ILUSTRASI Kaum mawali Persia mulai mengalami mobilitas vertikal yang signifikan pada masa Dinasti Abbasiyah. | DOK PXHERE
10 Oct 2021, 03:44 WIB

Dari Persia untuk Peradaban Islam

Peran signifikan kaum mawali Persia sangat terasa pada zaman keemasan Islam.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

 

Terkait

Sejak masa pra-Islam, bangsa Arab menganggap negerinya berada di bawah bayang-bayang dua adidaya: Imperium Romawi (Bizantium) di barat dan Kekaisaran Persia di timur. Keduanya saling menganggap rival satu sama lain.

Beruntung, Jazirah Arab tidak pernah seluruhnya menjadi wilayah taklukan mereka. Kondisi geografis Arab yang kurang subur serta kuatnya fanatisme kesukuan lokal menjadi beberapa alasan enggannya para penakluk itu.

Bagaimanapun, mendekati abad ketujuh Masehi, Bizantium dan Persia sama-sama kehabisan tenaga. Penyebabnya tidak hanya dilatari konflik berkepanjangan di antara keduanya. Masing-masing memiliki masalah besarnya sendiri. Pada pertengahan abad keenam, Konstantinopel dilanda wabah pes yang menewaskan ribuan orang. Sementara itu, perebutan kekuasaan di istana Persia memicu ketidakstabilan politik dalam negeri.

Islam berhasil menyatukan seluruh Semenanjung Arab sejak tahun 620-an. Nabi Muhammad SAW menyampaikan nubuat tentang kejayaan Muslimin atas Bizantium dan Persia di masa depan. Beliau bersabda, “Jika Kisra (raja Persia) binasa, tidak akan ada lagi Kisra lain sesudahnya. Jika Kaisar (raja Bizantium) binasa, tidak akan ada lagi Kaisar lain sesudahnya. Dan demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian (umat Islam) akan mengambil perbendaharaan kekayaan keduanya di jalan Allah.” (HR Bukhari).

Prediksi Rasulullah SAW itu terbukti benar adanya. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Baitul Makdis berhasil dibebaskan dari kendali Bizantium. Untuk merebut jantung Bizantium, Konstantinopel, memang perlu waktu yang lebih lama—sekira delapan abad sejak masa kepemimpinan sang amirul mukminin. Pada 1453, Sultan Mehmed dari Dinasti Turki Utsmaniyah sukses menaklukkan kota tersebut sehingga nyatalah ramalan Nabi SAW.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Nasib Persia jauh lebih buruk daripada Bizantium. Khalifah Umar berhasil mengalahkan pasukan Kaisar Yazdgard III dalam Perang Nahavand pada 642 M. Raja Persia itu kemudian mati saat sedang melarikan diri ke arah timur.

Dengan tamatnya riwayat kekaisaran tersebut, masyarakat Persia hidup di bawah pemerintahan Islam. Mereka disebut sebagai golongan mawali. Pada awalnya, kedudukan sosialnya berada di bawah orang Arab, khususnya yang menjadi patron bagi mereka.

Sejumlah tokoh Arab kemudian mengambil sikap yang dampaknya menghilangkan kesan inferior mawali Persia. Misalnya, Husein bin Ali yang menikah dengan seorang putri Persia, Shahrbanu. Pernikahan ini dianggap menaikkan derajat kaum mawali karena telah menautkan antara Ahlul Bait dan orang Persia. Alhasil, banyak di antaranya yang menjadi pendukung cucu Rasulullah SAW itu, terutama dalam masa konfrontasi dengan Dinasti Umayyah pimpinan Yazid bin Mua’wiyah.

Pasca-Tragedi Karbala, kekuasaan politik telah beralih sepenuhnya dari kubu Ali ke Umayyah. Dari Damaskus, raja-raja keturunan Mu’awiyah bin Abi Sufyan terus mengendalikan seluruh daulah Islam. Pada masa ini, golongan mawali Persia kerap disudutkan. Mereka seolah-olah menempati strata terbawah dalam kehidupan sosial dan politik.

