Gerakan wakaf, khususnya wakaf produktif terus digaungkan. | Republika/Dialog Jumat
26 Sep 2021, 04:29 WIB

Wakaf Produktif, Literasi tak Semegah Inovasi

Gerakan wakaf, khususnya wakaf produktif, terus digaungkan.

 

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Gerakan wakaf, khususnya wakaf produktif, terus digaungkan. Berbagai inovasi dikembangkan sehingga wakaf menjadi wujud yang tak bisa dibayangkan sebelumnya. Wakaf bisa berupa infrastruktur, bank, emas, hingga blokchain.

Meski demikian, inovasi yang digaungkan ternyata tak semegah realisasi pertumbuhan wakaf produktif nasional. Rendahnya literasi menjadi pekerjaan rumah besar untuk membesarkan wakaf.

Terkait

Inovasi Butuh Literasi

 

Pertumbuhan realisasi wakaf produktif belum segagah inovasinya. Perkembangan wujud wakaf dari model emas, sukuk, saham hingga blokchain ternyata belum mampu benar-benar optimal menarik minat umat. Terbukti dari potensi wakaf uang yang mencapai Rp 180 triliun baru terealisasi Rp 819 milar. 

Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Imam Teguh Saptono menerangkan, inovasi wakaf menyangkut salah satu atau kombinasi elemen wakaf, yaitu wakif, benda wakaf, ikrar, nadzir, dan mauquf alaih. Dari sisi wakif, wakaf yang sebelumnya didominasi kalangan tua ternyata juga diminati generasi milenial seiring maraknya platform wakaf digital yang memudahkan dari sisi transaksi maupun pilihan program wakafnya. Selain itu, wakaf yang  semula perorangan kini juga dilakukan secara kolektif.

Menurut Imam, inovasi wakaf juga terjadi pada benda wakaf. Apabila dahulu hanya dikenal dengan aset wakaf hanya berupa tanah, saat ini marak wakaf dalam bentuk uang, wakaf saham, wakaf linked deposito, wakaf linked sukuk, wakaf linked manfaat asuransi, wakaf profesi dan banyak lagi.

"Dari sisi ikrar wakaf, dahulu peruntukan aset wakaf hanya dikenal dengan istilah 3M, yaitu masjid atau mushala, madrasah, makam. Saat ini dikenal wakaf rumah sakit, wakaf warung atau restoran, wakaf pabrik, perusahaan, apartemen yang umumnya berorientasi komersial atau produktif," kata dia kepada Republika, belum lama ini.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Secara manajerial, kalangan nadzir wakaf juga bertransformasi dari nadzir perorangan yang pengelolaannya tradisional dan turun temurun kini menjadi kalangan muda, berpendidikan tinggi dan profesional. Menurut Imam, mereka mengelola wakaf dengan cara lebih modern.

Optimalisasi realisasi wakaf memang harus terus dilakukan. Caranya, dengan membangun kepercayaan publik lewat peningkatan profesionalisme dan kapasitas nadzir. Para pengelola wakaf juga harus terus meningkatkan literasi masyarakat, melakukan harmonisasi hukum dan ketentuan guna menciptakan iklim yang kondusif. 

Masih rendahnya skor literasi wakaf lantaran perhatian terhadap pengembangan wakaf baru muncul belakangan. Bidang wakaf juga belum masuk secara proporsional ke dalam kurikulum pendidikan formal. Kelompok alim ulama juga amat sedikit mengangkat isu wakaf ke dalam topik kajiannya.

Ketua Forum Wakaf Produktif Bobby Manulang menegaskan, upaya untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang wakaf sangat penting guna mengoptimalkan realisasi wakaf. Literasi kepada masyarakat tentang wakaf perlu diperluas lewat upaya mengubah perspektif publik jika wakaf adalah ibadah orang kaya.

Masyarakat juga harus disadarkan bahwa wakaf tidak hanya lazim ditunaikan dalam bilangan-bilangan besar sehingga orang dengan finansial terbatas belum dianjurkan berwakaf. “Serta mengubah pemikiran wakaf tak perlu segera ditunaikan,” jelas dia.

Bobby berpendapat di antara yang dapat membantu mendorong optimalnya realisasi dan perkembangan wakaf di Tanah Air adalah para lembaga filantropi. Lembaga amil memiliki peran sebagai katalisator antara donatur dan penerima manfaat melalui program-program yang dibuat, begitu pun termasuk dalam program wakaf.

 
Masyarakat kita lebih paham dan lebih mudah diajak berwakaf melalui uang, bukan berwakaf uang.
YUSUF WIBISONO
 

Di sisi lain, mereka dapat mengedukasi masyarakat tentang wakaf produktif agar lebih populer. "Lembaga filantropi bisa bertindak sebagai nazhir yang menerima wakaf fix asset dan wakaf tunai. Dua jenis wakaf ini saling melengkapi. Fix asset yang diperoleh harus mendapatkan sumber permodalan wakaf tunai agar produktif," kata dia,

Direktur Eksekutif Forum Zakat (FOZ) Agus Budiyanto mengatakan, pihaknya terus melakukan penguatan kampanye zakat, infak, dan sedekah kepada masyarakat luas. Ia berharap di tengah upaya mengampanyekan ZIS, masyarakat juga tertarik untuk mendalami tentang dunia wakaf.

"Mudah-mudahan memberikan efek juga di mana semakin populernya ZIS juga dapat meningkatkan popularitas wakaf di masyarakat," katanya.

Pengamat ekonomi syariah yang juga Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas) Yusuf Wibisono menilai potensi wakaf uang yang disebutkan sebagaimana data BWI dapat mencapai Rp 180 triliun per tahun terlalu berlebihan. Dia menilai, potensi wakaf hanya datang dari kelas menengah ke atas.

Sebagai pembanding, dia menjelaskan, potensi kurban tahunan dari kelas menengah ke atas yang diriset Ideas hanya berada di kisaran Rp 20 triliun. 

Menurut Yusuf, masih rendahnya realisasi wakaf terutama wakaf produktif bukan karena masalah literasi. Program yang ditawarkan nazhir pengelola wakaf uang belum menarik minat masyarakat Muslim.

"Menurut saya masyarakat kita lebih paham dan lebih mudah diajak berwakaf melalui uang, bukan berwakaf uang. Wakaf melalui uang lebih mudah dipahami dan lebih menggugah keinginan bersedekah masyarakat,” jelas dia.


×