Sejumlah warga menyaksikan petugas tim Inafis melakukan olah tempat kejadian perkara siswa yang tewas tenggelam di Sungai Cileueur, Desa Utama, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (16/10/2021). | ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/hp.
18 Oct 2021, 03:45 WIB

Komisi X: Buat Pedoman Kegiatan Alam

Di bagian bawah muara Sungai Cileueur terdapat puasaran air yang cukup kuat.

JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf Macan Effendi mendesak Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan Kementerian Agama (Kemenag) membuat standar operasional prosedur (SOP) kegiatan di alam seperti susur sungai dan outbond bagi siswa.

Desakan ini menyusul 11 siswa MTs meninggal akibat tenggelam di Sungai Cileueur, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, Jumat (15/10). Dede mengatakan, pedoman dapat mengatur syarat kegiatan, lokasi, batasan umur, waktu pelaksanaan, hingga harus didampingi oleh profesional.

"Jadi harus ada sebuah pedoman yang kemudian dari Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama bahwa kegiatan outbound yang mengandung risiko yang bahaya itu tidak boleh dilakukan kepada anak-anak usia tertentu," ujar Dede saat dihubungi, Ahad (17/10).

Menurutnya, kegiatan siswa di alam tidak dapat dihilangkan karena hal tersebut juga penting untuk mengajarkan nilai-nilai tertentu. Namun, hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah pengawasan dan pendampingan oleh profesional.

Terkait

"Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagai halang rintang, atau kegiatan outbound alam dilakukan oleh pendamping profesional yang menguasai safety and regulation," ujar Dede.

photo
Petugas tim SAR dari BPBD Ciamis dengan dibantu warga mengevakuasi jenazah korban tenggelam di Sungai Cileuer, Desa Utama, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/10/2021). - ( ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.)

Kendati demikian, kegiatan yang memiliki risiko tinggi tak dapat digelar untuk anak-anak di bangku sekolah. “Sekali lagi saya mengimbau Kementerian Pendidikan maupun Kementerian Agama melakukan sebuah kajian teknis tentang kegiatan-kegiatan yang sifatnya adalah luar ruang, halang rintang ataupun kegiatan yang mengandung risiko dan bahaya," kata dia.

Anggota Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) M Hasanuddin Wahid berpendapat susur sungai bukanlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh anak sekolah. Ia mendesak pihak sekolah untuk lebih mengadakan kegiatan yang lebih aman bagi anak didiknya.

"Ini tidak boleh terulang lagi karena penyebabnya sudah pasti human error. Ketidakhati-hatian dan kesembronoan yang menjadikan musibah ini terjadi," ujar Hasanuddin.

Sebanyak 11 siswa MTs Harapan Baru Ciamis meninggal karena tenggelam saat mengikuti kegiatan susur sungai di Desa Utama, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/10). Tragedi semacam ini bukan kali ini saja terjadi. Awal 2020, 10 siswa SMP Negeri 1 Turi meregang nyawa ketika ikut susur sungai di Sleman, Yogyakarta.

Kronologis

Humas MTs Harapan Baru, Dende RH mengakui, kegiatan tersebut memang sudah diprogramkan oleh madrasah. Pihak madrasah juga sudah melakukan survei ke sejumlah lokasi yang akan dikunjungi dalam kegiatan itu. "Tiga hari sebelunnya sudah dilakukan survei lokasi. Dari pemasangan tanda penunjuk arah dan persiapan lainnya," kata dia, Sabtu (16/10).

photo
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya (tengah) berdiri di samping kantong jenazah korban siswa tenggelam di IGD RSUD Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/10/2021). - ( ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.)

Menurut dia, kegiatan itu memang sengaja dilakukan untuk memperkenalkan siswa dengan lingkungan di sekitar madrasah. Dalam rangkaian kegiatan, rute yang dilalui memang ada yang melintasi Sungai Cileueur. Ia menjelaskan, di Sungai Cileueur, para siswa diajarkan untuk menjaga lingkungan dengan membersihkan sampah yang ada di sekitar aliran dari bantaran sungai itu. Kegiatan itu semua berjalan lancar.

Setelah kegiatan bersih-bersih, para peserta kemudian dikumpulkan. Pembina selanjutnya memberikan pengarahan untuk kembali ke madrasah, dengan melintasi sungai. "Memang harus melintas sungai. Namun sudah kita perkirakan sungai itu dangkal. Ketika itu, ada beberapa anak yang duluan dan tergelincir," kata Dende.

Ia menyatakan, kejadian itu merupakan musibah yang tidak direncanakan. Menurut dia, tak ada seorang pun yang menginginkan kejadian tersebut. Dende menyebutkan, kegiatan itu diikuti oleh ratusan orang, yang terdiri dari 145 siswa kelas VII, 10 siswa kelas IX, 15 orang siswa MA, dan 12 orang guru pembina. Dalam kegiatan itu, terdapat 13 orang yang tenggelam. Dua orang selamat dan masih dirawat di RSUD Ciamis. Sementara 11 orang yang seluruhnya siswa meninggal dunia.

Berdasarkan pantauan Republika di lokasi kejadian, kondisi arus Sungai Cileueur tak terlalu deras. Namun, di tempat itu terdapat muara. Salah seorang warga sekitar, Maman Sulaeman (55 tahun) mengatakan, meski muara itu terlihat tenang, di bagian bawahnya terdapat puasaran air yang cukup kuat. Muara itu, menurut dia, sering dijadikan tempat memancing warga sekitar.

photo
Petugas tim inafis melakukan olah tempat kejadian perkara siswa yang tewas tenggelam di Sungai Cileueur, Desa Utama, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (16/10/2021).  - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/hp.)

