Kerjasama Pengembangan Kota Sabang. (dari kiri) Wakil Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) Irwan Faisal, Direktur Utama Sofyan Hospitality Bagus Moeshari, Komisaris PT Powertel Megapolitan Development (PMD) Betha Jarjis, CEO PMD Leny Maryouri, K | Republika/ Wihdan

Ekonomi

05 Oct 2021, 03:05 WIB

KNEKS Dukung Insentif di KIH

Ada 12 kawasan industri yang sedang mengajukan diri menjadi KIH.

JAKARTA – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendukung penguatan sistem regulasi dan pemberian insentif dalam pengembangan Kawasan Industri Halal (KIH). Direktur Industri Produk Halal KNEKS Afdhal Aliasar mengatakan, pihaknya pun mendukung adanya revisi dan penguatan regulasi terkait hal tersebut.

"Kami mendukung rencana Kemenperin (Kementerian Perindustrian) untuk mengajukan revisi PMK Nomor 105 Tahun 2016 maupun penguatan Permenperin Nomor 17 Tahun 2020," kata Afdhal kepada Republika, Senin (4/10).

Saat ini, Kemenperin sedang mengusulkan revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 105 Tahun 2016 untuk mengakomodasi pemberian insentif untuk KIH. Selain itu, juga diusulkan revisi Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 17 Tahun 2020 tentang Tata Cara Memperoleh Surat Keterangan dalam Rangka Pembentukan Kawasan Industri Halal dengan mencantumkan relaksasi PPN penjualan kaveling di Kawasan Industri Halal.

Afdhal mengatakan, KNEKS akan menggalang sinergi yang lebih kuat antaranggota. Hal ini agar percepatan regulasi pendukung bisa dilaksanakan dengan baik, lancar, serta tepat sasaran.

"Pembicaraan kami dengan Pusat Pemberdayaan Industri Halal (PPIH) Kemenperin, ke depan ada beberapa sektor unggulan yang akan kita fokuskan lebih kuat," katanya.

Di antaranya pengembangan produk halal pada sektor makanan dan minuman, fashion, farmasi, dan kosmetik termasuk juga obat obatan atau suplemen tradisional. Semua ini akan dituangkan dalam Masterplan Industri Produk Halal Indonesia yang saat ini sedang dikerjakan.

Hingga saat ini, sudah ada tiga KIH yang ditetapkan Kemenperin. Ada 12 kawasan industri yang sedang mengajukan diri dan berproses untuk memenuhi persyaratan KIH. Afdhal menilai, hal ini menunjukkan animo stakeholder khususnya pengelola kawasan sangat baik untuk mengembangkan KIH ataupun mengembangkan klaster halal dalam kawasan industri yang sudah ada.

"Ke depannya, sebagaimana yang KNEKS strategikan juga, kita ingin KIH beroperasi dengan baik dan mendapatkan tenant-tenant yang baik sehingga industri produk halal di Indonesia semakin berkembang baik," katanya.

Afdhal berharap, tenant dalam negeri ataupun investor luar negeri bisa mengisi KIH tersebut. Pendekatan terhadap pelaku usaha juga disesuaikan dengan potensi dan keunikan dari masing masing KIH.

Ekspor halal

Platform digital Goorita.com berupaya mendorong ekspor produk halal ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Arab Saudi. CEO Goorita Yuwono Wicaksono mengatakan, komoditas yang diekspor mayoritas adalah produk UMKM. Dia menyebut, 90 persennya berupa makanan halal, seperti makanan halal siap saji antara lain gado-gado, kue bulan, sambal, dan lainnya.

"Selama 2021 Goorita.com sudah mengekspor 120 ton (produk halal) dengan nilai empat juta dolar AS," katanya.

Bersama platform digital lainnya yang tergabung dalam Asosiasi Platform Digital Ekspor (APDEI), ujar Yuwono, ekspor UMKM tahun ini dapat mencapai triliunan rupiah. Saat ini, pasar utamanya adalah diaspora Indonesia di mancanegara. Akan tetapi, menurutnya, permintaan dari warga negara lokal juga cukup tinggi.

Staf Khusus Wakil Presiden Lukmanul Hakim menyatakan, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin melakukan refocusing peningkatan ekspor Indonesia terutama produk UMKM dan produk halal. "Ekspor bidang pangan baru 17 persen dengan nilai Rp 483 triliun dan ini akan terus tumbuh," kata Lukman.

Lukman menyebutkan, ekspor UMKM dan produk halal masih kecil, tapi memiliki potensi besar. Menurutnya, sektor ini memberikan dampak ekonomi besar karena UMKM mencapai 64 juta usaha dan mempekerjakan 127 juta orang.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin berharap, para eksportir pemula belajar menangkap peluang dari dinamika dan perubahan tren ekspor pascapandemi Covid-19. Salah satunya, kata Wapres, industri halal akan menjadi penopang utama pemulihan ekonomi global ke depan.

"Saya menilai sektor industri halal, sektor kesehatan, sektor makanan dan minuman, sektor konstruksi, dan sektor pertanian akan menjadi penopang utama pemulihan ekonomi global ke depan," kata Ma’ruf.

Industri halal menjadi salah satu sektor yang tumbuh lebih baik dibandingkan sektor lainnya saat pandemi Covid-19. Ia berpesan agar generasi muda yang tertarik di bidang ekspor mulai menggali sektor industri halal.


×