Petani memangkas dahan tanaman jagung yang siap panen di Desa Brobot, Bojongsari, Purbalingga, Jateng, Sabtu (25/9/2021). | ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
28 Sep 2021, 03:45 WIB

Kolaborasi pada Hari Tani

KUR dirancang membuka akses skala ekonomi lebih besar dan kemandirian petani.

KUNTORO BOGA ANDRI, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian

Peringatan Hari Tani Nasional, 24 September, di tengah pandemi tahun ini, patut menjadi momentum memberikan apresiasi kepada insan pertanian. Petani kita mampu membuktikan tetap menjadi penyokong utama pangan dan perekonomian bangsa.

Pada setiap masa, apresiasi dan keberpihakan pemerintah kepada petani diwujudkan dalam upaya menyejahterakan, membela hak-hak, dan mengangkat harkat dan martabat para petani.

Peringatan Hari Tani Nasional bermula ditetapkannya UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria oleh Presiden Sukarno. Di dalamnya ditegaskan soal pelaksanaan ‘land reform’, yang bermakna kewajiban negara membela petani atas hak tanah mereka.

Terkait

Iktikad baik pemerintah di setiap masanya  terhadap kaum tani perlu dikawal melalui sinergi dan kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi program pemerintah tidak hanya kepada petani dan pelaku usaha di hulu sektor ini, tetapi terintegrasi sampai hillir.

 
Di level daerah,  pembangunan pertanian takkan berputar tanpa kebijakan, program, dan aksi pemda. Pemda harus mampu beradaptasi dengan kondisi dinamis dan perubahan di lapangan.   
 
 

Pembinaan SDM pertanian, perbaikan infrastruktur, modernisasi dan mekanisasi sektor pertanian, introduksi varietas benih dan bibit unggul, informasi pasar, teknologi pascapanen, hingga distribusi dan pemasaran produk pertanian menjadi tanggung jawab bersama.

Begitu juga perumusan kebijakan. Ada Kementan yang berwenang dalam produksi, Kemendag pada distribusi dan pemasaran, Kemenperin mengurus hilirisasi, BPS pengampu data nasional, Kementerian PUPR menyediakan infrastruktur, dan peran kementerian/lembaga lainnya.

Di level daerah,  pembangunan pertanian takkan berputar tanpa kebijakan, program, dan aksi pemda. Pemda harus mampu beradaptasi dengan kondisi dinamis dan perubahan di lapangan.   

Kolaborasi bermuara pada misi kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo pada rakornas di Istana Negara (25/8). Program strategis diarahkan untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.

Presiden mengedepankan konsep korporasi petani untuk memberikan kekuatan lebih kepada petani dengan integrasi hulu-hilir yang modern efisien. Pengembangan korporasi berbasis teknologi dan pengelolaan modal terpadu.

Hilirisasi produk didorong agar memberikan nilai tambah bagi petani. Model pertanian terintegrasi bisa memotong mata rantai produksi dan distribusi sehingga mendekatkan petani dengan pasarnya.

 
Hilirisasi produk didorong agar memberikan nilai tambah bagi petani. Model pertanian terintegrasi bisa memotong mata rantai produksi dan distribusi sehingga mendekatkan petani dengan pasarnya.
 
 

Untuk permodalan, pemerintah mendorong pemanfaatan KUR pertanian. Dengan suku bunga hanya enam persen dan alokasi Rp 70 triliun, KUR dirancang membuka akses skala ekonomi lebih besar dan kemandirian petani.

Program berjalan melalui kolaborasi ini berdampak baik pada kinerja sektor pertanian. Bahkan, pada masa pandemi, sektor pertanian terbukti menjadi tulang punggung perekonomian bangsa.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan sektor pertanian meningkat tertinggi, 3,33 persen pada kuartal I/2021 dibanding pada tahun lalu, saat pertumbuhan PDB masih negatif -0,74 persen.

Indikator kesejahteraan petani naik signifikan. Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Agustus 2021 naik hingga 104,68. Kedua indikator itu menunjukkan, kesejahteraan petani perlahan, tapi pasti  meningkat.

Ekspor pertanian periode Januari-Juli 2021 tumbuh 8,72 persen atau 2,24 miliar dolar AS, dibandingkan periode sama tahun lalu. Ke depan, tantangan kian banyak. Kita dituntut berinovasi dan beradaptasi dengan segala perubahan strategis di sektor ini.

Isu jagung

Terkait isu stok jagung, pada dasarnya iklim tahun ini sangat bersahabat bagi pertanian sehingga produksi sangat baik dan normal. Kementan melakukan penguatan produksi dengan benih dan pupuk cukup hingga tata kelola usaha tani.

Saat ini, sentra jagung di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Gorontalo, NTB, hingga Sulawesi Selatan tersedia stok melimpah.

Sampai pekan IV September 2021, ada 2,75 juta ton secara kumulatif stok jagung, tersebar di gudang GMPT, pedagang besar/pengepul, dan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan pakan ternak bagi sektor peternakan rakyat dapat tercukupi dengan stok ini.

 
Saat ini, sentra jagung di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Gorontalo, NTB, hingga Sulawesi Selatan tersedia stok melimpah.
 
 

Namun, tantangan pada masa kini dan mendatang adalah mengatur distribusi dan pemasaran. Distribusi dari daerah surplus ke daerah membutuhkan jagung, penting untuk menjaga konsistensi harga yang saling menguntungkan bagi petani dan peternak.

Pengaturan pasar juga tidak dapat ditangani Kementan sendiri yang sangat konsentrasi untuk menjaga produksi. Perlu tangan pihak lain, baik kementerian, pemda, maupun swasta nasional.

Kementan menyelesaikan hulu, hilirnya juga  harus diperkuat. Basis data diyakini sudah benar dengan dukungan teknologi informasi, survei lapangan, dan laporan berjenjang.

Intervensi pemerintah dengan buffer 30 ribu ton jagung dari petani lokal dipersiapkan. Regulator lain, bisa memaksimalkan kebijakan untuk memberi subsidi langsung bagi peternak mandiri, dengan menjaga harga jagung petani tetap layak. 


×