Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di kawasan Duren Tiga, Jakarta, Jumat (30/4/2021). Pemerintah berencana membentuk holding BUMN ultramikro (UMi) yang melibatkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Mad | GALIH PRADIPTA/ANTARA FOTO
27 Sep 2021, 08:21 WIB

Menanti Ekspansi Bisnis Holding BUMN Ultramikro

Holding ultramikro akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

JAKARTA — Setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyetujui rencana penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue, kini para pelaku pasar modal menanti kiprah holding ultramikro BUMN.

Rights issue sebagai bagian dari pembentukan holding yang melibatkan BRI dengan PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) ini diharapkan dapat memperluas pendanaan bagi usaha mikro, keci, dan menengah (UMKM) yang lebih cepat dan murah.

Pengamat pasar modal, Reza Priyambada, menilai, holding tersebut dapat berpengaruh kepada perkembangan pasar modal dan khususnya dunia keuangan perbankan. “Pembentukan ultra holding mikro dapat menciptakan ekosistem pembiayaan yang besar dan menjadi pioner pembiayaan untuk menumbuhkembangkan UMKM di Indonesia,” kata Reza ketika dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Menurut Reza, investor di pasar modal sudah menyambut positif pembentukan holding ultramikro. Hal ini disebabkan investor menantikan ekspansi bisnis dan kolaborasi tiga perusahaan negara yang selama ini dikenal kuat dalam pembiayaan dan pemberdayaan usaha kecil dan mikro (UKM).

Terkait

Reza melanjutkan, momentum tersebut menjadi peluang besar bagi bank berkode saham BBRI itu untuk melakukan diversifikasi bisnis. Sekaligus ekspansi pasar yang lebih masif di sektor pembiayaan segmen mikro. Hal ini akan menciptakan ekosistem penyaluran kredit yang lebih kuat dan berkualitas, sehingga segmen usaha UMi dan UMKM lebih berdaya dan mendorong peningkatan kinerja laba holding ke depan.

Dari sisi lain, Reza pun optimistis penerbitan saham baru (rights issue) yang digelar BRI akan mendapatkan sambutan positif dari pasar. Dia memproyeksikan, jika mengacu asumsi 90 hari ke belakang, harga pelaksanaan rights issue berada pada kisaran Rp 3.900.

Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, pasar pembiayaan segmen mikro masih terbuka lebar. Pasalnya, terdapat sebanyak 91,3 juta orang Indonesia yang sebagian adalah pengusaha mikro masih unbankable atau tidak mendapat layanan lembaga keuangan formal.

"Jika seluruh hasil right issue BRI atau holding ultramikro digunakan untuk memberdayakan usaha ultra mikro, maka efeknya serapan tenaga kerja dan rasio wirausaha akan meningkat," ujar Bhima.

Bhima memaparkan, selama masa pandemi ada 19 juta tenaga kerja yang terdampak, sebagian terpaksa menjadi pengusaha mikro untuk bertahan. Oleh karena itu, dukungan pendanaan sangat penting agar mereka bisa bertahan.

Lalu ada pula manfaat scale up, sehingga tidak terus-menerus porsi usaha mikro dominan dalam UMKM mencapai 90 persen dari total usaha. "Harapannya satu tahun mendapat pembiayaan ultra mikro, kemudian menjadi usaha kecil dan seterusnya naik kelas lepas dari kategori UMKM,” kata Bhima.

Sementara itu, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menambahkan, holding ultramikro tersebut memiliki potensi yang menjanjikan karena BRI, Pegadaian, dan PMN bisa berkolaborasi untuk memenuhi pendanaan ultramikro. “Tidak ada persaingan karena satu holding bakal menaikkan margin dan membuat pendanaan lebih efektif,” ujar Hans.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, holding ultramikro akan memberikan berbagai kemudahan dan biaya pinjaman dana yang lebih murah dengan jangkauan yang lebih luas, pendalaman layanan, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Erick mengatakan, hadirnya holding akan memperkuat model bisnis perseroan masing-masing. BRI, Pegadaian, dan PNM akan saling melengkapi memberikan layanan keuangan yang terintegrasi untuk keberlanjutan pemberdayaan usaha ultramikro.


×