Tangkapan layar Youtube saat Ustaz Abu Chaniago diserang oleh seorang lelaki berinisial H saat sedang berceramah di Masjid Baitusyakir, Batam pada Senin (20/9/2021). | Republika/Dialog Jumat
03 Oct 2021, 04:24 WIB

Di Balik Kasus Penyerangan Ulama

Masyarakat pun menyimpan segudang tanya akan sederet kasus penyerangan terhadap ulama.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Penyerangan terhadap ulama, ustaz, dan penceramah serta perusakan masjid yang terjadi akhir-akhir ini kembali meresahkan umat. Masyarakat pun menyimpan segudang tanya akan sederet kasus penyerangan terhadap ulama dan perusakan masjid yang pelakunya disebut mengalami gangguan kejiwaan.

Misalnya saja kasus pelemparan bom molotov ke masjid Cengkareng akhir tahun lalu, pelaku penusukan Syekh Ali Jaber, hingga yang teranyar pelaku pemukulan ustaz Abu Syahid Chaniago dan pelaku pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar.

Pakar intelijen Suripto menilai rangkaian kasus penyerangan yang terjadi belakangan ini tidak luput dari adanya kemungkinan sebuah operasi intelijen yang melakukan pemrograman terhadap orang yang memiliki gangguan kejiwaan. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari emosi, kepribadian dan tingkat kesadaran orang dengan gangguan kejiwaan. 

Terkait

"Dan orang yang punya pengetahuan intelijen itu mempelajari bagaimana emosinya, bagaimana kepribadiannya, bagaimana tingkat kesadarannya, bagaimana tingkat emosinya untuk tidak bisa terkendali. Pada saat saat itu dipelajari secara mendalam dan pada saat itu baru mulai diprogram untuk melajukan sasaran apakah pemukulan atau pembunuhan, penganiayaan segala macam," kata Suripto kepada Republika belum lama ini. 

Menurut Suripto, operasi intelijen semacam itu bisa dilakukan aktor negara (state actor) atau pun swasta (nonstate actor). Artinya, pelaku bisa perorangan, kelompok atau badan intelijen resmi. Karena itu, Suripto menilai adanya rangkaian kasus penyerangan ulama dan perusakan masjid yang dilakukan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) perlu diusut hingga tuntas dengan mengungkap dalangnya (mastermind). 

Suripto berpendapat, penyerangan-penyerangan yang terjadi pada ulama bukan sebatas untuk menyakiti, melukai atau membunuh per orang. Namun ia juga melihat adanya tujuan untuk membuat ketakutan di tengah masyarakat.

Suripto juga meminta Badan Intelijen Negara (BIN) untuk membuat klarifikasi atas kejadian penyerangan terhadap para ulama. "Kalau saya lihat tujuannya menimbulkan suasana panik, menimbulkan ketakutan, menimbulkan kecemasan. Dan menimbulkan fobia, jadi bukan sasarannya ulama A atau B,” jelas dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Fahwan Azumi menjelaskan perlu penelitian per kasus untuk mengetahui penyebab seseorang pengidap gangguan kejiwaan bisa melakukan penyerangan terhadap ulama. Menurut Fahwan, perlu pemeriksaan psikiatri forensik per kasus. Dengan pemeriksaan forensik juga untuk diketahui apakah pelaku bisa mempertanggungjawabkan tindakannya atau tidak.

Namun demikian, ia mengatakan perilaku kekerasan oleh ODGJ dapat disebabkan berbagai hal. Salah satu di antaranya adalah pasien akan mengalami kesulitan untuk menilai mana yang nyata mana yang tidak.

Selain itu kesulitan dalam pengendalian emosi dan ekspresi emosinya. Ini juga bisa memicu tindakan berbahaya di mana merasakan kemarahan yang hebat hingga dapat melakukan perusakan.

republikaonline

pelaku penyerangan yang terjadi di Masjid Baitusyakur, Batu Ampar, Batam, tersebut pernah dan masih dalam perawatan gangguan kejiwaan. original sound - Republika

Fahwan berpendapat bahwa pengaruh orang lain juga mempunyai kemungkinan dapat mendorong orang dengan gangguan kejiwaan melakukan tindakan kekerasan. Kendati demikian, dia menjelaskan, untuk mempengaruhi orang dengan gangguan jiwa akan lebih sulit dilakukan. 

"Dengan berbagai gejala yang ada, bisa jadi mungkin ODGJ akan lebih sulit untuk dipengaruhi dibandingkan orang sehat. Kenapa? Misalnya pada ODGJ mungkin dapat ditemukan adanya waham curiga, yang malah membuat ODGJ menjadi lebih sulit untuk mempercayai orang, apalagi sampai menuruti orang lain tersebut, atau mungkin ditemukan gangguan proses pikir, yang mungkin menyebabkannya menjadi sulit untuk memahami perintah perintah orang lain,” jelas dia.


×