Pekerja memindahkan jagung ke dalam karung saat menjemur jagung di Desa Terkesi, Klambu, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (19/8/2020). Berdasarkan perhitungan Kementerian pertanian (Kementan), produksi jagung sepanjang tahun 2020 diperkirakan mencapai 24.16 ju | YUSUF NUGROHO/ANTARA FOTO
07 Oct 2021, 00:08 WIB

Pemerintah Pacu Produktivitas Jagung

Sistem perjagungan nasional dinilai belum lengkap.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajaran kabinetnya untuk meningkatkan ekosistem ketahanan pangan. Arahan tersebut khususnya untuk komoditas jagung dan peternakan ayam.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, untuk meningkatkan ekosistem ketahanan pangan tersebut, pemerintah menyiapkan tiga langkah strategis. Pertama, terkait dengan budi daya pengembangan jagung sehingga dapat meningkatkan produktivitas. Presiden meminta agar jagung dikembangkan lebih luas lagi melampaui jumlah yang ada saat ini.

“Terkait dengan budi daya, bagaimana pengembangan jagung, untuk bisa terus produktivitasnya meningkat dan produksi nasionalnya sesuai dengan target yang dibutuhkan,” ujar Syahrul seusai rapat terbatas ekosistem ketahanan pangan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (6/10).

Pemerintah juga akan memperbaiki ekosistem pascapanen hingga pengolahan komoditas pangan sesuai dengan peruntukannya. Kemudian, pemerintah akan ikut mendampingi proses pemasaran komoditas pangan tersebut. Menurut Syahrul, presiden menginstruksikannya agar melakukan pembudidayaan komoditas jagung untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.

Terkait

“Jadi, tiga tahap ini yang betul-betul presiden minta supaya semua menteri, lebih khusus saya sebagai menteri pertanian, akan main di budi daya dan bisa meningkatkan semua produktivitas jagung kita,” kata Syahrul.

Melalui langkah ini, Presiden berharap agar produktivitas jagung dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika produktivitas telah melebihi jumlah kebutuhan, hasil produksi dapat diekspor.

Selain persoalan jagung, Syahrul mengatakan, pemerintah juga menyiapkan langkah khusus terkait tata usaha peternakan ayam. Saat ini, harga telur ayam sedang anjlok dan bahkan mendorong deflasi pada bulan lalu. Menurut dia, salah satu strategi yang disiapkan adalah mendorong lahirnya industri pengolahan telur ayam.

“Salah satu agenda permanennya dibuatkan industri telur yang ada,” ujar Syahrul.

Kementerian Perdagangan menyebut sistem perjagungan nasional yang dimiliki pemerintah belum lengkap. Hal itu menjadi penyebab utama lemahnya intervensi pemerintah ketika terjadi permasalahan kenaikan harga jagung di dalam negeri.

Direktur Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan, sistem yang berlaku dalam perdagangan komoditas jagung saat ini mengacu pada mekanisme pasar. Dengan kata lain, harga yang terbentuk merupakan cerminan dari situasi penawaran dan permintaan di pasar bebas.

Ketika terjadi ketidakseimbangan di pasar, Kemendag bisa melakukan intervensi harga. Patokan dilakukannya intervensi dengan mengacu pada harga acuan pemerintah untuk komoditas jagung.

"Tapi, untuk mengawal ini instrumennya tidak lengkap dan itu akan menjadi mandul manakala tidak ada instrumennya," kata Oke.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Pertanian RI (kementerianpertanian)

Intrumen tersebut, kata dia, terkait pihak yang bisa melakukan penyerapan jagung maupun menggelar operasi pasar. Oke mengakui, sejauh ini baru komoditas beras yang memiliki instrumen lengkap dengan posisi Perum Bulog sebagai badan usaha yang menjadi stabilisator harga.

"Kita seharusnya punya cadangan jagung pemerintah sehingga apapun kondisinya kita bisa lakukan intervensi langsung," kata Oke.

Ketua Dewan Penasihat Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAAI) Eko Sandjojo mengatakan, persoalan jagung hampir terjadi setiap tahun. Situasi itu sangat tidak menguntungkan baik bagi petani maupun peternak unggas. Para petani pun menjadi kelompok yang semakin sulit mendapatkan kredit perbankan karena risiko yang diemban besar.

Menurut Eko, pemerintah harus mulai menyiapkan sistem penyimpanan komoditas yang mumpuni. Dia menilai, infrastruktur penyimpanan komoditas jagung belum lengkap. Hal ini menjadi kelemahan ketika terjadi ketidakseimbangan pasar.

"Sekarang memang kita tidak impor jagung, tapi bukan berarti itu tidak kurang. Kenyataannya kita kurang dan itu disubstitusi dengan impor gandum oleh pabrik pakan," kata Eko.


×