Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
21 Oct 2021, 03:30 WIB

Spirit Cinta Nabi

Ada banyak tuntutan pembuktian cinta Nabi Muhammad SAW, yang paling utama menghidupkan sunahnya.

 

OLEH BIKI ZULFIKRI RAHMAT

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR Bukhari).

Mencintai Nabi Muhammad SAW termasuk mencintai Allah SWT hukumnya wajib, bahkan wajib melebihkannya daripada cinta kepada selainnya. Ada banyak tuntutan pembuktian cinta Nabi Muhammad SAW, salah satu yang paling utama adalah menghidupkan sunahnya.

Terkait

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan sunahku, ia telah mencintaiku dan yang mencintaiku maka aku bersamanya di surga” (HR Tirmidzi).

Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam kitabnya, Majmu Fatawa, menjelaskan, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan pokok kebahagiaan dan keselamatan. Karena, dengan diutusnya beliau sebagai rasul Allah, manusia dapat membedakan kebenaran dan kebatilan.

Demikian tinggi dan agungnya kedudukan Rasulullah SAW di sisi Allah sehingga Allah SWT mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mencintai dan mengagungkannya melebihi diri hamba itu sendiri.

Sahabat Anas ibn Malik RA menceritakan, “Ketika aku dan Rasulullah SAW keluar dari masjid, kami bertemu seseorang dekat pintu masjid. Ia bertanya: ‘Wahai Rasullulah, kapan hari kiamat itu?’

Rasulullah SAW menjawab: ‘Apa yang sudah kamu persiapkan untuknya?’ Seakan-akan lelaki itu merunduk, kemudian berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mempersiapkan untuknya dengan banyak shalat, shaum, atau sedekah, tetapi aku cinta Allah dan Rasul-Nya.’

Beliau menjawab: ‘Maka kamu akan bersama orang yang kamu cintai'.” 

Anas ibn Malik RA yang mendengar sabda Nabi Muhammad SAW di atas langsung berkata: “Tidak pernah kami merasa bahagia sesudah kami masuk Islam, seperti bahagianya kami saat itu setelah mendengar sabda Nabi SAW, ‘Kamu akan bersama orang yang kamu cintai’.”

Anas berkata: “Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap besar bisa bersama dengan mereka meski amal aku tidak beramal seperti amal mereka.”

Dari hadis di atas Imam an Nawawi maupun al Hafidz Ibn Hajar sama-sama menegaskan bahwa kecintaan pada Nabi Muhammad SAW itu meski sangat minimal akan menjanjikan surga. Al Hafidz Ibn Hajar menyatakan, sungguh hal tersebut bisa cukup dengan meyakini keutamaannya, meskipun tidak sampai beramal sempurna sebagaimana yang dituntut. Bahkan, mencintai orang yang mengamalkannya saja pun sudah cukup untuk memperoleh keselamatan.

Maka, ada tiga pesan atau hikmah yang bisa kita petik dari penjelasan di atas. Pertama, mencintai Nabi Muhammad SAW dalam wujud berbuat amal, mencintai amal baik, dan mencintai orang yang beramal.

Kedua, senantiasa berupaya untuk beramal sekuat tenaga mengamalkannya. Dan yang ketiga, sekalipun amalnya tidak bisa sama dengan yang dicintainya, tetap kita berusaha untuk beramal dan mencintainya.

Jadi, alangkah baiknya bila kita senantiasa menumbuhkan spirit cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bishawab.


×