Sejumlah santriwati mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di Pondok Pesantren Nurul Iman, Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat (3/9). Pemerintah Kota Bandung berencana akan menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada 8 September mend | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
21 Oct 2021, 10:39 WIB

Ponpes Diharapkan Jadi Pusat Pembelajaran Unggul

Meski pengetahuan modern diajarkan, budaya pesantren jangan sampai hilang.

JAKARTA — Kalangan santri dan pondok pesantren (ponpes) akan memperingati Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober. Dalam memaknai Hari Santri kali ini, cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat berharap, ponpes dapat menjadi pusat pembelajaran unggul.

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) ini menegaskan, anggapan bahwa pesantren itu dunia yang tertinggal secara keilmuan tidaklah benar. Sebaliknya, di pesantren, etos ilmu sangat dijunjung tinggi. Namun, dia mengakui, perlu ada perubahan dalam kurikulum di pesantren.

"Seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum pesantren mesti diperkaya dengan pengetahuan modern, terutama bidang sains, teknologi informatika, fisika, matematika, dan biologi, itu mesti diajarkan," ujar guru besar Filsafat Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu kepada Republika, Rabu (20/10).

Menurut dia, pesantren saat ini masih lemah dalam pembelajaran sains sehingga harus mengalami perubahan agar pesantren menjadi pusat pembelajaran unggul. Meski pengetahuan modern diajarkan di pesantren, ia mengingatkan, budaya pesantren jangan sampai hilang. Misalnya, sederhana, penuh persaudaraan, ikhlas, dan berbudi pekerti luhur.

Terkait

Dia juga menyampaikan harapannya agar ada santri yang menjadi saintis. "Saya berharap dari pesantren muncul saintis yang akhlaknya mulia dan menguasai ilmu keagamaan," ujar dia.

Dalam pandangan cendekiawan Muslim sekaligus anggota Komisi VIII DPR, Hidayat Nur Wahid, saat ini tidak ada ruang yang tidak bisa diisi santri. Ada santri yang menjadi presiden, ketua MPR, pimpinan DPR, menteri, bahkan bisa diterima di TNI dan Polri. Tak sedikit pula santri yang berhasil menjadi pengusaha sukses. "Artinya, pada era sekarang ini, kesempatan bagi santri untuk berperan itu terbuka dan mereka sudah mengisinya," ujarnya.

Soal bagaimana peran tersebut menghadirkan dampak yang positif, Hidayat mengatakan, hal ini menjadi tantangan untuk terus ditingkatkan. Dengan lebih dari 25 ribu pesantren dan sekitar 15 juta santri, ia menilai, ini merupakan potensi besar untuk menciptakan politik kesantrian dan kebangsaan yang dahulu ditunjukkan oleh KH Hasyim Asy'ari melalui Resolusi Jihadnya.

Sementara dalam memperingati Hari Santri 2021, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar pagelaran wayang virtual bertajuk Semar Bangun Pesantren di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (20/10) malam.

“Kegiatan ini dimaksudkan agar para santri tetap menjunjung peran budaya, khususnya wayang, yang pernah menjadi alat penyebaran agama Islam,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag, Waryono Abdul Ghafur.

Selain pegelaran wayang, Kemenag juga telah menggelar Pameran Pesantren Virtual. Pameran yang diikuti oleh sekitar 100 pesantren di seluruh Indonesia itu menampilkan profil pesantren, keunggulan sistem pengajaran, hingga produk para santri.

Hari Santri 2021 yang mengusung tema “Santri Siaga Jiwa Raga” ini juga disemarakkan dengan program Santri Sehari Menjadi Menteri. Dalam kegiatan ini, Kemenag telah menggelar seleksi untuk memilih satu santri yang berhak mendapat kesempatan untuk menjadi menteri agama sehari penuh.

Peringatan Hari Santri juga digelar Nahdlatul Ulama (NU). Sekretaris Rabithah Ma'ahid al Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) Habib Sholeh mengatakan, peringatan Hari Santri tahun ini dihelat dengan keterbatasan karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

“Tidak banyak lagi kegiatan massal seperti tahun-tahun sebelumnya yang mengundang banyak khalayak dan kerumunan, seperti Liga Santri Nusantara (LSN),” kata Sholeh.

Pada acara puncak, yakni 22 Oktober 2021 rencananya akan disampaikan pidato amanat Hari Santri oleh ketua umum PBNU.


×