Beberapa imperium dunia berupaya menaklukkan Afghanistan di sepanjang sejarah. | Republika/Islam Digest
26 Sep 2021, 03:23 WIB

Afghanistan Hingga Era Modern

Beberapa imperium dunia berupaya menaklukkan Afghanistan di sepanjang sejarah.

OLEH HASANUL RIZQA

Wilayah berkontur pegunungan ini memiliki riwayat panjang. Berbagai imperium dunia telah berupaya menaklukkannya. Bukan tanpa alasan, the Graveyard of Empires menjadi julukan negeri mayoritas Muslim itu.

Afghanistan Dalam Sejarah

“Kuburan bagi imperium-imperium dunia". Itulah julukan bagi Afghanistan. The graveyard of empires juga disebut Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 2021 lalu.

Terkait

Ungkapan itu mungkin tidak seutuhnya benar, tetapi juga sukar dianggap salah. Sejarah mencatat, Afghanistan telah berulang kali menghalau serbuan bangsa-bangsa asing yang datang kepadanya.

Memang, ada beberapa yang sempat menaklukkan negeri berkontur pegunungan dan perbukitan itu walaupun upayanya harus dibayar mahal. Kekaisaran Persia, Mongolia, dan Alexander the Great (Iskandar Agung) merupakan beberapa contoh di antaranya.

Pada abad modern, beberapa kekuatan adidaya mencoba peruntungannya. Inggris dua kali gagal mencengkeram Afghanistan. Uni Soviet pun kalah telak. AS mungkin bisa dianggap sukses karena sempat menguasai Afghanistan dalam konteks Perang Global Melawan Teror.

Paman Sam berhasil mendepak Taliban dari tampuk kekuasaan serta mendudukkan tokoh-tokoh lokal yang dekat dengan Barat. Usamah bin Ladin, yang disebut-sebut sebagai biang Tragedi 11 September 2001, juga bisa ditangkap walaupun perburuan ini “harus” memakan waktu 10 tahun.

Akan tetapi, kini militer AS sudah ditarik pulang seluruhnya. Yang ironis, Taliban kembali berkuasa di sana.

Ada beberapa alasan di balik ketertarikan sejumlah imperium-kolonialis untuk menduduki Afghanistan. Pertama-tama, negeri ini memiliki lokasi yang sangat strategis.

photo
ILUSTRASI Afghanistan merupakan sebuah negara dengan sejarah yang panjang, sekira sejak 500 tahun sebelum Masehi. - (DOK PIXABAY)

Wilayah tersebut sudah dihuni manusia sejak Zaman Batu Tua (Paleolitik) Tengah. Kawasan seluas 650 km persegi itu terletak di selatan Jalur Sutra, rute perdagangan global pada abad pertengahan. Secara alami, ia menghubungkan antara budaya Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tengah.

Nama Afghanistan berarti ‘tanah air bangsa Afghan'. Sejak ratusan tahun silam, negeri itu dikenal sebagai “jembatan” yang menghubungkan antara Asia Selatan dan Asia Tengah serta Asia Barat.

Catatan sejarah terawal mengenai kawasan tersebut ialah sebuah artefak yang diperkirakan dari masa 500 tahun sebelum Masehi (SM). Disebutkan di sana, Tanah Afghan berada dalam kekuasaan Imperium Akhemeniyah yang berbudaya Persia.

Pada 330 SM, Iskandar Agung dengan membawa balatentara Macedonia tiba di Afghanistan. Rombongan penakluk ini melalui Celah Khyber untuk mencapai India. Sepeninggalan murid Aristoteles itu, banyak dinasti menjadikan Afghanistan sebagai pusat kekuasaannya.

Banyak penguasa lahir dan tumbang, silih berganti. Bagaimanapun, budaya dan bahasa Persia mengakar kuat di tengah masyarakat setempat. Pashtun yang saat ini menjadi elemen mayoritas di sana berasal dari suku bangsa Persia.

 
Pada 330 SM, Iskandar Agung dengan membawa balatentara Macedonia tiba di Afghanistan. Rombongan penakluk ini melalui Celah Khyber untuk mencapai India.
 
 

Masuknya Islam ke Afghanistan seiring dengan meluasnya kekuasaan Muslimin di Persia pada pertengahan abad ketujuh. Islamisasi Afghanistan mulai berkembang pesat pada periode antara abad ke-10 dan 12 M. Waktu itu, Dinasti Ghazna berkuasa. Para penguasanya dari masa ke masa sangat mendukung penyebaran syiar Islam.

Raja Ghazna yang termasyhur ialah Mahmud (998-1030 M). Sembari memperluas wilayah kekuasaannya, manusia pertama yang bergelar sultan itu juga terus mendukung diseminasi dakwah Islam. Dalam masa pemerintahannya, Afghanistan pun berubah menjadi salah satu pusat peradaban Islam.

