Guru memeriksa suhu tubuh siswa sebelum memasuki area SLBN Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Senin (20/9/2021). Memitigasi penularan Covid-19 di sekolah adalah keniscayaan agar PTM tak menjadi klaster baru. | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
23 Sep 2021, 03:45 WIB

Mitigasi Penularan di Sekolah

Memitigasi penularan Covid-19 adalah keniscayaan agar PTM tak menjadi klaster baru.

Sejumlah sekolah di beberapa wilayah telah menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. PTM terbatas ini diberlakukan bagi wilayah yang termasuk zona Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, 2, dan 1.

Uji coba PTM terbatas ataupun simulasi PTM dilakukan sebelum pembelajaran diterapkan. Namun, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat, kasus penularan Covid-19 selama PTM terbatas diberlakukan.

Berdasarkan data Kemendikbudristek per Rabu (22/9), 1.296 sekolah melaporkan klaster Covid-19 setelah PTM terbatas digelar. Terdapat 11.615 siswa positif Covid-19. Data ini dikumpulkan dari 46.500 sekolah yang mengadakan PTM terbatas per 20 September 2021.

Artinya, data jumlah sekolah dan siswa positif Covid-19 ini hanya dalam hitungan hari. Memang, secara persentase, jumlah sekolah yang melaporkan klaster penularan Covid-19 kira-kira hanya 2,78 persen dari total sekolah yang menggelar PTM.

Terkait

Namun, yang menjadi perhatian adalah rentang waktu kejadian. Hanya dalam hitungan hari penularan virus terjadi pada nyaris 1.300 sekolah. Data statistik yang sejatinya merisaukan karena virus korona mudah sekali menular.

Belum lagi mengingat siswa tersebut tak tinggal sendirian di rumahnya. Apakah sang anak tinggal bersama kakek neneknya yang rentan tertular? Atau ayah bundanya memiliki penyakit penyerta, yang bisa membahayakan diri jika tertular Covid-19.

 

 
Data tersebut tentu harus menjadi bahan evaluasi. Bukan hanya dari segi dunia pendidikan, melainkan pula tinjauan dari aspek kesehatan masyarakatnya.
 
 

Apalagi, jika melihat lebih perinci data klaster Covid-19 di sekolah, kekhawatiran penularan lebih luas mencuat. Data Kemendikbudristek menyebutkan, dari 1.296 sekolah yang melaporkan klaster penularan Covid-19, terbanyak dari jenjang SD.  Ada 581 SD yang melaporkan terjadinya klaster penularan.

Berikutnya, jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) sebanyak 525 sekolah, 241 sekolah jenjang SMP, 170 sekolah jenjang SMA, 70 sekolah jenjang SMK, dan 13 sekolah luar biasa (SLB). Jumlah siswa yang tertular juga terbanyak dari tingkat SD.

Siswa SD yang tertular Covid-19 selama PTM terbatas adalah 6.908 anak. Ada 3.174 guru SD yang juga positif Covid-19. Adapun di tingkat SMP 2.220 siswa dan 1.502 guru positif Covid-19. Selanjutnya, di jenjang PAUD terdapat 953 siswa dan 2.007 guru positif Covid-19.

Data tersebut tentu harus menjadi bahan evaluasi. Bukan hanya dari segi dunia pendidikan, melainkan pula tinjauan dari aspek kesehatan masyarakatnya.

Apakah angka-angka ini menjadi batasan bahwa penularan akan meluas? Ataukah data tersebut menyusut dengan sendirinya karena penanganan kasus penularan dilakukan dengan baik oleh para pemangku kepentingan di daerah?

Kita semua harus belajar dari kasus varian Delta yang meledak pada Juli-Agustus lalu. Kasus varian Delta yang semula sporadis hanya di titik tertentu ternyata mengganas, bahkan meluas ke banyak daerah lain. Kasus positif harian melonjak tajam, kasus kematian tinggi.

Keinginan mendorong pembukaan sekolah demi mengejar ketertinggalan pembelajaran akibat pandemi, semestinya diiringi perhitungan matang.

 

 
Pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, sekolah, orang tua, ataupun siswa harus saling mendukung agar PTM tak memunculkan klaster baru.
 
 

Semangat agar anak didik mendapatkan pengajaran paripurna melalui PTM, jangan sampai mengabaikan  kesehatan siswa, keluarga, dan lingkungan.

 

Evaluasi dan pengawasan oleh regulator di daerah mesti detail dan menyeluruh. Tegas terhadap pelanggaran dan sigap mengalienasi kemunculan klaster.

Jika ditemukan pelanggaran protokol kesehatan oleh pihak sekolah ataupun orang tua siswa, PTM harus dihentikan. Bila ada klaster penularan baru, secepatnya dilaporkan ke pihak terkait dan segera ditangani, jangan sampai keburu menular.

Pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, sekolah, orang tua, ataupun siswa harus saling mendukung agar PTM tak memunculkan klaster baru.

Prakondisi sebelum PTM digelar dan simulasi harus dilakukan secara benar, bukan dilakukan asal-asalan. Memitigasi penularan Covid-19 adalah keniscayaan agar PTM tak menjadi klaster baru, yang bisa membahayakan kesehatan jiwa dan raga. 


×