Buruh tani memanen jagung di area persawahan Desa Ngasem, Kediri, Jawa Timur, Kamis (26/8/2021). | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/rwa.
24 Sep 2021, 03:45 WIB

Polemik Harga Jagung

Kita tidak ingin polemik kenaikan harga jagung ini berlarut-larut.

Persoalan kenaikan harga jagung yang dikeluhkan peternak unggas hingga kini belum ditemukan jalan keluarnya. Padahal, protes peternak unggas dilakukan dengan cara sangat menohok Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seorang peternak membentangkan poster mengeluhkan kenaikan harga jagung ketika Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Blitar, Jawa Timur, dua pekan lalu.

Protes yang disampaikan peternak ayam bernama Suroto tersebut karena kenaikan harga jagung dari Rp 4.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 6.000 kg melambungkan harga pakan. Sementara harga telur ayam terus mengalami tekanan dan menjadi sekitar Rp 15 ribu per kg dari semula pada kisaran Rp 20 ribu per kg.

Sesungguhnya, keluhan terhadap harga jagung yang tinggi sudah nyaring terdengar disuarakan peternak awal Agustus lalu. Namun, keluhan peternak tersebut seperti angin lalu. Harga jagung di pasar bukannya turun, melainkan malah terus melonjak naik. Puncak dari kekesalan peternak tergambar dari protes yang disampaikan Suroto.

Pekan lalu, Jokowi pun mengundang perwakilan asosiasi peternak, termasuk Suroto. Di Istana, Jokowi mendengarkan keluhan para peternak. Namun, satu pekan setelah pertemuan Jokowi dengan perwakilan peternak unggas, masalah utama soal jagung masih belum ditemukan titik penyelesaiannya.

Terkait

 
Sesungguhnya, keluhan terhadap harga jagung yang tinggi sudah nyaring terdengar disuarakan peternak awal Agustus lalu.
 
 

Sampai kini persoalan riil yang menyebabkan harga jagung tinggi masih menjadi perdebatan antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, saat raker dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (21/9), mengatakan kementeriannya siap memberikan subsidi harga jagung sebanyak 30 ribu ton untuk membantu para peternak unggas. Subsidi tersebut diberikan untuk penanganan jangka pendek akibat tingginya harga jagung untuk pakan unggas.

Lutfi menjelaskan, rata-rata harga jagung paling tinggi saat ini mencapai Rp 6.100 per kilogram (kg). Harga itu jauh melampaui dari acuan pemerintah sebesar Rp 4.500 per kg untuk kadar air 14 persen. Kemendag menyiapkan dana subsidi sekitar Rp 45 miliar untuk menyubsidi Rp 1.500 per kg, baik itu jagung lokal maupun impor.

Namun, Lutfi mempertanyakan jagungnya ada di mana. Karena, menurut dia, kenaikan harga jagung saat ini cenderung lebih pada faktor permintaan dan penawaran. Kemendag pun telah memperkirakan potensi kenaikan harga jagung pada Maret 2021.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan, data stok jagung sebanyak 2,3 juta ton merupakan data valid.  Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ismail Wahab menjelaskan, pihaknya melakukan pembaruan data stok jagung secara rutin setiap pekan dan ditangani langsung oleh dua unit, yakni Badan Ketahanan Pangan (BKP) serta Pusat Data dan Informasi Pertanian. 

Ismail menegaskan, masalah harga jagung saat ini bukan produksi, melainkan distribusi ke peternak terhambat. Pabrik pakan besar dan pengepul cenderung menyimpan jagung dalam jumlah besar. Hal ini dilakukan untuk mencegah gangguan suplai jagung untuk produksi pakan dan antisipasi kondisi harga jagung global yang juga sedang tinggi.

Kita berharap, persoalan harga jagung segera tuntas supaya peternak unggas dapat menjalankan usahanya dengan tenang dan menguntungkan. Mereka tidak perlu lagi mengeluh dan protes di hadapan Presiden Jokowi. Sebab, Presiden memiliki para pembantu, ada menko perekonomian dan kementerian lainnya.

 
Kita berharap, persoalan harga jagung segera tuntas supaya peternak unggas dapat menjalankan usahanya dengan tenang dan menguntungkan. 
 
 

Kementan silakan membuktikan bahwa stok jagung sebanyak 2,3 juta ton saat ini memang tersedia. Jika masalah jagung karena distribusi, Kementan bisa meminta bantuan aparat keamanan bila memang diperlukan untuk memperlancar pasokan jagung ke peternak.

Kemendag disarankan untuk segera meluncurkan subsidi harga jagung agar para peternak unggas tak lagi terbebani harga jagung yang tinggi. Jangan menunda-nunda untuk segera mencairkan anggaran subsidi jagung yang merupakan langkah jangka pendek ini.

Namun, bila polemik kenaikan harga jagung tersebut dalam beberapa hari ke depan tak juga selesai, kita berharap menko perekonomian segera turun tangan.

Kemenko Perekonomian harus mengetahui persoalan utama harga jagung yang tinggi karena faktor permintaan dan penawaran atau karena distribusi ke peternak yang terhambat. Kita tidak ingin polemik kenaikan harga jagung ini berlarut-larut, yang pada akhirnya hanya merugikan peternak unggas. 


×