Perempuan tunawisma mendapatkan vaksin Covid-19 di Ahmedabad, India, Selasa (10/8/2021). | AP/Ajit Solanki
22 Oct 2021, 03:45 WIB

India Rayakan 1 Miliar Vaksinasi

India telah memberikan satu miliar dosis vaksin Covid-19 kepada warganya.

NEW DELHI -- India telah memberikan satu miliar dosis vaksin Covid-19 kepada warganya dari populasi sebanyak 1,4 miliar jiwa. Hampir 90 persen di antaranya menggunakan vaksin AstraZeneca yang diproduksi di dalam negeri oleh Serum Institute of India.

Untuk merayakan capaian kampanye vaksinasi tersebut, Menteri Kesehatan Mansukh Mandaviya meluncurkan lagu dan film di Benteng Merah era Mughal di New Delhi pada Kamis (21/10). “Saya mengimbau semua orang India yang tidak divaksinasi untuk segera mendapatkan vaksinasi dan berkontribusi pada perjalanan vaksinasi bersejarah kami,” kata Mandaviya.

Perdana Menteri India Narendra Modi berterima kasih kepada petugas kesehatan atas capaian kampanye vaksinasi tersebut. Pengumuman mengenai capaian vaksinasi ini digaungkan di stasiun kereta api dan bandara. Perayaan capaian satu miliar dosis vaksin juga ditandai dengan monumen yang disorot oleh cahaya dengan warna nasional.

Sampai sekarang, 75 persen dari mereka telah mendapat setidaknya satu dosis, dan 31 persen lainnya telah divaksinasi lengkap. Namun, ratusan juta orang India yang berusia di bawah 18 tahun dan merupakan sekitar 40 persen dari populasi, hingga saat ini belum divaksinasi.

Terkait

Pemerintah mendorong warga untuk segera mendapat dosis kedua vaksin Covid-19 di tengah musim perayaan untuk mencegah gelombang ketiga pandemi.

"Sebagian besar orang di India belum mendapat suntikan dosis kedua sesuai tanggal vaksinasi meskipun persediaan cukup,” kata Kementerian Kesehatan.

Laporan media pekan lalu mengatakan, panel ahli di badan pengawas obat India merekomendasikan penggunaan Covaxin untuk anak di bawah 18 tahun. Covaxin merupakan salah satu dari tujuh vaksin Covid-19 yang disetujui di India.

Meskipun jumlah infeksi saat ini rendah, pejabat Kementerian Kesehatan telah mendesak warga untuk mendapatkan vaksinasi dengan cepat. Terutama karena musim perayaan keagamaan yang sedang berlangsung. Musim perayaan biasanya ditandai dengan pertemuan keluarga dan belanja massal. Hal ini meningkatkan risiko gelombang infeksi baru atau gelombang infeksi ketiga.

India sejauh ini telah melaporkan 34,1 juta kasus Covid-19 dan lebih dari 452 ribu kematian. India mencatat lonjakan kasus terbesar antara April dan Mei, akibat varian delta yang menular dengan cepat. Seluruh rumah sakit kewalahan menerima pasien Covid-19 dan mengalami kekurangan oksigen. Sementara krematorium juga mengalami hal serupa.

Kasus infeksi Covid-19 di India mulai menurun tajam dengan kurang dari 20 ribu infeksi per hari. Sebagian besar aktivitas telah kembali normal. Mumbai, salah satu kota padat di India, baru-baru ini melaporkan nol kematian dalam sehari untuk pertama kalinya sejak pandemi dimulai.

Sebagian besar pembatasan sosial telah dicabut, dan banyak orang merayakan acara keagamaan utama India. Musim perayaan sangat penting untuk menggerakkan kembali roda perekonomian yang terpukul akibat pandemi.
 
Hingga 2022

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pandemi Covid-19 akan berlangsung satu tahun lagi, karena negara-negara miskin tidak mendapatkan vaksin. Penasihat senior WHO, Bruce Aylward, mengatakan, krisis Covid-19 dapat dapat berlanjut hingga 2022 jika proses vaksinasi tak dipercepat.

Aylward mengatakan, sejauh ini kurang dari 5 persen populasi Afrika telah menerima vaksinasi Covid-19. Jumlah tersebut sangat rendah dibandingkan dengan 40 persen di sebagian besar benua lain. Aylward mengimbau negara-negara kaya untuk mengalah agar perusahaan farmasi dapat memprioritaskan vaksinasi kepada negara-negara berpenghasilan rendah.

 "Pandemi ini akan berlangsung selama satu tahun lebih lama dari yang seharusnya," ujar Aylward, dilansir BBC, Kamis (21/10).

Sebagian besar vaksin Covid telah diberikan ke negara-negara berpenghasilan tinggi atau menengah ke atas. Afrika hanya mendapatkan 2,6 persen dari dosis yang diberikan secara global. Kelompok amal, yang mencakup Oxfam dan UNAids, mengkritik Kanada dan Inggris karena melakukan pengadaan vaksin untuk populasi mereka sendiri melalui Covax. Padahal Covax adalah program global yang didukung PBB untuk mendistribusikan vaksin secara adil, terutama bagi negara miskin.

Ide awal Covax adalah semua negara  dapat memperoleh vaksin secara adil, termasuk negara kaya yang sudah memberikan sumbangan. Tetapi sebagian besar negara G-7 memutuskan untuk menahan diri agar tidak ikut dalam skema Covax, dan mulai membuat kesepakatan pribadi dengan perusahaan farmasi.

Penasihat Kesehatan Global Oxfam, Rohit Malpani, mengakui bahwa Kanada dan Inggris secara teknis berhak mendapatkan vaksin melalui mekanisme Covax. Tetapi menurut Malpani, secara moral semestinya Inggris dan Kanada tidak lagi bergabung dengan skema Covax. Karena, kedua negara telah memperoleh jutaan dosis melalui  perjanjian bilateral mereka sendiri.

"Mereka seharusnya tidak mendapatkan dosis ini dari Covax. Tidak ada yang lebih baik dari double-dipping dan berarti negara-negara miskin yang sudah berada di belakang antrian, akan menunggu lebih lama," ujar Malpani. 


×