KH Zia Ul Haramain | DOK IST
03 Oct 2021, 03:10 WIB

Pesantren Hadis Kian Diminati

Menjaga setiap kalimat yang keluar dari lisan Rasulullah SAW agar tidak dipelintir oleh siapapun.

 

Darus-Sunnah merupakan sebuah pondok pesantren khusus mahasiswa yang didirikan oleh almaghfurlah KH Ali Mustafa Yaqub. Sepeninggalan imam besar Masjid Istiqlal (2005-2016) itu, lembaga yang beralamat di Jalan SD Inpres No 11, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu kini dipimpin putra semata wayangnya.

Dialah KH Zia Ul Haramain. Menurut sosok yang akrab disapa Gus Zia itu, Darus-Sunnah berdiri dengan visi memajukan studi ilmu hadis di Indonesia. Ia mengatakan, perkembangan disiplin keilmuan itu di Tanah Air kian baik dari waktu ke waktu. Hal itu, antara lain, ditandai dengan munculnya program studi ilmu hadis di banyak perguruan tinggi keagamaan Islam.

“Indikasi perkembangan ilmu hadis saat ini yang kami lihat yaitu banyaknya prodi-prodi IAT (Ilmu Alquran dan Tafsir), yang sekarang itu melebarkan sayap menjadi prodi Ilha (Ilmu hadis),” ujar kiai muda tersebut.

Terkait

Darus-Sunnah diperuntukkan bagi kalangan remaja yang berstatus mahasiswa di kampus-kampus. Gus Zia menuturkan, para mahasantri itu nantinya akan diwisuda dan mendapatkan gelar dari pesantren ini begitu lulus. Dengan begitu, mereka mencapai dua prestasi sekaligus, yakni sebagai calon ahli hadis dan alumnus dari perguruan tinggi masing-masing.

“Namun, motivasi kebanyakan mahasantri (Darus-Sunnah) memang bukan gelar, tetapi benar-benar ingin mengaji selama masa mereka kuliah,” tuturnya.

Seberapa besar minat para pemuda-pemudi untuk mengkaji ilmu hadis melalui lembaga ini? Apa saja yang ditawarkan pondok tersebut? Untuk menjawabnya, berikut adalah wawancara yang dilakukan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan Gus Zia baru-baru ini.

Apa saja faedah mempelajari ilmu hadis?

Saya kira, semakin ke sini, orang-orang banyak yang semakin “sembarangan” dalam menggunakan hadis. Artinya, mereka hanya melihat bahwa suatu hadis itu sahih. Karena dikatakan sahih, mereka pun beranggapan bahwa (hadis) itu wajib diamalkan.

Padahal, tidak demikian. Sebab, banyak hadis sahih yang ternyata sulit diamalkan, khususnya oleh kita orang Indonesia. Bahkan, ada hadis sahih yang justru harus diamalkan sesuai dengan kondisi atau konteks orang Indonesia. Pemahaman kontekstual ini menjadi salah satu alasan, bahwa menurut saya, insya Allah, ke depannya ilmu hadis akan terus digeluti dan diminati banyak orang.

Bagaimana dengan institut ilmu hadis, Darus-Sunnah, yang Anda asuh saat ini?

Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah didirikan oleh almaghfurlah KH Ali Mustafa Yaqub pada 1997. Sejak awal hingga kini, kami menggunakan sistem sorogan untuk mengajarkan hadis kepada para mahasantri.

Dalam ilmu hadis, (metode) itu dinamakan qiraatu ‘ala syekh. Murid membacakan hadis di hadapan gurunya dengan menggunakan kitab-kitab yang sudah ditentukan. Kami tetap menggunakan metode ini tidak berarti konservatisme. Sebab, memang inilah thariqah atau jalan para ulama dalam mengkaji hadis, sejak zaman dahulu.

Bagaimana dengan inovasi dalam hal kurikulum atau lainnya di Darus-Sunnah?

Inovasi tentu kita lakukan. Misalnya, saat ini adalah menempatkan hadis sesuai dengan porsi pemahaman kontekstual. Maksudnya, di sini tidak hanya ada pembahasan hadis, tetapi esensinya juga dibahas. Darus-Sunnah membahas bagaimana agar hadis-hadis bisa diterapkan dalam suatu zaman, kompatibel dalam era-era tertentu.

Inilah yang senantiasa kita kaji di Darus-Sunnah, baik dari (telaah atas) kitab hadisnya maupun diskursus-diskursus lainnya. Kami di Darus-Sunnah juga tidak hanya membatasi pada kitab hadis, tetapi juga kajian atas kitab-kitab fikih, ushul fikih, akidah, dan sebagainya. Bahkan, ide-ide atau pemikiran kontemporer pun menjadi diskusi rutinan di sini, misalnya, tiap malam Ahad.

Kitab-kitab hadis apa saja yang biasa menjadi rujukan di sini?

Sejak awal Darus-Sunnah berdiri, kami selalu menggunakan Kutubus Sittah atau enam kitab induk dalam ilmu hadis. Keenamnya ialah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, dan juga Sunan Ibnu Majah.

