Wakil Presiden Maruf Amin (kiri) mendampingi Presiden Joko Widodo saat meresmikan peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang dan Brand Ekonomi Syariah di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/1/2021). Dok. KIP/Setwapres | Dok. KIP/Setwapres
26 Sep 2021, 04:08 WIB

Regenerasi Amil Wakaf untuk Masa Depan

Para amil dididik selama tiga bulan untuk kompetensi sebagai amil yang profesional

OLEH IMAS DAMAYANTI

Amil merupakan ujung tombak yang menentukan berkembangnya sebuah lembaga filantropi. Untuk memaksimalkan besarnya potensi zakat di Indonesia, regenerasi amil menjadi hal yang krusial dalam menatap dunia perzakatan di masa depan.

Melihat majunya perkembangan dunia zakat dari masa ke masa, sejumlah lembaga filantropi pun kian giat melakukan peningkatan kompetensi dan regenerasi para amil. Sumber daya manusia yang tangguh diperlukan untuk menghadapi besarnya tantangan dunia perzakatan di depan. 

CEO Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Supendi mengatakan, petugas amil yang ada di BMH didominasi pemuda berusia 22-31 tahun dengan persentase sebanyak 48 persen. Sisanya berada di usia 32-41 tahun (40 persen) dan 40 tahun ke atas (12 persen).

Terkait

Sumber daya tersebut dinilai bisa menjadi kekuatan yang dapat dimaksimalkan sebagai upaya meregenerasi amil. Diharapkan, ujar dia, generasi yang dipersiapkan untuk menjadi leader lebih matang dapat tertata dengan baik.

“Karena saat ini kenyataannya mereka telah dihadapkan pada kondisi dinamika yang lebih menantang. Era disrupsi teknologi yang berdampak pada transformasi gaya hidup di masyarakat yang luar biasa,” kata Supendi.

Untuk menyongsong regenerasi amil, kata dia, BMH telah memiliki entitas kelembagaan yang bernama BMH Institute. Entitas ini dinilai memiliki peran dan fungsi untuk mencetak kader amil yang siap ditugaskan untuk posisi dan daerah yang membutuhkan.

Para amil tersebut, lanjut dia, dididik selama lebih kurang tiga bulan untuk memastikan pemenuhan kompetensi sebagai amil profesional yang merujuk pada Standar Kompetensi Kerja (SKK) amil zakat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Chief Program Officer Rumah Zakat Murni Alit Baginda mengatakan, untuk menghadapi tantangan masa depan, perkembangan teknologi yang berdampak kepada customer behaviour pun menuntut Rumah Zakat untuk menyesuaikan strategi. “Strategi untuk kelembagaan dan sekaligus bagaimana kompetensi amil. Dengan Rumah Zakat Akademi, sebagai strategy talent management Rumah Zakat, kita persiapkan amil-amil untuk tetap relevan dengan kebutuhan dunia perzakatan masa depan,” kata Murni, Selasa (21/9).

Dia menjelaskan, kompetensi amil selalu mengedepankan prinsip update dan upgrade agar keahlian mereka sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini dan masa depan. Di sisi lain dia menyampaikan bahwa hal paling penting yang ditanamkan kepada para amil adalah mengenai nilai dari pengabdian yang diemban.

Menurut Murni, pengelolaan zakat bukanlah pekerjaan main-main. Mengelola zakat adalah salah satu pekerjaan yang disebut dalam Alquran, sehingga dalam pengaplikasian dibutuhkan keseriusan bagi siapapun yang berkecimpung di dalamnya.

photo
Muzaki saat membayar zakat berupa uang kepada petugas di depan Masjid Al Azhar, Jakarta, Selasa (11/5). Panitia penerimaan pembayaran zakat fitrah Masjid Al Azhar membuka layanan pembayaran zakat, infak, sedekah dan wakaf secara drive thru selama 24 jam untuk memudahkan warga yang melintas maupun menggunakan kendaraan. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

“Para amil harus paham bahwa profesi amil adalah profesi yang sangat serius. Kita harus kelola semua aktivitas dengan sangat profesional, tingkatkan kompetensi dan jangan lupa dengan syariat yang mengatur serta yang tidak kalah penting zakat ini punya dampak pemberdayaan umat,” kata Murni.

Dia menegaskan, semua amil di Rumah Zakat harus siap untuk terekspos dalam ruang aktivitas lebih luas lagi (internasional). Oleh karena itu, mereka harus siap dengan strategy global talent guna menyongsong target-target masa depan. Di sisi lain, dia menilai, perintah berzakat yang turun kepada umat Islam ini hanya akan berakhir saat dunia ini berakhir.

Artinya, kata dia, tanggung jawab pengelolaan zakat tidak cukup dipikul oleh satu generasi. Karena itu, persiapan SDM Laznas menjadi keharusan untuk menyongsong masa depan. Dia pun berharap, ke depannya pengumpulan, pengelolaan, dan pendistribusian zakat bisa semakin tertata dengan baik.

“Harapan saya ke depan, trust muzaki semakin meningkat, pengelolaan semakin profesional dan transparan, dampak pemberdayaan kepada mustahik semakin besar, sinergi antarlembaga semakin kuat,” kata dia.


×