktivitas belajar di sekolah dihentikan sementara hingga selesai dilakukan pelacakan.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung menyebut pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di 12 sekolah dihentikan sementara. Penghentian dilakukan mengingat positivity rate dari hasil tes PCR acak kepada siswa dan guru melebihi 5 persen.

photo
Petugas kesehatan melakukan tes usap antigen ke pelajar di SDN 015 Kresna, Cicendo, Kota Bandung, Jumat (15/10/2021). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

12 sekolah yang dihentikan aktivitas PTM terbatas yaitu SMK 5, SMP Pelita, SD Yas, SD Ibnu Taimiyah, SLB Sumber Sari, SMK Buana Karya, SMKN 6, SD Leuwipanjang, SD Pabaki, SD 262 Panyileukan. SD Cihampelas, SMA Pasundan 2.

Sekretaris Disdik Kota Bandung Cucu Saputra menuturkan, tes PCR sudah dilakukan kepada 67 sekolah. Hasil dari tes PCR tersebut, 37 sekolah nol kasus positif Covid-19, 18 sekolah hasil tes PCR berada di angka 1 hingga 5 persen sehingga rombongan belajar yang terpapar dilakukan pemeriksaan dan karantina. Sedangkan rombongan belajar yang lain masih bisa melaksanakan kegiatan belajar tatap muka.

Sedangkan positivity rate dari hasil tes PCR di 12 sekolah menunjukkan berada di angka 5 persen. Pemkot Bandung pun memberhentikan sementara PTM di sekolah tersebut hingga selesai proses tracing.

Cucu menambahkan, Disdik Kota Bandung telah mengeluarkan surat edaran tentang tindak lanjut hasil surveilans kepada seluruh sekolah yang menggelar PTM terbatas. Bagi sekolah yang positivity rate 0 hingga 1 persen, dilakukan isolasi mandiri kepada yang terpapar, sedangkan PTM tetap berjalan.

Sementara di angka 1 hingga 5 persen, dilakukan isolasi mandiri kepada yang terpapar, mengetes semua rombongan belajar dan karantina semua anggota rombongan belajar. “Bagi satuan pendidikan yang persentase hasil survailens di atas 5 persen dinyatakan positif untuk menghentikan sementara pelaksanaan PTMT,” katanya.

Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna mengatakan, hingga saat ini tidak ada rencana menghentikan seluruh kegiatan PTM di Kota Kembang. Seluruh kegiatan PTM di Kota Bandung akan dihentikan sementara jika kasus positif Covid-19 di kalangan siswa dan guru terus meningkat serta memburuk.

“Kita lihat kalau tren bantu misal walau tidak diharapkan memburuk bisa saja kemungkinan dihentikan lagi dibalikkan ke PJJ (pembelajaran jarak jauh), bisa saja tapi jangan berandai-andai,” ujar Ema.

Sementara Pemkot Depok, Jawa Barat, tetap melanjutkan pelaksanaan PTM terbatas meski ditemukan pelajar dan santri yang terkonfirmasi positif Covid-19. “Walaupun ada temuan kasus satu siswa positif Covid-19 di SMPN 10, dan 46 santri di pesantren terkonfirmasi positif, PTMT akan terus dilakukan,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana.

photo
Siswa mengikuti tes Swab antigen di SD Negeri Samirono, Yogyakarta, Kamis (21/10/2021). Tes Swab antigen untuk guru dan murid ini untuk mengetahui kesehatan siswa dan guru saat uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Tes ini diadakan acak di beberapa sekolah di Yogyakarta. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Menurut Dadang, siswa SMPN 10 Depok tersebut tidak terpapar dari lingkungan sekolah, melainkan dari lingkungan rumah. Hingga saat ini, sekolah yang kegiatan PTMT-nya dihentikan sementara hanya di SMPN 10. Sedangkan para santri terkonfirmasi positif Covid-19 di Pondok Pesantren Babussalam, Mekarsari, Cimanggis, Kota Depok, kini menjalani isolasi di pesantrennya.

“Pihak pesantren lakukan isolasi dan pembelajaran di pesantren tetap berlangsung. Kami tetap memantau perkembangan para santri yang diisolasi,” ujar Dadang.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), menyebut penilaian perlu ditutup atau tidaknya sekolah apabila ditemukan kasus Covid-19 pada pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dilakukan oleh Gugus Tugas Covid-19 setempat. Apabila hanya ditemukan satu kasus dan yang terjangkit sudah diisolasi, sekolah masih bisa terus melanjutkan PTM terbatas.

"Kalau hanya ada satu kasus dan yang bersangkutan sudah di isolasi bisa jalan terus, Gugus Covid-19 setempat yang eksaminasi," ungkap Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, Jumeri, Kamis (21/10).

Beberapa waktu lalu, Kemendikbudristek menyatakan siap berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk penerapan strategi pengendalian Covid-19 yang lebih aktif. Upaya pertama yang dilakukan adalah memastikan pelaksanaan tes acak di satuan pendidikan. Kemudian, integrasi aplikasi PeduliLindungi pada satuan pendidikan untuk menghasilkan data yang valid.

“Kami sangat mendukung program ini yang secara proaktif akan menemukan dan secara statistik akan mencapai level akurasi yang tinggi untuk menunjukkan apakah kita patut khawatir apa tidak,” disampaikan Mendikbudristek, Nadiem Makarim, di Jakarta, Senin (27/9).

Dengan adanya data pengawasan yang lebih baik, Nadiem menegaskan akan untuk menutup sekolah-sekolah penyelenggara PTM terbatas dengan kasus positivity rate di atas lima persen. Secara klinis dan secara statistik, kata dia, itu akan jauh lebih valid, lebih jelas sasarannya, dan tidak merugikan sekolah yang bisa menjaga disiplin protokol kesehatan.


×