Kitab-kitab itu adalah referensi utama yang kita kaji sepanjang hari, sepanjang tahun. Kami tidak pernah mengubah kurikulum ini sejak zaman lembaga ini didirikan. Sebab, memang dalam ilmu hadis Kutubus Sittah menjadi tonggak utama studi sunah Nabi SAW.

Selebihnya, ada kitab-kitab fikih atau ushul fikih. Kita pada dasarnya mengikuti perkembangan yang ada. Kalau misalnya fikih, kita menggunakan fikih perbandingan mazhab. Di sini, kita memakai kitab Bidayatul Mujtahid wan Nihayatul Muqtasid karya Ibnu Rusyd.

Alasannya, para mahasantri di Darus-Sunnah itu kebanyakan sudah level mahasiswa. Alhasil, pengetahuan mereka tentang fikih itu bukan hanya satu mazhab, tapi sudah lintas mazhab.

Bagaimana cara menjadi mahasantri di Darus-Sunnah?

Sekarang, jumlah mahasantri Darus-Sunnah kira-kira 300 orang. Dalam masa pandemi, ada yang datang—mungkin setengahnya—dan ada yang belajar secara daring dari rumah masing-masing. Ini untuk mencegah kerumunan di masa pandemi.

Alhamdulillah, setiap tahun kami membuka pendaftaran, jumlah pendaftar selalu banyak. Kami menetapkan sejumlah persyaratan. Misalnya, tiap mahasantri Darus-Sunnah haruslah mahasiswa, baik dari UIN (Universitas Islam Negeri), PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Alquran), atau kampus-kampus lain di sekitar Ciputat.

Artinya, mereka tidak hanya mengaji di Darus-Sunnah, tetapi juga menempuh studi akademik di luar. Ketika nanti lulus dari menempuh studi empat tahun di Darus-Sunnah, mereka juga bisa berbarengan, lulus dari kampusnya masing-masing.

Seberapa besar minat para mahasiswa untuk menjadi bagian dari pesantren ini?

Jadi, minatnya sangat banyak sekali. Bahkan, banyak kawan yang sejak semester satu di UIN dia mendaftar di Darus-Sunnah. Namun, ternyata di Darus-Sunnah itu belum diterima. Mungkin karena masih banyak saingannya. Kemudian, pada tahun depannya ketika semester ketiga, ternyata mereka mendaftar lagi di Darus-Sunnah dan baru diterima.

Darus-Sunnah setiap tahunnya hanya menerima sekira 30 mahasantri putra dan 20 mahasantri putri. Kuota ini sulit untuk berubah. Sebab, kita juga memiliki keterbatasan tempat. Selebihnya, Darus-Sunnah juga mempunyai madrasah yang menyelenggarakan pendidikan enam tahun, setingkat SMP dan SMA. Namun, madrasah ini baru (untuk) putranya saja. Yang untuk putri, belum ada.

Menurut Anda, apa saja kelebihan Darus-Sunnah sebagai sebuah pesantren ilmu hadis?

Untuk mahasantri yang lulus, kami memberikan wisuda dan ijazah untuk mereka. Maka, di sini mereka tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga gelar. Namun, motivasi kebanyakan mahasantri memang bukan gelar, tetapi benar-benar ingin mengaji selama masa mereka kuliah di kampus. Mereka ingin merasakan suasana nyantri sambil kuliah.

Rata-rata, mereka dulunya adalah alumni madrasah aliyah. Anak-anak yang lulus aliyah di pondok pesantren dulu, ketika kuliah itu inginnya tetap mondok juga. Biar keilmuan dari pondoknya tidak hilang.

Itu motivasi yang banyak saya temukan. Yang lain, motivasinya ada yang memang penasaran dengan kajian hadis di Darus-Sunnah. Mereka ingin mendalami ilmu hadis, sebagaimana ulama-ulama terdahulu.

Bagaimana pesantren hadis terus berdinamika agar tidak tergerus zaman?

Yang jelas, tantangan di setiap instansi pasti ada. Tantangan kami di Darus-Sunnah biasanya, semakin ke sini, maka kawan-kawan itu semakin terdistraksi dengan banyak hal di luar mengaji. Mereka bisa jadi terpengaruh oleh, misalnya, kesibukan organisasi di kampus. Atau, hal-hal yang berkaitan dengan internet. Umpamanya, kursus online atau pun sibuk berjualan daring.

Nah, hal-hal seperti itu kan tidak ditemukan pada masa lalu. Sebenarnya, kalau sekarang itu tantangannya lebih ke diri kita. Bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dengan media digital, misalnya. Dan juga, bagaimana ilmu hadis bisa diterima di tengah masyarakat, bukan dalam bentuk mentah.

Dalam bentuk mentah itu maksudnya, mereka hanya disodorkan kitab, lalu disuruh menerjemahkan atau membaca terjemahan. Kalau begitu, mereka tidak akan memahami apa sebenarnya maksud sebuah hadis. Di Darus-Sunnah, hadis ini ibaratnya kita “masak” terlebih dahulu agar menjadi suatu “hidangan” yang bisa dinikmati setiap orang. Namun, kami tidak menghilangkan esensi-esensi dari hadis-hadis Nabi SAW.

