Sejumlah prajurit TNI beragama Hindu memanjatkan doa di depan peti jenazah Praka Anumerta Ida Bagus Putu Suwarman saat tiba di Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (22/9/2021). Ida Bagus Putu Suwarman, merupakan korban penyerangan | ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/wsj.
27 Sep 2021, 03:45 WIB

Kiwirok Masih Bergejolak

Komnas HAM meminta pemerintah menjamin keamanan nakes yang bertugas di Papua.

JAKARTA – Situasi keamanan di Kiwirok, Papua, belum sepenuhnya terkendali. Kontak senjata kembali terjadi antara pasukan gabungan TNI-Polri dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Ahad (26/9) pagi.

Satu anggota dari satuan Brimob Polri gugur dalam insiden tersebut. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal, mengatakan, personel Brimob yang gugur adalah Bharatu Anumerta Muhammad Kurniadi Sutio.

Jenazah akan dipulangkan dan dimakamkan di Kampung Paniang, Aceh. “Jenazah sudah dievakuasi menggunakan helikopter dari Distrik Kiwirok, ke Bandara Oksibil. Selanjutnya jenazah dibawa ke Jayapura untuk diantarkan ke kampung halaman,” ujar Kamal dalam siaran pers resmi Polda Papua yang diterima wartawan di Jakarta, Ahad (26/9).

Dalam rilis terpisah, Kapolres Pegunungan Bintang, AKBP Caho Sukarnito, mengatakan, kontak senjata terjadi pada Ahad (26/9) pukul 05.15 WIT. Kontak senjata tersebut berawal dari tembakan yang mengarah ke Polsek Kiwirok sekitar pukul 04.50 WIT.

Terkait

Diduga, serangan tersebut dilakukan KKB Ngalum Kupel, yang dipimpun Lamek Alipki Taplo. Tim Satgas Nemangkawi mengantisipasi tembakan dengan melakukan balasan.

“Satgas Nemangkawi melakukan ambush (penyergapan) dengan membuka perimeter oleh dua personel. Salah satunya almarhum Bharatu M Kurniadi,” terang AKBP Cahyo.

Saat membuka perimeter tersebut, kembali adanya tembakan yang mengarah ke pasukan gabungan. “Sehingga menyebabkan peluru mengenai arteri ketiak kanan Bharatu M Kurniadi,” kata Cahyo.

Situasi keamanan di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, dalam beberapa pekan terakhir mengalami peningkatan. Senin (13/9), ketika KKB Ngalum Kupel pimpinan Lamek Taplo terlibat kontak senjata dengan aparat keamanan. Dalam baku tembak tersebut seorang prajurit terluka, komandan operasi KKB Ngalum Kupel, Elly M Bidana, tewas, dan dua anggota KKB terluka.

KKB pada pekan lalu lantas menyerang dan membakar fasilitas umum milik masyarakat, seperti bangunan SD, SMP, pasar, puskesmas, dan rumah-rumah guru serta tenaga kesehatan. Satu tenaga kesehatan meninggal dunia saat berusaha menyelamatkan diri.

KKB mengaku bertanggung jawab atas insiden penyerangan dan pembakaran dengan menyatakan Kiwirok adalah zona peperangan. KKB meminta agar warga non-Papua meninggalkan wilayah tersebut atau menerima risiko dari aksi penyerangan.

Sebanyak 17 warga sipil, termasuk di antaranya tiga anak, sudah dievakuasi dari Distrik Kiwirok. Cahyo mengatakan, setelah evakuasi 17 warga sipil ke Distrik Oksibil, Ibu Kota Kabupaten Pegunungan Bintang, sudah tidak ada lagi warga bukan asli Papua yang berada di Kiwirok.

Melindungi nakes

Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, mendampingi nakes Gerald Sokoy yang sebelumnya dilaporkan hilang di Kiwirok. Direktur Kriminal Umum Kombes Faizal Rahmadani mengatakan, Gerald Sokoy sudah tiba di Sentani didampingi Bupati Pegunungan Bintang dan Wakapolres Kompol Anton Ampang.

photo
Tenaga kesehatan Gerald Sokoy (jaket biru) saat bersama para anggota TPN-PB di Kiwirok sebelum diserahkan ke keluarga, Jumat (24/9/2021). - (Istimewa)

Gerald Sokoy adalah salah satu nakes yang diinfokan diselamatkan KKB dijemput dari Okika dan diterbangkan ke Oksibil. Dari Oksibil, Bupati Bidana mendampinginya untuk melanjutkan perjalanan ke Sentani. Gerald Sokoy dilaporkan hilandg sejak insiden pembakaran dan penganiayaan terhadap rekan-rekan nakes yang bertugas bersamanya di Puskesmas Kiwirok.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan, para nakes yang berada di Papua meminta jaminan keamanan. “Teman-teman nakes yang datang ke Komnas HAM termasuk yang kami kunjungi di rumah sakit, itu sangat serius mereka meminta jaminan keamanan,” ujar Taufan.

Menurut Taufan, nakes bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga menjalankan tugas kemanusiaan di daerah rawan konflik. Untuk itu, Komnas HAM meminta Polda Papua meningkatkan jaminan keamanan untuk para nakes yang sedang menjalankan tugas di Papua.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by NEMANGKAWI_PAPUA (nemangkawi_papua)

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat, sekitar 7.500 perawat bertugas di Papua. Ketua Umum PPNI Harif Fadillah mengatakan, tidak mengetahui dengan pasti jumlah perawat yang bertugas di daerah konflik di Papua karena sebutan daerah konflik itu sendiri juga tidak jelas.

Menurut Harif, nakes yang menjadi korban penyerangan KKB di Puskesmas Kiwirok merupakan penugasan pemerintah daerah setempat. Akan tetapi, kata dia, mereka bukan pegawai negeri sipil (PNS) atau pun tenaga kontrak sehingga tidak jelas pula kompensasi yang didapatkannya.

Sumber : Antara


×