Seorang ulama di Batam diserang orang tak dikenal | Youtube
28 Sep 2021, 11:52 WIB

DMI: Waspadai Upaya Adu Domba

MUI mengingatkan aparat keamanan untuk sigap.

 

 

JAKARTA — Teror berbau agama cenderung meningkat akhir-akhir ini. Terkait hal itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) DKI Jakarta KH Ma’mun al-Ayyubi mengatakan, perlu adanya kewaspadaan akan adanya pihak yang ingin mengadu domba.

“Hendaknya setiap kita paling tidak amankan diri masing-masing. Perlu kewaspadaan, tetap waspada ada pihak lain yang ingin mengadu domba saat bangsa Indonesia tengah prihatin atas pandemi berkepanjangan. Jangan ditambah lagi," kata Kiai Ma'mun kepada Republika, Senin (27/9).

Terkait

DMI, menurut dia, prihatin atas rangkaian teror berbau agama yang marak terjadi belakangan ini. Tercatat, ada dua ustaz yang mengalami penyerangan, masing-masing di Tangerang dan Batam. Kemudian, pada Sabtu (25/9), mihrab Masjid Raya Makassar, Sulawesi Selatan, dibakar oleh pria misterius.

Atas kejadian itu, Kiai Ma’mun melanjutkan, DMI berharap kepada pemerintah dan pihak berwajib untuk mengusut tuntas kasus ini supaya umat tidak resah.

“Umat jangan sampai ketakutan. Perlu ada kejelasan, dibuka apa motivasinya supaya ada kejelasan," ujar dia.

"Apa yang disampaikan Pak JK (Jusuf Kalla), sudah memberikan statement, DMI tinggal mendukung apa yang sudah disampaikan Pak JK," kata dia melanjutkan.

Sebelumnya, JK yang juga ketua umum DMI meminta seluruh pengurus masjid di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia juga meminta pihak masjid segera melaporkan kepada yang berwenang apabila melihat sesuatu yang mencurigakan.

Dalam pandangan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas, tidak perlu ada pengamanan khusus di masjid-masjid. Namun, masyarakat harus tetap waspada dan aparat keamanan harus sigap.

“Yang penting masyarakat sadar bahwa ada ancaman terhadap para ustaz, mubaligh, dan ulama,” ujar Buya Anwar.

Ketua PP Muhammadiyah ini menjelaskan, kalau tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, pihak aparat akan kehilangan kepercayaan dari rakyat. “Dan pihak kepolisian tentu tidak mau hal itu terjadi,” katanya.

Menurut Anwar, tindakan pembakaran mihrab masjid di Makassar baru-baru ini jelas merupakan tindak kekerasan dan perbuatan terkutuk yang akan merusak suasana kehidupan sosial dan keagamaan di negeri ini. Karena itu, kata dia, MUI berterima kasih kepada pihak kepolisian yang telah berhasil menangkap pelaku.

Pihak kepolisian tidak hanya harus mengungkap kasus teror yang terjadi di Makassar tersebut, tapi juga kasus di Tangerang dan Batam yang terjadi dalam waktu berdekatan.

Dia juga meminta kepada umat Islam untuk menyerahkan kasus-kasus tersebut kepada pihak kepolisian dan para penegak hukum lainnya sehingga bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan undang-undang dan ketentuan yang berlaku di negeri ini.

Sementara, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin menekankan perlunya pembinaan kepada takmir-takmir masjid secara berkelanjutan. Menurut dia, ini penting untuk mengantisipasi potensi munculnya teror berbau agama, seperti peristiwa yang terjadi belum lama ini.

Kemenag, Kamaruddin melanjutkan, selama ini terus melakukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) bagi takmir masjid, baik dalam hal tata kelola maupun pemahaman keagamaan. Bentuk pembinaan ini, di antaranya dengan mengadakan pelatihan untuk para takmir.

"Pelatihan ini sudah, sedang, dan akan terus kita lakukan. Yang diberikan kepada takmir, di antaranya pengarusutamaan pemahaman agama yang moderat," ujarnya.

Namun, menurut Kamaruddin, ekosistem pengelolaan rumah ibadah, dalam hal ini masjid, harus terus ditingkatkan baik dari sisi SDM maupun tata kelolanya.


×