"Warga di sini sering memancing, karena ikannya banyak. Kalau yang berenang, tidak ada. Soalnya itu dalam," kata dia. Ia menyebut, kedalaman muara itu bisa mencapai empat meter. Maman menambahkan, sungai itu memang cukup sering dilintasi warga yang hendak bertani. Namun, warga melintas melewati bagian sungai yang dangkal dan ada batunya.

Saat kejadian siswa MTs tenggelam, Maman mengaku ada di lokasi. Ketika itu, terdapat beberapa siswa yang teriak minta tolong. Ia pun bersama warga sekitar berusaha menolongnya. Namun, menurut dia, arus yang ada di bawah muara itu sangat kuat. Alhasil, tak semua siswa yang tenggelam bisa terselamatkan. "Sebagian sudah ada yang berhasil ditolong, tapi yang lainnya terbawa arus di bawah muara. Jadi tidak muncul," kata dia.

Menurut dia, upaya pencarian baru maksimal dilakukan saat tim SAR gabungan datang pada Jumat sore. Menurut Maman, peristiwa tenggelam di Sungai Cileueur baru saat ini lagi terjadi. Sebelumnya, disebut sudah lama tak pernah ada peristiwa tenggelam di tempat itu. "Terakhir mungkin 10 tahun lalu," ujar dia.

Sementara itu, salah seorang warga lainnya, Dian (49) mengatakan, ketika kejadian kondisi arus Sungai Cileueur normal. Artinya, aliran air tak deras. Menurut dia, para siswa yang melintasi kali itu seharunya naik ke bantaran yang ada di sisi lainnya. Namun, lantaran bantaran sungai itu tanahnya gawir, siswa melanjutkan melintas melalui sisi sungai. "Jadi lanjut ke sisi sungai, sebagian ada yang tenggelam," kata dia. 

photo
Keluarga korban menangis histeris saat menyaksikan indentifikasi korban tenggelam di RSUD Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/10/2021). Sebanyak 11 siswa MTS Harapan Baru yang mengikuti kegiatan pramuka susur sungai tewas tenggelam dan dua siswa kritis. - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.)

Ekstrakurikuler

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek Jumeri menyatakan, kegiatan susur sungai merupakan bagian dari ekstrakulikuler sekolah dan kreasi dari guru pengampunya. "Itu bagian dari ekstrakurikuler dan kreasi dari guru pengampu, harusnya guru bisa memperhitungkan dengan cermat risiko yang mungkin terjadi," kata Jumeri.

Plt Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbudristek Anang Ristanto mengatakan, kegiatan pembelajaran di bawah pembinaan satuan pendidikan haruslah mengutamakan keamanan dan keselamatan siswa. Selain itu, pelaksanaannya pun harus dilakukan setelah melalui pertimbangan yang matang.

Pada satuan pendidikan di bawah Kemendikbudristek, Anang mengatakan, kegiatan semacam susur sungai diatur dalam Permendikbud No 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. 

Kegiatan susur sungai yang dilaksanakan MTs Harapan Baru di Sungai Cileueur, Desa Utama, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, disebut bukanlah program dari Pramuka. Kegiatan yang mengakibatkan 11 siswa meninggal itu merupakan kegiatan kepanduan mandiri yang dilakukan rutin oleh madrasah itu.

Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Barat (Jabar), Atalia Praratya mengatakan, MTs Harapan Baru bukan termasuk dalam gugus depan. Madrasah itu juga tidak melaksanakan ekstrakurikuler pramuka. 

photo
Petugas tim SAR dari BPBD Ciamis dengan dibantu warga setempat melakukan pencarian jenazah korban tenggelam di Sungai Cileuer, Desa Utama, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (15/10/2021). - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/aww.)

"Kalau pramuka, kita punya pedoman yang sangat matang disusun. Termasuk juga manajemen risiko kegiatannya, yang di dalamnya ada susur sungai," kata dia saat meninjau TKP susur sungai di Kabupaten Ciamis, Sabtu (16/10).

Ia menjelaskan, gerakan pramuka juga selalu mengikuti pedoman pemerintah dalam melaksankan kegiatan. Apalagi, saat ini sekolah-sekolah masih melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Artinya, untuk sementara waktu kegiatan di lapangan sangat tidak direkomendasikan dilakukan. Pihaknya lebih mendorong kegiatan dilakukan di dalam lingkungan sekolah.

Kendati demikian, Atalia mengatakan, kedatangannya ke Kabupaten Ciamis bukan untuk menyalahkan siapapun. "Saya hadir untuk mendorong agar anak di Jabar terlindungi dan aman," kata dia.

Karena itu, ia mengingatkan, kegiatan lain yang dilaksankan organisasi manapun, harus seusai dengan protokol kesehatan, keamanan, dan keselamatan. Dengan begitu, para peserta didik yang mengikutinya dapat tetap aman. 

Atalia, yang juga mewakili Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, menyampaikan rasa berbelasungkawa. Ia berharap, peristiwa itu tak terjadi di kemudian hari. 

"Ini musibah luar biasa. Sesuatu yang menjadi keprihatinan kita bersama, orang tua, sekolah, dan Kwarda Pramuka Jabar. Tentu kita doakan kepada almarhum dan almarhumah semoga mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa," ujar dia.


×