Pandangan dari udara gedung yang hancur dibom militer Israel di Gaza, 22 Maret 2021 lalu. | AP/Khalil Hamra
27 Sep 2021, 03:45 WIB

Rekonstruksi Gaza Segera Dimulai

Kendala utama rekonstruksi adalah Israel melarang bahan bangunan masuk melalui perbatasannya.

KOTA GAZA -- Empat bulan setelah serangan mematikan Israel, tahap pertama dari proses rekonstruksi di Jalur Gaza akan segera dimulai. Rencana rekonstruksi telah ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Gaza, Komite Qatar untuk Rekonstruksi Gaza, dan pihak-pihak internasional lainnya.

Wakil sekretaris Kementerian Pekerjaan Umum Gaza, Naji Sarhan, mengatakan, beberapa negara telah berjanji untuk berkontribusi pada proses rekonstruksi Gaza. Ia menyebut, pekerjaan rekonstruksi tersebut akan dimulai pada Oktober mendatang.

"Qatar menjanjikan 500 juta dolar Amerika Seikat (AS) untuk membangun kembali unit-unit perumahan yang hancur dalam serangan Israel baru-baru ini. Di mana Mesir menjanjikan 500 juta dolar AS yang akan digunakan untuk infrastruktur dan menghancurkan jalan-jalan," kata Sarhan kepada Aljazirah, dilansir Ahad (26/9).

Serangan 11 hari pada Mei 2021 lalu telah menewaskan lebih dari 260 warga Palestina, termasuk 66 anak-anak. Serangan itu ditandai dengan peningkatan penargetan terhadap rumah warga sipil dan infrastruktur.

Terkait

Sekitar 2.000 rumah juga hancur, dan 22 ribu unit lainnya mengalami kerusakan sebagian. Akibatnya, puluhan ribu warga Palestina mengungsi. Sementara itu, setidaknya empat gedung tinggi diratakan, dan 74 bangunan publik juga menjadi sasaran serangan.

Menurut Sarhan, kerugian dalam perang baru-baru ini diperkirakan mencapai 497 juta dolar. Ia mengatakan, blokade Israel-Mesir selama 14 tahun di jalur Gaza juga telah menimbulkan banyak hambatan pada proses rekonstruksi.

"Israel melarang bahan bangunan melalui penyeberangan perbatasannya, sehingga memperburuk keadaan hidup warga Palestina di Gaza," kata Sarhan.

Kesepakatan rekonstruksi mencakup tiga fase. Pertama, termasuk membangun kembali rumah tempat tinggal oleh komite Qatar. Qatar akan membangun kembali 1.000 unit yang hancur, termasuk 800 yang mengalami kerusakan sebagian.

Menurut Sarhan, Mesir akan memulai fase pertama dalam beberapa hari ke depan. Pengaturan masuknya peralatan konstruksi ke Jalur Gaza sedang dilakukan melalui perbatasan Rafah.

Sementara itu, ia mengatakan Kuwait sebelumnya berjanji untuk membangun menara yang dibom dalam serangan terakhir. Tetapi, perjanjian itu tidak disetujui secara resmi.

"Kami berharap lebih banyak donor untuk bergabung dalam proses rekonstruksi dalam tiga bulan mendatang. Termasuk Dewan Kerjasama Teluk (GCC), Uni Eropa, dan berkontribusi untuk mendukung sektor industri dan pertanian di Gaza," kata Sarhan.

Juru bicara pemerintah Gaza, Salama Marouf, mengatakan, Israel telah sepakat untuk menghapus pembatasan yang dikenakan pada bahan bangunan yang masuk ke Gaza. Mekanisme Rekonstruksi Gaza (Gaza Reconstruction Mechanism atau GRM) adalah perjanjian sementara yang dibuat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan disetujui Otoritas Palestina dan Israel pada September 2014.

Mekanisme itu dirancang untuk mengatasi 'masalah keamanan' Israel sembari mengizinkan masuknya bahan konstruksi ke Jalur Gaza dan digunakan dalam proyek konstruksi. Menurut Marouf, ada banyak material yang dilarang masuk ke Gaza karena diklasifikasikan dalam daftar 'penggunaan ganda' dari Israel. "Daftar ini sudah termasuk banyak bahan yang diperlukan seperti pompa air, lift, besi dan lainnya," kata Marouf.

Namun, kendala utama yang ditakuti oleh komite rekonstruksi Gaza adalah Israel memblokir barang meskipun ada kesepakatan. Marouf mengatakan, hal itu adalah tantangan utama dengan pengepungan terus menerus yang diberlakukan di Gaza.

Menurutnya, Israel dapat melarang masuknya bahan bangunan melalui perbatasannya kapan saja. "Kami berharap organisasi donor dan semua mitra dapat menjamin masuknya bahan bangunan secara stabil sesuai kesepakatan," ujarnya.

photo
Pandangan dari udara gedung yang hancur dibom militer Israel di Gaza, 22 Maret 2021 lalu. - (AP/Khalil Hamra)


×