Perjuangan golongan mawali Persia mulai menyibakkan harapan sejak medio abad kedelapan. Bersama dengan Gerakan Hasyimiyah, mereka berupaya mendobrak kekuasaan Umayyah. Seusai Pertempuran Zab, rezim Damaskus pun runtuh. Bani Abbasiyah tampil sebagai penguasa baru.

Abbasiyah menerapkan kebijakan politik yang tidak membedakan antara orang Arab dan non-Arab. Ini menjadi kesempatan mobilitas vertikal bagi kelompok mawali Persia. Terlebih lagi, naiknya dinasti tersebut tidak terlepas dari dukungan mereka. Dekatnya Iran dengan pusat pemerintahan Abbasiyah di Irak pun menjadi nilai tambah tersendiri.

Raja pertama dan kedua Abbasiyah, as-Saffah (wafat 754 M) dan al-Mansur (wafat 775 M), menempatkan orang-orang mawali Persia di pelbagai posisi strategis. Di antaranya ialah Khalid al-Barmaki. Perdana menteri tersebut berasal dari salah satu klan termasyhur di Persia, Barmaki.

Hingga akhir abad kedelapan, banyak orang Barmaki yang menjadi tokoh terkemuka di Abbasiyah, semisal Yahya bin Khalid al-Barmaki serta Fadhil dan Ja’far. Kedua putra Yahya itu merupakan orang kepercayaan Sultan Harun al-Rasyid.

Pengaruh besar kaum mawali Persia tidak hanya pada ranah politik Abbasiyah, tetapi juga peradaban umumnya. Ada banyak tokoh dari kelompok sosial tersebut yang berkiprah dalam perkembangan ilmu-ilmu agama, pengetahuan, dan sains. Tidak sedikit darinya memimpin sejumlah pusat keilmuan yang dibangun rezim Abbasiyah di seluruh negeri Islam.

photo
ILUSTRASI Pada masa khulafaur rasyidin, orang Persia menjadi kaum mawali yang berperan signifikan. - (DOK PXHERE)

Kebangkitan intelektual

Peran signifikan kaum mawali Persia sangat terasa pada zaman keemasan Islam, yakni sejak era Abbasiyah hingga jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol tahun 1258 M. Mereka mencapai banyak hal, baik dalam dunia ilmu agama maupun umum. Dengan ilmu-ilmu agama yang dikuasainya, tokoh-tokoh mawali ini tidak kalah hebat dari para alim ulama Arab.

Di antara nama-nama yang masyhur ialah Syekh Hasan al-Bashri (wafat 728 M), Ibnu Juraij (wafat 767 M), Imam Abu Hanifah (wafat 767 M), at-Thabari (wafat 923 M), Ibnu Katsir (wafat 1373 M), dan Imam al-Ghazali (wafat 1111). Sumbangsih mereka bagi peradaban Islam bahkan diakui luas hingga saat ini.

Dalam bidang ilmu bahasa, peran kaum mawali tidak bisa dipandang sebelah mata. Golongan ini melahirkan banyak pakar gramatika dan sastra, baik bahasa Persia maupun Arab. Beberapa yang termasyhur di antaranya ialah Sibawaihi dan al-Farra.

Sosok yang pertama itu bernama asli Amr bin Utsman al-Bashri. Cendekiawan yang mengajar di Basrah pada zaman Abbasiyah itu menulis lima jilid buku Al-Kitab. Isinya membahas seluk-beluk bahasa Arab. Sementara, al-Farra bernama asli Yahya bin Ziyad. Ia lahir di Iran utara, tepatnya daerah pegunungan Daylam. Sultan Harun al-Rasyid sangat menghormatinya lantaran keahliannya dalam penguasaan bahasa Arab murni.

