Sejumlah pemain rebana mengiringi pembacaan Risalah Maulid pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Muyassarin, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (19/10/2021). | ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/rwa.
20 Oct 2021, 03:55 WIB

Umat Islam Harus Unggul

Umat Islam juga diharapkan menjadi pemberi solusi atas segala krisis yang muncul.

JAKARTA -- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang tahun ini jatuh pada Selasa (19/10) diharapkan menjadi momentum untuk meneladankan akhlak dan semangat Rasulullah dalam memajukan Islam.

Umat Islam diajak untuk terus membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Umat Islam juga diharapkan menjadi pemberi solusi atas segala krisis yang muncul.

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengatakan, keteladanan Rasulullah yang paling utama adalah konsistensi dalam menyempurnakan akhlak umat manusia agar mampu memakmurkan bumi. Hal itu salah satunya dilakukan dengan membangun SDM unggul.

“Untuk memakmurkan bumi itu diperlukan kunci-kuncinya, diperlukan sebab-sebabnya. Salah satu sebab yang paling penting yaitu SDM yang unggul, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Kiai Ma'ruf dalam siaran pers Sekretariat Wakil Presiden, Selasa (19/10).

Terkait

Wapres mengatakan, mencetak SDM unggul merupakan salah satu program prioritas pemerintah. Kiai Ma'ruf pun berharap masyarakat dapat mendukung generasi penerus untuk mendapatkan pendidikan yang layak serta akses teknologi yang baik.

Kiai Ma'ruf menjelaskan, Islam begitu memperhatikan masalah kemajuan dan kesejahteraan. Dalam firmannya, Allah SWT memerintahkan hambanya untuk iqra atau membaca agar bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kita harapkan bahwa kita dapat membangun generasi yang akan datang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, generasi SDM yang unggul, tetapi memiliki akhlak mulia, seperti yang diajarkan Rasulullah," ujar Kiai Ma'ruf.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengajak umat Islam meneladankan semangat Rasulullah, yaitu semangat untuk maju dengan mengedepankan persamaan daripada perbedaan. Islam dan pembangunan dapat saling mendukung untuk kemajuan bangsa dan negara.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir berharap umat beragama, khususnya umat Islam, mampu menghadirkan solusi atas krisis yang muncul di tengah kehidupan yang serbamodern. "Seyogianya umat beragama khususnya kaum Muslim menghadirkan alam pikiran, sikap, dan tindakan yang mampu menjadi solusi atas berbagai problem kehidupan yang bersifat krisis," kata Haedar dalam keterangan tertulis, Selasa.

Di tengah majunya penguasaan teknologi, kehidupan politik, ekonomi, dan budaya modern, kata Haedar, terdapat krisis moral, krisis perilaku, krisis keteladanan, dan berbagai kekerasan atas nama apapun. Ia berharap umat Islam mampu menjadikan Islam dan figur Nabi Muhammad sebagai role model untuk menghadirkan kehidupan yang lebih beradab dan lebih bermoral.

photo
Warga menikmati makanan yang disajikan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Jamik Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Selasa (19/10/2021). Pada setiap perayaan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW yang berlangsung tiga bulan di Aceh, warga selain menyiapkan makanan dengan menu utama kuah beulangong (kari daging sapi atau kambing dengan bumbu khas) untuk dinikmati bersama juga menggelar zikir, menyantuni anak yatim, fakir dan miskin. - (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/aww.)

"Kehidupan yang lebih menjunjung tinggi nilai-nilai utama, menyebar perdamaian, persatuan, sekaligus mencegah segala bentuk permusuhan, kebencian, kekerasan, keretakan dan hal-hal yang membuat suatu bangsa akan jatuh," ujar Haedar.

Selain mampu menghadirkan solusi, menurut dia, umat Islam diharapkan bisa menghilangkan kesenjangan antara nilai agama dan praktik dalam kehidupan nyata. Nilai agama, menurut dia, bukan hanya harus selaras dengan praktik kehidupan sehari-hari, namun juga dalam praktik kehidupan politik, ekonomi, budaya dan kehidupan yang lebih luas.

Haedar berpesan agar bangsa Indonesia memiliki nilai kebudayaan luhur guna mewujudkan cita-cita membangun kehidupan yang lebih baik. "Kehidupan yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa," katanya.

Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun berhasil membangun bangsa Arab yang mulanya jahiliyah menjadi bangsa yang berperadaban maju dan mencerahkan sebagaimana tecermin dalam simbol al-Madinah al-Munawwarah. Islam pun tampil menjadi suluh peradaban utama selama lebih enam abad di era kejayaan Islam.

"Era keemasan itu harus menjadi inspirasi bagi umat Islam saat ini ketika memperingati kelahiran Nabi, bukan sekadar seremonial," tutur Haedar.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Muhammad Fuad Nasar mengatakan, peringatan Maulid Nabi adalah momentum mengingatkan kembali umat Islam pada perjuangan besar Nabi SAW. Hikmah peringatan Maulid Nabi menyegarkan kembali pemahaman terhadap visi pembinaan umat yang bertolak dari masjid dan persaudaraan, sebagaimana Nabi Muhammad SAW mencontohkannya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

"Kualitas unggul umat Islam yang dikehendaki Nabi Muhammad bukan sekadar umat yang dihitung dalam statistik, tetapi umat yang diperhitungkan dalam kehidupan bangsa dan dunia," katanya.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Amirsyah Tambunan mengatakan, peringatan Maulid Nabi jadi momentum menebar spirit untuk meneladankan Rasulullah. Keteladanan itu harus sejalan antara teori maupun praktik.

