Wisatawan mengunjungi objek wisata Tanah Lot pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 di Tabanan, Bali, Sabtu (9/10/2021). | ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Tajuk

12 Oct 2021, 03:45 WIB

Bali dan Ujian Akhir Tahun

Dengan berbagai pelonggaran ini, kita tentu berharap kurva kasus Covid-19 tetap di bawah.

Kasus Covid-19 di Indonesia terus terlihat terkendali. Pada pekan pertama Oktober, beberapa indikator Covid-19 menunjukkan hasil yang memberikan harapan baik. Kasus harian rerata 1.200-an, angka kematian pasien di bawah 70 orang per hari, angka tes stabil di 170 ribuan, serta angka keterisian ranjang rumah sakit ataupun instalasi darurat juga jauh di bawah 30 persen.

Bank Dunia beberapa waktu lalu juga mengapresiasi strategi pengendalian yang dijalankan pemerintah. Terutama strategi vaksinasi dan pengetatan mobilitas sosial warga. Dimotori TNI/Polri serta kesigapan tenaga kesehatan yang tak kenal lelah, kurva kasus Covid-19 di Indonesia kini merosot jauh, terutama jika kita bandingkan keadaan pada pertengahan tahun.

Serbuan vaksinasi di berbagai daerah terus berjalan. Angka vaksinasi per hari relatif stabil di posisi sejutaan. Meski begitu, pemerintah kini menargetkan vaksinasi sebanyak dua jutaan warga per hari untuk mencapai kekebalan komunitas lebih cepat. Dengan jumlah penduduk yang melebihi 250 juta, dan target warga yang harus divaksinasi sekitar 180-an juta, sebetulnya secara kumulatif vaksinasi Indonesia belum mencapai 40 persennya.

Pemerintah memfokuskan vaksinasi di daerah-daerah yang sebelumnya zona merah. Jawa terutama. Dan agak meninggalkan daerah di luar Jawa, kecuali Bali. Sebagai hasilnya, karena angka kasus Covid-19 didominasi di DKI Jakarta dan Jawa, secara penurunan kasus di daerah ini akan sangat memengaruhi gambaran situasi pandemi Covid-19 di Indonesia. Kita akui ini membuat kondisi penyebaran Covid-19 dan laju vaksinasi menjadi bias.

 
Pertanyaannya kemudian, apakah Indonesia sudah siap mengatakan ‘selamat tinggal Covid-19?’ Tentu belum. 
 
 

Dengan situasi seperti ini pun, data mobilitas warga mengacu Google Mobility sudah menunjukkan tren menuju normal. Bahkan, di beberapa daerah sudah melebihi posisi sebelum Maret 2020. Pusat perbelanjaan mulai ramai. Warga memadati tempat wisata. Kafe dan restoran penuh. Pemerintah sudah membuka bioskop dan membolehkan konser musik.

Pertanyaannya kemudian, apakah Indonesia sudah siap mengatakan ‘selamat tinggal Covid-19?’ Tentu belum. Kita harus tetap ingat, ini virus yang mudah sekali bermutasi, berubah-ubah, dan belum ada obatnya! Tetap waspada dan jangan kendur protokol kesehatan menjadi dua mantra sehari-hari, terutama mengenakan masker.

Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Bali pada pekan ini akan menguji coba melonggarkan Bali. Penerbangan dari sejumlah negara yang tadinya dilarang, kini dibuka. Syarat karantina yang tadinya dua pekan kini menjadi hanya lima hari.

Percobaan di Bali ini sebetulnya ‘ngeri-ngeri sedap’ bagi kita. Karena yang dibuka adalah arus masuk warga asing. Kita tentu masih ingat pada Maret-April kemarin, soal lemahnya pemerintah mengawasi bandara dan pelabuhan. Kebobolan di dua lokasi itu membuat kita menjadi bulan-bulanan varian Delta yang berkembang dari India.

 
Dengan berbagai pelonggaran ini, kita tentu berharap kurva kasus Covid-19 tetap di bawah.
 
 

Di tengah serbuan varian Delta, pemerintah memberi lampu hijau bagi turis India dengan pesawat sewaan masuk dan berwisata. Pemerintah juga luput menjaga pelabuhan di selatan Jawa, yang membuat varian Delta pertama terdeteksi dari awak kapal yang mengangkut komoditas, dan menularkannya kepada petugas puskesmas.

Dengan berbagai pelonggaran ini, kita tentu berharap kurva kasus Covid-19 tetap di bawah. Kita tidak ingin kurva naik kembali di akhir tahun, membentuk huruf ‘V’ atau ‘U’ yang berarti memperlihatkan ada yang salah dalam kebijakan pelonggaran itu. Katakanlah kalau kita bisa mempertahankan kurva kasus seperti saat ini melewati Desember 2021, bisalah kita bernapas agak lega.

Namun, bila ramalan sejumlah epidemiolog ataupun pemerintah benar bahwa akan ada gelombang serangan lanjutan pada akhir tahun, kita harus bersiap untuk yang terburuk lagi.

Apalagi, ini mempertimbangkan faktor efektivitas vaksin setelah enam bulan. Kita tahu vaksinasi massal mulai gencar baru pada Juni. Berbagai studi memperlihatkan efektivitas vaksin Sinovac ataupun vaksin lainnya setelah enam bulan menurun. Sehingga pada Desember 2021 sampai Maret 2022, menjadi titik krusial dari efektivitas vaksinasi itu. Kita masih harus amat waspada.


×