Mahmud membangun banyak pusat ilmu pengetahuan dan sains, khususnya di ibu kota, Ghazni—sekira 150 km arah selatan Kabul. Muncul tokoh-tokoh ternama dari sana. Sebut saja, ilmuwan serba-bisa al-Biruni atau sastrawan agung Persia pengarang Shahnameh, Ferdowsi.

Sultan Mahmud wafat pada 1030 M. Ghazna tidak sanggup mengatasi serbuan pasukan Alaudin Husain dari Dinasti Ghur pada 1151. Wangas ini tak bertahan lama. Afghanistan kemudian jatuh ke tangan Mongol sejak 1221.

 
Afghanistan kemudian jatuh ke tangan Mongol sejak 1221. Serbuan Mongol berdampak besar bagi rakyat setempat.
 
 

Serbuan Mongol berdampak besar bagi rakyat setempat. Sejumlah suku bangsa Afghan bertahan di selatan Pegunungan Hindu Kush. Ada yang hidup secara independen, tetapi tidak sedikit pula yang bergabung dengan Kesultanan Delhi hingga awal abad ke-14.

Sebelum abad ke-16, sebagian besar Afghanistan dikuasai seorang raja Muslim, Timur Lenk. Penguasa berbangsa Mongol itu memperbaiki berbagai infrastruktur yang dirusak para pendahulunya. Ia menjadikan Herat—kini kota terbesar ketiga di Afghanistan—sebagai ibu kota. Era Timur Lenk menandai dimulainya fusi budaya Asia Tengah dan Persia di negeri tersebut.

Babur menjadi keturunan Timur Lenk yang melanjutkan kejayaan ini. Pendiri Dinasti Mughal itu berhasil merebut Kabul pada 1504 dari Dinasti Arghun. Di kota itulah, ia mendirikan ibu kota baru. Reputasi Kabul tetap besar walaupun perhatian Mughal semakin berpusat ke Anak Benua India.

Pada 1653, Mughal kalah dalam peperangan melawan Dinasti Safavid. Kerajaan Islam dari Persia itu menguasai sebagian besar Afghanistan, termasuk daerah Kandahar di selatan negeri ini. Suku-suku Pashtun lalu bangkit memberontak. Pada awal abad ke-18, pemimpin mereka, Mirwais Hotaki, berhasil mengusir balatentara Safavid.

 
Durrani berhasil menyatukan suku-suku Pashtun di Afghanistan. Namanya pun dikenang sebagai perintis nasionalisme Afghanistan.
 
 

Sepeninggalan Mirwais, para tetua Dinasti Hotaki saling berselisih. Anak Mirwais, Mahmud, kemudian naik sebagai pemimpin. Ia berhasil memimpin pasukannya untuk melawan Safavid. Bahkan, ibu kota Safavid, Isfahan, dapat dikuasainya. Pada 1725, Mahmud dibunuh sepupunya, Shah Ashraf. Dua tahun kemudian, Ashraf Hotaki mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmaniyah.

Pada 1738, Dinasti Hotaki ditaklukkan pasukan Persia yang dipimpin Nader Shah. Jenderal itu kemudian mendirikan Dinasti Afshariyah yang pada puncak kegemilangannya menguasai seluruh Iran, Mesopotamia, sebagian Asia Tengah dan Afghanistan. Pada 1747, Nader dibunuh pengawalnya sendiri. Afshariyah pun terpecah-belah.

Di Kandahar, para pemuka suku Pashtun sepakat mengangkat Ahmad Khan sebagai pemimpin. Ia menjadi raja (shah) bergelar Padshah Durr-i Dawran (penguasa, mutiara zaman). Karena itu, dinasti yang didirikannya kemudian disebut sebagai Durrani. Ia berhasil menyatukan suku-suku Pashtun di Afghanistan. Namanya pun dikenang sebagai perintis nasionalisme Afghanistan.

Dinasti Durrani tidak bertahan lama. Sejak 1842, dominasinya digantikan Barakzai. Mulai saat itu, orientasi Afghanistan bukan lagi ke Persia atau India, melainkan Asia Tengah. Sementara itu, pengaruh imperialisme Barat kian terasa di Asia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

The Great Game

Imperium Rusia merasa berkepentingan untuk menguasai Afghanistan. Rusia menginginkan pelabuhan yang tidak membeku saat musim dingin tiba serta dapat membuka aksesnya ke Samudra Hindia. Politik Air Hangat, demikian sebutannya. Sasaran pertamanya ialah Laut Baltik, tetapi Inggris sukses menghalaunya dari kawasan perairan Eropa itu.