Terakhir, apa harapan Anda untuk para mahasantri?

Harapan saya, setiap pelajar yang menimba ilmu-ilmu keislaman, baik fikih maupun tafsir Alquran, mereka juga harus belajar hadis. Dengan belajar hadis, kita bisa mengetahui dari mana sumber suatu dalil (hadis) itu didapatkan. Jadi, ketika mendengar seorang ustaz atau mubaligh menyampaikan suatu hadis yang tanpa riwayat, kita bisa mengoreksinya.

Posisi setiap muhadis atau pelajar hadis itu adalah menjaga setiap kalimat yang keluar dari lisan Rasulullah SAW agar tidak dipelintir oleh siapapun. Kita juga harus menjaga agar tidak ada kalam-kalam atau ucapan-ucapan—yang mana sebenarnya bukanlah dari Nabi SAW—yang kemudian dinisbatkan kepada Rasulullah SAW.

Di sisi lain, kita juga harus mengantisipasi orang-orang yang hanya memahami hadis secara tekstual, tanpa tahu asbabul wurud. Mereka tidak mengetahui, mengapa Nabi SAW mengatakan hal-hal ini atau itu. Mereka tidak mengetahui lokasi di mana Nabi SAW bersabda tentang suatu hal.

Di Darus-Sunnah, kami menaruh perhatian pada hal itu. Dengan begitu, umat bisa memahami hadis secara kontekstual. Hadis-hadis kemudian dapat dicerna atau diterima masyarakat, sesuai dengan kondisi dan konteks mereka.

Jadi, bukan hadisnya yang menyesuaikan ke Indonesia, tetapi bahwa hadis itu ternyata memang bisa diterapkan di tengah orang-orang Indonesia, dengan pemahaman yang tentunya lebih humanis; bukan semata-mata kita memahami secara tekstual.

photo
KH Zia Ul Haramain (duduk, kedua dari kiri) saat acara haul alm KH Ali Mustafa Yaqub. Dari ayahandanya itu, Kiai Zia mendapatkan banyak nasihat. - (DOK Darus Sunah)

 

Dari Madinah Hingga Amerika

 

KH Zia Ul Haramain atau yang akrab disapa Gus Zia merupakan putra satu-satunya KH Ali Mustafa Yaqub. Ayahnya itu merupakan seorang pakar ilmu hadis yang memiliki reputasi nasional atau bahkan internasional. Mengikuti jejak almarhum, Gus Zia pun bertekad untuk terus menuntut ilmu-ilmu agama.

“Ayah berpesan, yang pertama, bahwa kita ini semuanya adalah pembelajar. Bahkan sampai hari kiamat, kita tidak bisa berhenti menuntut ilmu. Bapak selalu menekankan untuk belajar terus,” ujar mantan santri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta itu kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Semangat untuk menimba ilmu tergambar dari jenjang-jenjang yang pernah dilaluinya. Pendidikan tinggi ditempuhnya pertama-tama di Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah. Namun, hanya setahun dirinya di sana. Sebab, anak imam besar Masjid Istiqlal (2005-2016) itu kemudian mengikuti tes muqabalah untuk bisa terdaftar sebagai calon mahasiswa Universitas Islam Madinah.

“Alhamdulillah tujuh bulan kemudian saya diterima, sehingga semester tiga di UIN saya tinggalkan, lalu saya berangkat ke Arab Saudi sekitar akhir 2010. Mulai tahun 2011 berkuliah di sana sampai tahun 2015,” ucap bapak dua orang anak ini.

Lulus dari sana, dirinya ditawari kesempatan oleh komunitas Muslim Indonesia di Amerika (Indonesian Muslim Association in America/IMAAM) untuk mengajar. Setuju, maka berangkatlah ia ke Negeri Paman Sam. Itu dengan izin ayahandanya.

Selama di Amerika, Gus Zia juga sempat mengambil perkuliahan singkat di Montgomery College Maryland dan Middle East Institute Washington. Kira-kira satu tahun lamanya ia membimbing umat Islam di AS, khususnya komunitas IMAAM.

Pada 2016, KH Ali Mustafa berpulang ke rahmatullah. Gus Zia baru bisa kembali ke Tanah Air sekira dua pekan kemudian. Sebab, dirinya saat itu masih memiliki tanggung jawab sebagai seorang guru.

Setelah ayahnya wafat, ibunya kemudian menyarankan Gus Zia untuk meneruskan pendidikannya di Indonesia saja. Maka pada 2017, ia mengambil studi kajian Timur Tengah dan Islam di Universitas Indonesia. Dua tahun kemudian, ia lulus. Hingga kini, dirinya membagi waktu untuk mengajar di PTIQ dan Darus-Sunnah.

“Bapak sering berpesan, wala tamutunna illa wa antum katibun. Janganlah mati sebelum berkarya. Maka, jadikanlah hidup bermanfaat. Manfaatnya kalau tidak bisa secara besar, maka manfaatkanlah diri ini untuk menjaga hadis Nabi,” kata pria kelahiran Klaten, 5 Februari 1991 ini.


×