Selain itu, ada pula Abu Hasan Ali bin Hamzah. Lelaki Persia yang akrab disapa al-Kisa’i ini merupakan salah satu tokoh mazhab Kuffah untuk studi bahasa Arab. Di samping gramatika, kepakarannya juga meliputi ilmu membaca Alquran atau qira’at.

Pada abad ke-10, terdapat sosok Abu al-Faraj al-Ashfihani. Mawali Persia yang juga penulis Kitab al-Aghani (Buku Nyanyian) itu adalah seorang ahli sastra Arab-Persia. Ia juga berjasa dalam mengembangkan teori musik.

 
Besarnya peran para sarjana mawali di era Abbasiyah juga berarti eratnya persentuhan kultural antara Arab dan Persia.
 
 

Besarnya peran para sarjana mawali di era Abbasiyah juga berarti eratnya persentuhan kultural antara Arab dan Persia. Bahkan, lebih dari itu. Yang terjadi ialah perjumpaan multikultural. Sebab, Persia memiliki sejarah yang sangat panjang dalam mempertemukan banyak budaya, baik dari kawasan daratan Asia maupun pesisir Mediterania Timur.

Untuk bidang sastra, contoh terpenting dalam hal ini barangkali adalah Alf Laylah wa-Laylah alias Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights. Kisah-kisah di dalamnya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi cerita berbingkai. Karena mengagumi khazanah kesusastraan ini, sultan Abbasiyah memerintahkan sejumlah ilmuwan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Hasil terjemahan itu kemudian ditambahi pula dengan “bumbu-bumbu” cerita yang intinya mengapresiasi pemimpin Abbasiyah, utamanya Harun al-Rasyid sendiri. Bagaimanapun, porsi terbesar cerita berbingkai ini berasal dari hikayat Persia, Hezar Afsan (Seribu Kisah), yang juga mengadopsi banyak elemen budaya India.

 
Kontribusi kaum mawali dalam bidang sains sangatlah nyata.
 
 

Kontribusi kaum mawali dalam bidang sains sangatlah nyata. Nama-nama berikut ini adalah sebagian dari banyak contohnya. Dalam lingkup ilmu kedokteran, tersebutlah sosok Muhammad bin Zakariya al-Razi dan Fakhruddin al-Razi. Kedua “al-Razi” ini sama-sama berkebangsaan Persia walaupun berasal dari masa yang berbeda. Yang satu dari ke-10, sedangkan yang lain hidup pada abad ke-12 M.

Ibnu Zakaria menulis sebuah kitab fenomenal, Al-Hawi, yang menelaah dan mengkritik ilmu kedokteran pada masa Yunani Kuno. Hanya karena buku ini, orang-orang Eropa di abad pertengahan menggelarinya sebagai “dokter terbesar” pada masanya. Adapun Fakruddin al-Razi tidak hanya berkiprah pada ilmu medis, tetapi juga sejarah, filsafat, dan fisika.

Sang polymath merupakan yang mula-mula mengembangkan teori alam semesta majemuk (multiverse) dan menghubungkannya dengan petunjuk Alquran.

Tokoh mawali Persia berikutnya ialah Ibnu Sina (wafat 1037 M). Para sarjana Eropa menyebutnya Avicenna. Ia merupakan seorang cendekiawan genius yang merintis jalan bagi ilmu kedokteran modern. Karya monumentalnya, Al-Qanun fii al-Thibb, menjadi pegangan bagi kaum pembelajar Eropa sejak abad pertengahan. Adapun karya lain darinya, Kitab asy-Syifaa, merupakan sebuah ensiklopedi tentang obat-obatan dan gejala-gejala penyakit.

Selain mereka, beberapa dari begitu banyak nama mawali Persia yang patut dikenang ialah Jabir bin Hayyan (wafat 803 M), Nashir al-Din al-Thusi (wafat 1274 M), al-Biruni (wafat 1050 M), dan Umar Khayyam (wafat 1131 M). Itulah sebagian cerdik cendekia Muslimin Persia pada masa kejayaan Islam. Status mereka sebagai mawali sama sekali tidak mengurangi reputasinya di mata dunia.

