Pekerja memanggul karung berisi beras di gudang Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara, Medan, Sumatera Utara, Jumat (10/9/2021). Perum Bulog Sumatera Utara memastikan stok beras untuk daerah tersebut sebanyak 9.982 ton atau cukup untuk memenuhi kebutu | ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/wsj.
16 Oct 2021, 09:35 WIB

Produksi Beras Meningkat

Kenaikan produksi beras merupakan hasil peralihan varietas padi yang lebih unggul.

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras mencapai 31,69 juta ton hingga akhir 2021. Angka itu naik 1,12 persen dari realisasi produksi tahun lalu yang sebesar 31,33 juta ton. Kenaikan produksi itu bisa dicapai, meskipun terdapat penurunan luas panen padi tahun ini.

Kepala BPS Margo Yuwono menjelaskan, berdasarkan verifikasi luas lahan baku sawah dan penghitungan metode kerangka sampel area (KSA), realisasi luas panen padi tahun ini hanya mencapai 10,52 juta hektare (ha) atau turun 1,33 persen dari realisasi tahun lalu seluas 10,66 juta ha.

"Berdasarkan metode penghitungan luas panen dikali dengan tingkat produktivitas, diproyeksikan produksi gabah kering giling (GKG) 2021 sebesar 55,27 juta ton, naik 1,14 persen dari produksi GKG 2020 sebesar 54,65 juta ton," kata Margo dalam konferensi pers, Jumat (15/10). 

Secara lebih detail, realisasi produksi GKG periode Januari-September 2021 sebanyak 45,61 juta ton, naik 0,14 persen dari periode sama pada 2020 sebesar 45,55 juta ton. Sementara itu, produksi GKG pada Oktober-Desember 2021 ditaksir akan mencapai 9,66 juta ton, meningkat 6,1 persen dari Oktober-Desember 2020 sebesar 9,10 juta ton. Ia menuturkan, faktor utama kenaikan produksi GKG, yakni adanya kenaikan produktivitas padi atau gabah secara nasional.

Terkait

"Betul ada peningkatan produktivitas pada 2021. Tahun lalu, produktivitas padi 5,12 ton per ha meningkat menjadi 5,25 ton per ha," kata Margo. 

Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan, kenaikan produksi beras merupakan hasil peralihan varietas padi yang lebih unggul. Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Ismail Wahab menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhinya yaitu penggunaan varietas padi Inpari 32 dan Inpari 42 terutama di Jawa Tengah. Penggunaan dua varietas tersebut menggantikan varietas Ciherang yang sudah 21 tahun digunakan petani.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (bps_statistics)

“Berdasarkan beberapa penelitian memang dia (varietas baru) memiliki produktivitas lebih tinggi dan memang sudah harus diganti varietasnya karena mengalami degradasi,” kata Ismail.

Ismail menuturkan, potensi produksi dari dua varietas tersebut mencapai lebih dari 8 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Ketahanan varietas tersebut juga cukup baik sehingga bisa menjadi solusi intensifikasi komoditas padi.

Varietas Inpari 32, kata dia, merupakan hasil pengembangan dari induk varietas Ciherang. Sementara itu, Inpari 42 merupakan varietas baru yang disebut green super rice (GSR) dan bisa diandalkan petani.

"Varietas ini cocok di mana saja sekalipun di lahan sawah yang kurang begitu bagus," kata Ismail.

Neraca dagang

BPS juga menyampaikan negara perdagangan barang Indonesia sepanjang September 2021 kembali mencatatkan surplus 4,37 miliar dolar AS. Margo menjelaskan, komoditas utama yang berkontribusi terhadap surplus dagang yakni bahan bakar mineral, minyak dan lemak hewan/nabati, serta besi dan baja.

Total nilai ekspor sepanjang September 2021 tercatat 20,6 miliar dolar AS sedangkan impor tercatat 16,23 miliar dolar AS. Baik ekspor maupun impor masing-masing mengalami penurunan secara bulanan 3,84 persen dan 2,76 persen. Secara tahun ke tahun, kinerja ekspor masih mencatat kenaikan 47,64 persen dan impor meningkat 40,31 persen.

Secara kumulatif, kinerja neraca dagang sepanjang Januari-September 2021 mencatatkan surplus 25,07 miliar dolar AS. Surplus tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. "Neraca dagang kumulatif tahun ini sangat tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Margo.


×