Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (ketiga kiri) bersama sejumlah pejabat terkait melakukan panen jagung di Desa Tuko, Pulokulon, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (29/9/2021). | ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho

Tajuk

01 Oct 2021, 03:45 WIB

Tugas Bulog Menyalurkan Jagung

Ke depannya, kita tidak ingin lagi persoalan lonjakan harga jagung yang memberatkan para peternak unggas terulang.

Upaya pemerintah mengatasi persoalan para peternak unggas mulai menemui titik terang. Keluhan para peternak terkait harga pakan yang tinggi akibat harga jagung yang melonjak mulai ditemukan jalan keluarnya.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menugaskan Perum Bulog. Badan Usaha Milik Negara ini ditugaskan untuk menyalurkan bantuan jagung bersubsidi sebesar 30 ribu ton. Jagung tersebut akan didistribusikan ke koperasi dan dijual seharga Rp 4.500 per kilogram (kg) kepada para peternak unggas. Sebelum ini para peternak harus membeli jagung dengan harga di atas Rp 6.000 per kg atau naik sekitar Rp 1.500 per kg dari batas harga yang dipatok oleh pemerintah.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan menjelaskan, kebutuhan jagung pakan peternak layer per bulan sekitar 72 ribu ton. Bantuan jagung sebanyak 30 ribu ton dinilai cukup hingga akhir tahun karena produksi jagung dalam negeri juga terus berlangsung.

Kita berharap, subsidi jagung sebanyak 30 ribu ton tersebut dapat menjadi solusi jangka pendek para peternak. Dalam beberapa bulan terakhir ini, para peternak unggas seperti peternak ayam petelur tidak hanya menghadapi persoalan berat terkait kenaikan harga pakan.

Pada saat bersamaan harga telur di pasaran juga anjlok dan pernah berada di kisaran Rp 15 ribu per kg. Kondisi ini kemudian membuat peternak ayam bernama Suroto, menyampaikan protes ke Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan kerja ke Blitar, Jawa Timur, awal bulan September lalu.

 
Pada usaha peternakan unggas level rumah tangga, pengeluaran buat pakan 56,96 persen untuk ayam pedaging dan 71,71 persen untuk ayam petelur. 
 
 

Keresahan para peternak unggas tersebut sangat wajar. Berdasarkan publikasi statistik perusahaan unggas oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, pengeluaran terbesar perusahaan peternak unggas adalah pakan dengan proporsi mencapai 65,36 persen. Pada usaha peternakan unggas level rumah tangga, pengeluaran buat pakan 56,96 persen untuk ayam pedaging dan 71,71 persen untuk ayam petelur. 

Dengan kenaikan harga jagung otomatis pengeluaran para peternak unggas menjadi ikut membengkak. Apalagi, porsi jagung dalam pakan ternak unggas sejauh ini merupakan yang terbesar, yakni 40 persen sampai 50 persen dibandingkan bahan yang lain.

Mudah-mudahan Bulog dapat menjalankan tugasnya dengan maksimal dalam membantu para peternak unggas. Meski ini merupakan penunjukan yang sifatnya tiba-tiba, kita berharap persoalan jagung dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Terutama, tugas Bulog untuk mendistribusikan jagung seharga Rp 4.500 ke para peternak unggas melalui koperasi-koperasi.

Kita tidak ingin tugas Bulog menjadi sia-sia karena lembaga ini juga tidak memiliki stok jagung. Sedangkan kita mengetahui sebelum ini, para peternak mengeluh pasokan jagung yang terbatas sehingga menyebabkan harga jagung melonjak. 

Supaya tugas Bulog menjadi lancar dalam membantu para peternak, kita berharap Kementerian Pertanian (Kementan) dapat membantu Bulog untuk memenuhi stok yang dibutuhkan, sebesar 30 ribu ton dalam waktu singkat ini.

Apalagi, kita mengetahui, dua hari lalu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melakukan panen jagung nusantara secara serempak di berbagai provinsi yang ada di 130 kabupaten seluruh Indonesia. Panen jagung ini bagi Kementan untuk membuktikan stok jagung dalam negeri tersedia, dalam memenuhi bahan pakan secara mandiri.

 
Ke depannya, kita tidak ingin lagi persoalan lonjakan harga jagung yang memberatkan para peternak unggas terulang.
 
 

Ke depannya, kita tidak ingin lagi persoalan lonjakan harga jagung yang memberatkan para peternak unggas terulang. Kita ingin pemerintah memiliki data yang akurat terhadap produksi jagung nasional. Namun, yang tak kalah pentingnya pemerintah juga harus mempunyai data konsumsi jagung nasional setiap tahun. 

Tanpa memiliki kedua data tersebut, potensi berulangnya masalah jagung kemudian hari sangat besar. Apabila pemerintah tidak memiliki data konsumsi jagung yang benar, bukan tidak mungkin pasokan jagung melimpah di pasar karena produksi jagung nasional jauh di atas konsumsi jagung dalam negeri. 

Karena itu, sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan untuk menugaskan Perum Bulog sebagai lembaga penyangga komoditas jagung. Bukan hanya tugas sesaat kali ini menyalurkan 30 ribu ton jagung subsidi sampai akhir tahun 2021.  Agar ke depannya, persoalan jagung, baik itu karena kekurangan pasokan di pasar maupun akibat pasokan yang melimpah, dapat diatasi dengan lebih cepat.


×