Terdakwa mantan Direktur Investasi dan Keuangan Asabri, Hari Setianto (kiri) mendengarkan keterangan saksi saat sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (22/9/2021). Saksi mengungkapkan, PT ASABRI membeli saham investasi yang secara anal | Republika/Thoudy Badai
23 Sep 2021, 03:45 WIB

Saksi Sebut ASABRI Beli Saham tak Layak

Saksi mengungkapkan, PT ASABRI membeli saham investasi yang secara analisis keuangan tak layak dibeli.

JAKARTA – Sidang lanjutan kasus korupsi PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) berlanjut pada pemeriksaan saksi-saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Rabu (22/9). Dalam keterangan saksi diungkapkan, PT ASABRI melakukan pembelian saham investasi yang secara analisis keuangan tak layak dibeli.

Dua orang saksi Triyono dan Gustidar dari bagian Divisi Pengelolaan Investasi PT ASABRI memberi keterangan untuk beberapa terdakwa. Yakni, Direktur Utama PT ASABRI periode Maret 2016-Juli 2020 Letjen Purn Sonny Widjaja, Dirut periode 2012-Maret 2016 Mayjen Purn Adam Rachmat Damiri, dan Direktur Investasi dan Keuangan periode Juli 2014-Agustus 2019 Hari Setianto.

Kemudian, Dirut PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP) Lukman Purnomosidi, Direktur PT Jakarta Emiten Investor Relation Jimmy Sutopo, Dirut PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat.

Dalam persidangan, majelis hakim yang diketuai Ig Eko Purwanto menanyakan terkait otoritas pembelian investasi saham di direksi. Saksi mengaku, keputusan pembelian investasi berada pada dirut. "Iya pembelian itu sampai keputusan di dirut," kata Triyono, Rabu (22/9).

Terkait

photo
Terdakwa mantan Dirut PT ASABRI periode 2016-2020 Sonny Widjaja (kiri) mendengarkan keterangan saksi saat sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (22/9/2021). - (Republika/Thoudy Badai)

Hakim kemudian menanyakan, bagaimana saksi melihat ketika direksi menginvestasikan ke produk di luar LQ45 dan saham bluechip. Sebab, dalam keterangan saksi sebelumnya, PT ASABRI terbukti membeli saham investasi di luar saham bluechip dan LQ45.

Saksi Triyono kemudian menyebut, kemungkinan kebijakan pembelian saham di luar bluechip dan LQ45 itu untuk dicampur dengan saham bluechip dan LQ45 agar laporan keuangan terlihat tetap baik. "Sepengetahuan saya pembelian yang dicampur dengan di luar saham LQ45 dan bluechip supaya kelihatan bagus," katanya.

Saksi Triyono juga mengakui pembelian saham milik perusahaan Benny Tjokrosaputro dan Lukman Purnomosidi tanpa dilalui dengan penawaran formal. Bahkan, menurut Triyono, saham yang dibeli ASABRI dinilai tidak layak dibeli.

Hakim kembali menegaskan apakah mekanisme pembelian dilakukan melalui dirut. Saksi Triyono mengatakan memang langsung dari dirut. Namun, ia mengakui ada pedoman mekanisme pembelian saham investasi di PT ASABRI.

"Mekanismenya dibuatkan laporan perencanaan dan analisis saham-saham mana saja yang memiliki prospek bagus, dan terakhir diserahkan ke dirut," katanya.

Kemudian hakim menanyakan, apakah otoritas pembelian pada sampai dirut atau tidak. "Iya pembelian itu sampai keputusan di dirut," ujarnya.

Pada Senin (20/9) lalu, sejumlah saksi juga mengungkap soal proses keputusan investasi di PT ASABRI. Misalnya, Kabid Obligasi dan Reksadana ASABRI periode 2013-2016, Herry Wahyuni, mengaku walaupun dalam proses investasi ada pedoman yang harus diikuti, tetapi faktanya semua penentu kembali kepada direksi ASABRI.

"Selama tiga tahun saya menjabat, hanya menyalin dari perencanaan investasi sebelumnya, dari direksi. Karena sudah diperintah, tinggal melaksanakan," kata Herry.

Walaupun, Herry mengakui, jabatan yang ia emban memiliki tanggung jawab melakukan perencanaan dan menganalisis setiap investasi. Namun, karena sudah ada arahan dari pimpinan, ia tinggal meneruskan perencanaan ke pimpinan, kemudian melaksanakan investasi. "Yakni dengan membayar ke berbagai manager investasi yang ditunjuk," ujarnya. 


×