 

photo
ILUSTRASI Para prajurit Turki pada masa klasik. - (DOK BLOGSPOT)

Turki: Mawali Baru Abbasiyah

 

Pada paruh kedua abad kesembilan, Dinasti Abbasiyah mengalami perubahan sosial-politik yang signifikan. Terutama sejak masa kepemimpinan Khalifah al-Mu’tashim Billah. Putra Sultan Harun al-Rasyid itu sangat dipengaruhi oleh jajarannya yang berasal dari mawali Turki.

Nama Turki di sini tidak identik dengan negara yang sekarang beribu kota di Ankara, melainkan sekelompok bangsa yang bernenek moyang suku-suku Turkic atau Turks penghuni stepa Asia Tengah. Berbeda dengan mawali Persia, orang-orang Turki itu berasal dari kebudayaan orang-orang yang semula nomaden.

Para pendatang Turki mulai menjadi bagian dari masyarakat kekhalifahan sejak Abbasiyah menguasai daerah sekitaran Sungai Amu Darya di Asia Tengah. Mulanya, mereka didatangkan sebagai tawanan perang atau hamba sahaya ke kota-kota besar di Irak. Elite Abbasiyah juga memanfaatkan para budak berkebangsaan Turki sebagai prajurit atau pengawal pribadi. Para pemuda dari kelompok ini dididik secara militer.

photo
Peta yang menggambarkan arus ekspansi Islam beberapa tahun sesudah Rasulullah SAW wafat. - (DOK WIKIPEDIA)

Banyak di antaranya yang kemudian tumbuh menjadi perwira cerdas dan tangguh. Lama kelamaan, pengaruhnya terasa setara dengan para jenderal Abbasiyah dari bangsa Arab. Bahkan, pada era Sultan al-Mu’tashim Billah tidak sedikit kalangan mawali Turki yang menikmati posisi penting di jajaran sipil maupun militer.

Pengaruh kaum mawali Turki di istana Abbasiyah kian meningkat. Mereka yang dahulunya berstatus semata-mata budak, kini menjadi berkuasa. Bahkan, kekuasaan para mantan budak ini di kemudian hari melampaui kontrol khalifah. Terbukti, ketika al-Mu’tashim memindahkan pusat pemerintahan ke Samarra, kota di utara Baghdad itu dihuni mayoritas orang-orang Turki.

Sejarawan menamakan fase antara zaman al-Mu’tashim dan Khalifah al-Muhtadi (wafat 870 M) sebagai Periode Anarki di Samarra. Sebab, tiga penguasa Abbasiyah yang bertakhta pada masa itu hanyalah boneka para pemimpin militer Turki. Kaum mawali ini memang tidak secara resmi menyandang status khalifah, tetapi kekuasaannya mampu menenggelamkan penyandang gelar “khalifah” itu.

 
Melejitnya dominasi Turki sedikit-banyak memudarkan pengaruh mawali Persia.
 
 

Melejitnya dominasi Turki sedikit-banyak memudarkan pengaruh mawali Persia. Hal itu tampak jelas di lingkup kekuasaan politik. Bagaimanapun, peran mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains tetaplah berkibar.

Hingga abad ke-13 M, selalu ada tokoh-tokoh Persia yang mencuat sebagai cendekiawan atau ilmuwan besar. Reputasi mereka diakui luas bukan hanya di tengah masyarakat Muslim, tetapi juga bangsa Kristen Eropa yang membaca karya-karyanya.

Bukan tanpa alasan kaum mawali ini mencapai posisi demikian. Persia merupakan sebuah peradaban yang sudah maju sejak masa pra-Islam. Mereka juga mengadopsi berbagai temuan dari peradaban-peradaban lain, semisal India, Cina, dan bahkan Yunani dan Romawi—rivalnya. Begitu menjadi bagian dari peradaban Islam, orang-orang Persia terdepan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, sejalan dengan visi Alquran dan Sunnah.


×