Amirsyah menyampaikan, Allah SWT dalam QS as-Shaff ayat 2-3 menegaskan, membenci orang yang pandai berbicara atau berteori, tapi tidak memberi aksi dalam bentuk amal. Aktivitas spiritual Islam tidak semata berorientasi pada diri sendiri, tapi membawa dampak transformasi perbaikan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

"Nabi SAW pernah mengingatkan seorang sahabat yang hanya menekankan spritual berzikir dan berdoa (iktikaf) di dalam masjid, sementara keluarga dan masyarakatnya tidak diperhatikan," kata dia.

Tetap Jaga Prokes 

Sementara, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menegaskan, pemerintah tidak melarang perayaan ataupun menikmati hari libur peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, ia meminta masyarakat untuk tetap bijaksana dalam memanfaatkan kebijakan ini.

"Disiplin protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan demi mencegah peningkatan kasus Covid-19 kemudian hari," kata Johnny, Selasa (19/10). 

photo
Panitia peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menyiapkan buah dan berbagai menu makanan tradisional khas Aceh untuk tamu undangan di Masjid Jamik Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Selasa (19/10/2021). - (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/aww.)

Johnny mengingatkan, meskipun kasus Covid-19 sudah mulai menurun, pandemi belumlah usai. Oleh karena itu, semua pihak, termasuk masyarakat yang merayakan maulid Nabi Muhammad SAW, untuk tetap waspada demi mencegah gelombang pandemi Covid-19 selanjutnya.

"Tidak ada larangan untuk merayakan ataupun menikmati hari libur peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Namun, pemerintah meminta kebijaksanaan masyarakat untuk tetap disiplin terhadap protokol kesehatan dan mengurangi mobilitas pada hari libur," katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar menaati SE Menteri Agama Nomor 29 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Peringatan Hari Besar Keagamaan (PHBK). Di antaranya, diatur bahwa PHBK pada daerah Level 2 dan Level 1 dapat dilaksanakan secara tatap muka dengan prokes ketat.

Sementara itu, PHBK pada daerah Level 4 dan Level 3 dianjurkan untuk dilaksanakan secara virtual. Penyelenggara dianjurkan menyediakan QR code PeduliLindungi. "Pemerintah melarang pawai/arak-arakan dalam rangka PHBK yang melibatkan jumlah peserta dalam skala besar," ujarnya.

photo
Sejumlah warga menggotong barang sedekah saat Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Kampung Sukalila, Kelapa Dua, Serang, Banten, Selasa (19/10/2021). Perayaan Maulid Nabi Muhammad berlangsung setiap Bulan Mulud pada penanggalan Jawa dilangsungkan dengan mengumpulkan dan membagi-bagikan sedekah untuk warga yang tidak mampu. - (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/aww.)

Pemerintah daerah diharapkan dapat mengawasi penerapan protokol kesehatan selama peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Aparat TNI/Polri juga diminta ikut membantu pemerintah daerah untuk mengawasi kegiatan masyarakat.

Berdasarkan pengalaman yang lalu, setiap kali terjadi kenaikan mobilitas masyarakat akan selalu disertai peningkatan kasus Covid-19. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama agar tidak terulang. Kelengahan sekecil apa pun bisa membuat peningkatan kasus dalam beberapa pekan ke depan. "Momentum penurunan kasus dan peningkatan vaksinasi harus terus kita jaga," katanya. 

Ketua Pembina Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) Prof KH Didin Hafidhuddin turut mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga prokes saat melakukan perayaan maulid Nabi. Umat Islam diharapkan terus mengenakan masker dan menerapkan jaga jarak ketika menghadiri peringatan maulid Nabi. 

“Ikhtiar dan usaha secara maksimal untuk menjaga kesehatan adalah bagian dari melaksanakan ajaran Nabi,” katanya. 

Meski dirayakan secara terbatas demi menghindari lonjakan virus Covid-19, peringatan maulid Nabi dinilai harus tetap dimaksimalkan sebagai momentum untuk mengingat dan meneladan jejak kehidupan Rasulullah SAW.

Ia mengatakan, peringatan kelahiran Rasulullah juga sekaligus bentuk penghormatan atas perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Islamiyah, dengan segala tantangan dan rintangan di dalamnya. “Ittiba kepada Rasulullah SAW merupakan bukti nyata cinta kepada Allah SWT,” katanya. 

photo
Warga mengambil telur yang dihias dan disusun pada Bale Suji saat kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kawasan Kepaon, Denpasar, Bali, Selasa (19/10/2021). Warga setempat memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan melakukan sejumlah tradisi seperti menyusun telur yang disusun pada Bale Suji, megibung atau makan bersama serta metabur yaitu membagikan uang yang akan direbut warga lainnya. - (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/aww.)

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, keteladanan nabi Muhammad SAW yang dapat dicontoh di tengah kondisi pandemi saat ini adalah sikap kepedulian kepada sesama. Hal ini penting karena pandemi tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah, tetapi butuh kerja sama semua elemen masyarakat. 

“Kepedulian tidak hanya soal materi, tetapi juga dengan memakai masker, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menyukseskan vaksinasi, itu adalah bagian dari kepedulian antarsesama umat manusia,” kata dia. 

Khofifah yakin di balik pandemi Covid-19 ini ada hikmah yang sangat besar. Salah satunya, yakni peringatan Allah SWT kepada umat manusia untuk senantiasa menjaga dunia dan seisinya. Kerusakan dan musibah yang terjadi saat ini, menurut dia, menjadi cara Allah SWT untuk mengingatkan manusia ke jalan yang benar. 

Sumber : Antara


×