Awalnya, Inggris tidak merasa terancam. Namun, keadaan berubah sejak Napoleon Bonaparte mendarat di Mesir. Dari Negeri Piramida, pemimpin militer Prancis itu hendak menuju India via Iran. Britania Raya pun meningkatkan kewaspadaannya di Asia Selatan.

Napoleon cukup cerdik. Ia menjalin kerja sama dengan Rusia melalui Perjanjian Tilsit pada 1807. Isinya, Prancis dan Rusia sepakat akan bersama-sama menghadapi Inggris. Dengan adanya kesepakatan ini, Rusia mulai berambisi menguasai Lautan India. Strategi pun dirancang untuk mencaplok Afghanistan sehingga mulus jalannya mencapai India.

Namun, rencana aliansi Prancis-Rusia buyar. Pada 1815, kekaisaran Prancis yang menguasai dataran Eropa runtuh. Napoleon meninggal sekira enam tahun kemudian. Rusia akhirnya bergerak sendiri ke selatan. Tak terelakkan, Afghanistan pun menjadi ajang perebutan dominasi Rusia dan Britania Raya.

Para pakar geopolitik menyebut fenomena ini sebagai Permainan Besar (the Great Game). Mulanya, Inggris ingin terlebih dahulu menguasai Afghanistan. Emir Afghanistan Dost Muhammad Khan memberikan perlawanan sengit, tetapi akhirnya ditangkap.

photo
ILUSTRASI Afghanistan, negeri yang 90 persen datarannya adalah pegunungan dan perbukitan, terkenal dengan julukan the Graveyard of Empires. - (DOK WIKIPEDIA)

Inggris sempat menduduki Kabul. Namun, perlawanan dari rakyat Afghanistan sangat hebat. Mereka dipimpin putra Dost, Akbar Khan. Shan Suja, seorang elite Dinasti Durrani yang bertindak sebagai “boneka” Inggris, pun tumbang.

Pasukan Inggris kalang kabut. Belasan ribu prajurit Eropa ini terbantai oleh gerilyawan Afghanistan di Celah Khaiber. Inilah kekalahan paling memalukan yang harus ditanggung London dalam sejarah modern.

Basis militer Inggris tak tinggal diam. Dari India, mereka segera bergerak ke Afghanistan. Kabul berhasil dibumihanguskan. Bagaimanapun, Dost Muhammad dibiarkan menjadi pemimpin Afghanistan sehingga rakyat lokal tidak memberontak.

 
Basis militer Inggris tak tinggal diam. Dari India, mereka segera bergerak ke Afghanistan. Kabul berhasil dibumihanguskan.
 
 

Rusia melihat itu sebagai tanda bahaya. Tsar mengirim utusan rahasia ke Kabul. Hasilnya, Dost berpihak kepada Rusia. Bahkan, duta Inggris diusirnya. The Great Game episode kedua dimulai.

Inggris tidak terima akan perlakuan tersebut. Antara tahun 1878 dan 1880, nyaris seluruh Afghanistan digempur. Britania Raya menang sehingga Afghanistan berstatus protektorat Inggris. Bagaimanapun, pemberontakan demi pemberontakan seperti tak kenal henti di sana.

Pada 1919, perang besar pecah. Perjanjian Rawalpindi mengakhiri pertempuran itu. Bagi Afghanistan, inilah kemenangan diplomatik yang nyata. Sebab, London harus mengakui kemerdekaan negeri Islam tersebut.

Sementara itu, Rusia sudah tidak lagi menjadi kekaisaran sejak Revolusi Oktober 1917. Setelah melalui perang saudara, pada akhir 1922 terbentuklah Uni Soviet. Perlu waktu beberapa dekade bagi para pendukung komunisme untuk mengumpulkan “nyali”, berupaya menguasai Afghanistan.

 
Pada 1919, perang besar pecah. Perjanjian Rawalpindi mengakhiri pertempuran itu. Bagi Afghanistan, inilah kemenangan diplomatik yang nyata.
 
 

Sesudah proklamasi kemerdekaan, konflik internal terus membayangi negeri ini. Mulanya, penguasa Afghanistan hendak mencontoh model pembangunan Turki yang kala itu dipimpin Kemal Pasha. Namun, kaum konservatif Muslim menentangnya.

Afghanistan masih berbentuk kerajaan hingga 1970-an. Raja terakhirnya, Zhahir Shah, berpendidikan Barat dan menjadikan negerinya netral di sepanjang Perang Dunia II. Pada 1973, saat sedang berada di Italia, dirinya dikudeta sepupunya, yakni Muhammad Daud Khan, yang kemudian mendeklarasikan Afghanistan sebagai republik.

Hanya berkuasa lima tahun, Daud Khan lalu digulingkan elemen pro-Moskow. Gerombolan ini dipimpin Nur Mohammad Taraki dari Partai Demokratik Rakyat Afghanistan (PDPA).


×