Azyumardi Azra | Daan Yahya | Republika

Resonansi

07 Oct 2021, 03:45 WIB

'Reperkusi' Taliban (2)

Sekitar 80 santri Afghan belajar di dua ponpes Indonesia dan Taliban tidak melarang.

OLEH AZYUMARDI AZRA

‘Veteran Afghanistan’. Ini istilah populer di sebagian dunia Muslim, termasuk Indonesia sepanjang 1990-an dan awal 2000-an.

‘Veteran Afghanistan’ di Indonesia adalah anak negeri yang ke Afghanistan (dan ke Libya) pada 1990-an dari Malaysia via Pakistan, ikut melawan komunis Soviet sekalian pelatihan militer. Berjihad melawan komunisme-ateisme wajib bagi sebagian Muslim Indonesia.

Mereka termasuk kelompok Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir yang pada 1985 melarikan diri ke Malaysia.

Sebelumnya, mereka dijatuhi pengadilan hukuman penjara sembilan tahun karena menolak Pancasila dan tak mau menghormati bendera Merah Putih. Mereka juga menolak rezim Soeharto yang mereka anggap ‘thaghut’ atau ‘fir’aunik’.

Bermukim di  Malaysia sekitar 15 tahun, mereka kembali ke Indonesia setelah Presiden Soeharto mundur dari kekuassan pada Mei 1998.

 
Selama berjuang melawan Uni Soviet, akses masuk dan bergabung dengan Mujahidin lebih mudah karena Mujahidin didukung Pemerintah Pakistan sepenuhnya.
 
 

Selama di Malaysia, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir giat mengirim sebagian jamaah muda ke Afghanistan atau Lybia via Islamabad atau Peshawar. Warga Indonesia bergabung dengan Mujahidin Afghan yang pada 1989-1996 menguasai Afghanistan.  

Selama berjuang melawan Uni Soviet, akses masuk dan bergabung dengan Mujahidin lebih mudah karena Mujahidin didukung Pemerintah Pakistan sepenuhnya.

Tidak diketahui pasti jumlah warga Indonesia ‘veteran Afghanistan’ dan ‘veteran Libya’ yang kembali ke Indonesia. Mereka kembali ke Tanah Air setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto (Mei 1998)—masa liberalisasi politik Indonesia, ketika orang dan kelompok yang dulu tersisih karena perlawanan terhadap rezim kembali mendapat kebebasan.

Ketika kembali, ‘veteran Afghanistan’ biasanya memakai paspor baru, sehingga tak terlihat rekam jejak perjalanan mereka. Lazimnya juga tak terlalu sulit mendapat paspor baru atau Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) dari KBRI Islamabad atau KBRI Kuala Lumpur.

‘Veteran Afghanistan’ menimbulkan dampak besar terhadap dinamika Islam Indonesia.

Mereka rata-rata tidak kembali sebagai warga biasa tapi masuk organisasi al-Jamaah al-Islamiyah (JI) pimpinan Abdullah Sungkar (lahir di Surakarta 1937 dan wafat di Bogor 1999) dan Abu Bakar Baasyir (lahir 1938 di Jombang).

 
Taliban berbeda dengan Alqaidah dan ISIS yang merekrut pendukung di berbagai negara untuk melakukan aksi kekerasan.
 
 

Abu Bakar Baasyir didaulat pengikutnya sebagai pimpinan organisasi baru, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang akhirnya menjadi Jamaah Ansharud Daulah (JAD) sekarang ini.

‘Veteran Afghanistan’ di Indonesia menjadi aktor utama berbagai aksi kekekerasan dan bom bunuh diri sejak Bali 1 (2002). Namun, dalam 20 tahun, pemerintah melalui Densus 88 dan BNPT berhasil mengendalikan gelombang kekerasan yang dimulai ‘veteran Afghan’.

Bergeser ke Taliban II yang kini menguasai Afghanistan, dampaknya minimal terhadap Indonesia karena Taliban bukan gerakan radikal (seperti Alqaidah atau ISIS) yang berpretensi menyebarkan paham dan gerakan secara internasional.

Taliban berbeda dengan Alqaidah dan ISIS yang merekrut pendukung di berbagai negara untuk melakukan aksi kekerasan.

Meski pemerintahannya tidak seperti diharapkan pihak internasional, Taliban berusaha dapat diterima dunia seperti tetap berhubungan dengan beberapa negara seperti, Qatar, Indonesia, atau Cina.

Pemerintah Taliban juga ingin diterima dan berbicara di SU PBB (22-24 September 2021), tetapi belum diterima karena harus diproses lebih dulu.

Pada sisi lain, tidak ada laporan tentang WNI yang pergi/datang ke Afghanistan atau Pakistan bergabung dengan salah satu dari berbagai gerakan bersenjata Afghan (seperti Mujahidin, Pashtun, Tajik).

 
Meski pemerintahannya tidak seperti diharapkan pihak internasional, Taliban berusaha dapat diterima dunia seperti tetap berhubungan dengan beberapa negara seperti, Qatar, Indonesia, atau Cina.
 
 

Aktivis Muslim Indonesia berorientasi ekstrem dan kekerasan tidak berminat pergi ke Afghanistan atau Pakistan. Sejak awal milenium baru mereka tampak lebih suka bergabung atau terekrut Alqaidah  atau kemudian ISIS.

Juga tidak ada laporan,  ‘veteran Afghanistan’ Indonesia kembali ke Tanah Air dan terlibat aksi kekerasan sejak berakhirnya kekuasaan Taliban I pada 2001.

Terus melakukan perlawanan terhadap AS, sekutu dan pemerintahan Afghanistan seperti Presiden Ashraf Ghani, Taliban sejak 2018 diterima arus utama Muslim Indonesia—tidak diperlakukan sama dengan gerakan ekstrem, radikal teroristik seperti Alaqaidah atau ISIS.

Pengakuan itu terlihat, petinggi Taliban telah empat kali bertemu Jusuf Kalla ketika wapres dan setelah tak lagi menjadi RI2. Sepanjang 2018-2019, petinggi dan ulama Taliban bertemu MUI dan ulama Indonesia lain, termasuk mengikuti ‘Trilateral Ulama Dialogue’ (Indonesia, Pakistan, dan Taliban).

Tak kurang pentingnya, sekitar 80 santri Afghan belajar di dua ponpes Indonesia dan Taliban tidak melarang. Petinggi Taliban juga pernah menyatakan bakal terus mengirim pelajar Afghan ke Indonesia.

Dengan begitu, boleh dikatakan tidak ada dampak Taliban terhadap peningkatan radikalisme atas terorisme di Indonesia. Namun, perlu dicermati segelintir warga Indonesia yang euforia dengan kemenangan Taliban.

Pemerintah RI, ormas Islam, dan tokoh pencipta perdamaian seperti Jusuf Kalla perlu tetap engage—menjalin kontak dan hubungan dengan pemerintahan Taliban. Tujuannya, membantu terciptanya perdamaian dan rehab-rekon Afghanistan,  sekaligus membangun Islam wasathiyah.  ';

×