Model memperagakan busana muslim pada malam puncak pergelaran Fashion Show Aceh Sharia Festival 2021 secara virtual di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/8/2021). Kegiatan Aceh Sharia Festival 2021 yang digelar pemerintah Aceh bekerja sama dengan Bank Indonesia | ANTARA FOTO/Ampelsa/wsj.
23 Oct 2021, 03:45 WIB

Hari Santri dan Ekonomi Syariah

Jokowi menilai perkembangan ekonomi syariah terus meningkat.

OLEH M NURSYAMSI, DESSY SUCIATI SAPUTRI

Dalam kesempatan peringatan Hari Santri kemarin, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Erick Thohir ikut menyampaikan capaian perekonomian syariah Indonesia. Perkembangan sistem perekonomian berbasis prinsip-prinsip Islami itu disebut kian menggembirakan belakangan.

Erick menuturkan, MES terus berkolaborasi dengan sejumlah pihak, mulai dari Kementerian Agama, Kementerian Investasi, BUMN, dan organisasi massa, dalam mengakselerasi peningkatan sektor industri syariah.

Pihaknya dan Kemenag, misalnya, telah menginisiasi Islamic Finance Summit 2021 bertema Driving The Growth of The Halal Industry in The New Normal Economy. “Karena memang kita sebagai negara Muslim terbesar ingin juga industri halal dan juga ekonomi syariah menjadi pemain yang bisa menyeimbangkan ekonomi," ujar Erick saat peringatan Hari Santri Nasional dan Peluncuran Logo Baru MES, di Jakarta, Jumat (22/10).

Terkait

Erick mengatakan, pengembangan ekonomi syariah mulai memperlihatkan hasil dengan salah satu indikasinya pertumbuhan ekonomi syariah yang dibawa Bank Syariah Indonesia (BSI) lebih tinggi dibandingkan bank Himbara. "Ini merupakan kesempatan yang luar biasa, bila berkenan Bapak Presiden, kami juga ingin mengajukan terobosan sistem bagi hasil yang selama ini dianggap lebih mahal sedikit daripada bunganya," ucap Erick.

MES bersama Kementerian Investasi, lanjut Erick, juga telah menberikan sertifikasi halal gratis bagi UMKM sejalan dengan sistem OSS yang sedang dikembangkan Kementerian Investasi. Erick menambahkan, MES juga bekerja sama dengan Pertamina dalam program Pertashop untuk pondok pesantren.

Ia menyebut, 2.000 dari total 10 ribu Pertashop diberikan kepada pondok pesantren agar menjadi bagian keseimbangan ekonomi. Erick menyebut program Pertashop telah diberikan kepada 323 pesantren sejauh ini.

"Untuk bursa, kemarin kita berinisiasi dengan meluncurkan indeks saham IDX MES BUMN ke-17 sebagai bagian menjaga BUMN yang sesuai dengan prinsip syariah, tentu seperti BSI salah satunya yang masuk ke dalam indeks tersebut," ungkap Erick.

Selain itu, ucap Erick, MES juga telah membuka beberapa cabang di luar negeri seperti Rusia, Maroko, Sudan, Singapura, Korea Selatan, Cina, dan Arab Saudi, untuk mendukung pengembangan produk secara internasional. Erick menargetkan cabang luar negeri semakin bertambah dengan menyasar ke wilayah Pakistan, Thailand, dan Brunei demi meningkatkan penetrasi pasar produk-produk Indonesia melalui diaspora yang ada di sana.

"Kami sepakat kolaborasi antara industri syariah bersama pemerintah, pesantren, dan santri ini sebuah keharusan karena kita tahu saat ini memang terdampak dan keseimbangan ekonomi harus terjaga, jangan sampai yang besar, makin besar yang kecil makin kecil," kata Erick.

photo
Menteri BUMN Erick Thohir meresmikan Pertashop di POnpes Nurul Qurán didampingi anggota Dewan Pertimbangan Presiden Habib Luthfi, Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa, Dirut Pertamina Nicke Widyawati dan beberapa pejabat lainnya, Ahad (11/4).. - (istimewa)

Menurut Erick, sejarah telah mencatat banyak santri yang kini sukses menjadi profesional maupun pejabat di pemerintahan. Dengan bekal wawasan dan spiritual yang dimiliki, kata Erick, santri adalah salah satu pilar utama yang mampu menggerakkan semakin bertumbuhnya ekonomi syariah nasional. Dia meyakini, kolaborasi dan sinergi antar-stakeholder itu mampu menjadi pondasi untuk menciptakan ekonomi syariah yang membumi serta inklusif. 

Pada kesempatan yang sama, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan, ekonomi syariah Indonesia saat ini telah berkembang pesat. Presiden memaparkan, berdasarkan data State of the Global Islamic Economy Report, pada 2018, ekonomi syariah Indonesia berada di peringkat 10 besar dunia.

Kemudian pada 2020, ekonomi syariah Indonesia sudah berada di peringkat empat dunia. “Naik, naik, naik terus,” ujar Jokowi.

Presiden pun menekankan agar Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harus menjadi pemain utama dalam ekonomi syariah dan industri halal di dunia. Indonesia, kata dia, harus menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah dunia.

Meskipun mengalami perkembangan yang cukup pesat, namun Jokowi meminta agar pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya tak berpuas diri. Menurut dia, perlu ada upaya sinergis antar pemangku kepentingan agar ekonomi syariah di Indonesia dapat tumbuh lebih pesat lagi.

“Dan itulah peran penting yang harus dimainkan oleh Masyarakat Ekonomi Syariah,” tambahnya.

Sebagai organisasi keumatan MES pun diharapkan bisa menjadi lokomotif pengembangan ekonomi syariah yang menyentuh ekonomi umat secara langsung, melahirkan lebih banyak wirausaha dari kalangan santri, dan menggerakkan perekonomian yang inklusif.

“Orientasi santri seharusnya bukan lagi mencari pekerjaan, tetapi sudah menciptakan kesempatan kerja bagi banyak orang, menebar manfaat seluas-luasnya bagi umat,” ujar dia. Selain itu, Jokowi mengingatkan semangat kewirausahaan yang mulai tumbuh harus diikuti dengan percepatan inklusi keuangan.

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin optimistis tahun 2021 menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia. "Saat ini ekonomi syariah tidak lagi sekadar menjadi pilihan bagi komunitas muslim saja, tetapi juga telah menjadi salah satu penopang kekuatan ekonomi nasional," ujar Wapres, Jumat (22/10).

Wapres menambahkan, hal ini didukung dengan kemajuan sektor industri produk halal. Industri produk halal ini juga terus memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional selama pandemi Covid-19 ini, sehingga potensi industri keuangan syariah nasional juga tak kalah besar.

Menurut laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020, Indonesia masuk lima besar dari 135 negara berdasarkan nilai asetnya yang mencapai tiga miliar dolar AS, di bawah Arab Saudi dengan 17 miliar dolar, Iran 14 miliar dolar, Malaysia 10 miliar dolar, dan Uni Emirat Arab tiga miliar dolar AS.

"Kita meyakini posisi Indonesia masih sangat mungkin untuk meningkat lagi, bahkan menjadi pemain kunci industri keuangan syariah dunia," kata Wapres.  


×