Petugas gabungan memberikan sanksi sosial berupa berjalan jongkok kepada warga yang melanggar saat operasi protokol kesehatan di Denpasar, Bali, Kamis (21/10/2021). Ancaman gelombang ketiga serangan Covid-19 terlalu nyata untuk diabaikan. | ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/foc.
22 Oct 2021, 03:45 WIB

Gelombang Ketiga Pandemi

Ancaman gelombang ketiga serangan Covid-19 terlalu nyata untuk diabaikan.

ZUBAIRI DJOERBAN, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Semoga kita tidak lupa masa gelap dan berat pada Juli dan Agustus 2021, saat Indonesia dilanda gelombang kedua pandemi Covid-19. Rumah sakit (RS) penuh, antrean panjang untuk masuk IGD dan mendapat oksigen, serta beberapa jenis obat antivirus langka.

Angka kematian sempat melampaui 2.000 orang per hari, bahkan tertinggi di dunia. Banyak yang meninggal saat isoman di rumah. Bandingkan hari-hari ini, Oktober 2021, keadaan di Indonesia jauh lebih baik dan kita urutan 53 dunia (data per 17 Oktober 2021).

Penurunan peringkat diikuti kosongnya IGD Covid-19 di RS. Bed occupancy rate (BOR) RS kurang dari 25 persen. Positivity rate di bawah lima persen dan menurut WHO, itu artinya wabah terkendali serta aman sekolah tatap muka. Jumlah yang meninggal turun drastis.

Terkait

Namun, semoga ini tak menjadikan kita euforia. Tetangga kita, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina, tengah berjuang kembali menghadapi gelombang ketiga pandemi. Demikian juga, AS yang menghadapi tekanan akibat lonjakan kasus baru dan kematian.

 
Positivity rate di bawah lima persen dan menurut WHO, itu artinya wabah terkendali serta aman sekolah tatap muka.
 
 

Untuk sebagian orang, pertanyaannya, apakah ancaman gelombang ketiga itu benar adanya? Benarkah itu bisa diantisipasi? Apakah dokter dan ahli epidemiologi tak mungkin salah prediksi?

Berkaca dari pengalaman AS, Inggris, dan Jepang, kita harus menerima bahwa ancaman gelombang ini nyata. Sederet alasan terbukti menjadi penyebabnya.

Mulai dari libur panjang, pemilu atau demonstrasi yang menimbulkan kerumunan, upacara keagamaan (kasus di India), dan kombinasi dibukanya kembali pariwisata (ingat kemacetan di Puncak), sekolah dan perkantoran, serta dibukanya kembali perbatasan antarnegara.

Contoh dekat yang kita saksikan, ditemukannya puluhan kasus baru pada PON XX Papua. Ancaman gelombang ketiga ini, dengan kata lain, terlalu nyata untuk diabaikan.

Para ahli hanya berbeda soal kapannya. Ada yang memprediksi awal tahun depan, sekitar Januari hingga Februari 2022. Artinya, setelah libur panjang Natal dan tahun baru. Ada juga yang memperkirakan lebih cepat, sekitar Desember hingga Februari 2022.

Langkah antisipatif

Jika gelombang ketiga pandemi tidak bisa dihindari, pertanyaan berikutnya: apakah nanti korbannya sebanyak gelombang pertama dan kedua? Jawabnya: belum tentu. Bergantung pada upaya pemerintah serta masyarakat membuat dan menaati peraturan.

 
Contoh dekat yang kita saksikan, ditemukannya puluhan kasus baru pada PON XX Papua. Ancaman gelombang ketiga ini, dengan kata lain, terlalu nyata untuk diabaikan.
 
 

Aktivitas dan mobilitas masyarakat yang meningkat, menyusul pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), berkontribusi pada melonjaknya kembali kasus Covid-19. Apalagi, jika diikuti berkurangnya disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Ahli medis dan epidemiolog menyebut, langkah mengantisipasi agar kalaupun terjadi ledakan kasus, jumlah korban tidak sebanyak gelombang sebelumnya dan tidak fatal.

Di antaranya, memperkuat tracing, meningkatkan ketahanan RS, penelusuran kontak, pemantauan mereka yang isolasi mandiri, dan akselerasi vaksinasi. Prediksi beberapa ahli epidemiologi gelombang ketiga terjadi jika cakupan vaksin tak sampai 50 persen dari target.

Varian baru

Di antara penyebab penting lonjakan kasus atau gelombang kedua adalah menyebarnya varian baru Delta, yang di Inggris dan AS menyebabkan peningkatan kasus secara cepat. Varian Delta juga menyebabkan efektivitas vaksin Pfizer dan Moderna turun drastis.

Di Indonesia, akibat varian Delta ini angka kematian pernah tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Setiap negara memiliki kerentanan berbeda terhadap setiap varian virus baru. Kemarin, kita meributkan varian Mu.

Namun, analisis laporan dari berbagai negara (termasuk AS dan negara-negara Amerika Latin) mendorong pada kesimpulan, prevalensi varian Mu di dunia kurang dari 1 persen. Varian ini ditengarai sembilan bulan lalu. Kita waspada, tetapi tak perlu khawatir berlebihan.

 
Di Indonesia, akibat varian Delta ini angka kematian pernah tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Setiap negara memiliki kerentanan berbeda terhadap setiap varian virus baru. Kemarin, kita meributkan varian Mu.
 
 

Kabar baik lainnya, WHO mengeluarkan varian Eta (B.1.525), Iota (B.1.526), dan Kappa (B.1.617.1) dari kelompok VOI (varian of interest), jadi kita juga tidak perlu khawatir lagi terhadap tiga varian tersebut. 

Saat ini ada empat varian penting di dunia yang sedang dipantau, yaitu Alpha (B1.1.7), Beta (B1.351), Gamma (B.1), dan Delta (B1.617.2).

Mengapa bisa timbul varian baru? Semua virus berevolusi sepanjang waktu. Ketika virus bereplikasi atau membuat kopi dirinya, ia berubah sedikit. Perubahan ini disebut mutasi.  Virus dengan satu atau lebih mutasi baru dinamakan varian dari virus semula virus yang orisinal.

Sebagian besar mutasi tidak memengaruhi kemampuan infeksi dan tingkat kegawatan penyakit. Bergantung pada lokasi mutasi di materi genetik virus, dapat menyebabkan lebih mudah menular dan menyebabkan penyakit lebih berat.

Karena mutasi dan kemunculan varian baru tidak bisa dicegah, yang bisa dilakukan adalah menghentikan penularannya. Misalnya, mengatur liburan agar tak terlalu panjang, skrining pekerja migran, wisatawan warga asing atau warga negara yang baru pulang dari luar negeri.

Selain itu, mengawasi klaster penyebab penularan. Dengan kata lain, pandemi terutama adalah masalah perilaku. Perilaku ini lebih bisa dikendalikan daripada mutasi atau munculnya virus baru. 


×