Presiden Joko Widodo (kanan depan) bersama Ketua DPR Puan Maharani (kiri depan), Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan (kanan belakang) dan Menteri BUMN Erick Thohir meninjau pabrik Hot Strip Mill 2 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk usai diresm | ANTARA FOTO/Biro Pers Media Setpres/Agus Supa
22 Sep 2021, 11:53 WIB

Erick Thohir Perkuat Fondasi Pertamina

Target valuasi Pertamina 100 miliar dolar AS dikejar lewat kehadiran enam subholding.

JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan cara agar target valuasi PT Pertamina (Persero) sebesar 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.420 triliun bisa tercapai. Ia meyakini, dengan adanya enam subholding usaha Pertamina yang telah terbentuk dapat mengejar target valuasi tersebut.

"Ini juga kita akan pastikan subholding-subholding Pertamina ini akan menjadi fondasi yang kuat bagi Pertamina menuju target valuasi 100 miliar dolar AS karena memang Pertamina sendiri sudah masuk 500 perusahaan global terbesar. Jadi, tidak ada istilah turun, tapi harus terus naik,” kata Erick saat peresmian pabrik industri baja di Cilegon secara virtual, Selasa (21/9).

Menurut Erick, penting untuk menjaga fondasinya supaya pada 2024 Pertamina bisa memiliki penjualan 92 miliar dolar AS dan keuntungan sebesar 8 miliar dolar AS. Dengan demikian, target valuasi 100 miliar dolar AS tercapai. "Kalau kita melihat sendiri performanya luar biasa dengan kita memfokuskan masing-masing subholding dan menjadikan expertise yang terbaik," ujar Erick.

Erick menjelaskan, di hulu ada potensi temuan baru gas dan minyak bumi, yakni 204 juta barel. Hal ini merupakan kabar menggembirakan di kala terus menurunnya produksi nasional.

Terkait

Di hulu juga pada kuartal II 2021 Pertamina mencatatkan keuntungan 1 miliar dolar AS. Lini usaha kilang dan petrochemical juga sebelumnya menjadi beban sekarang sudah untung 280 juta dolar AS.

Erick juga menyinggung transformasi di Pertamina dan perusahaan pelat merah lainnya. Kementerian BUMN terus melakukan transformasi BUMN yang termasuk dalam 88 proyek strategis BUMN hingga tahun 2023 yang telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Pertamina (Persero) (pertamina)

Proses transformasi BUMN yang dilakukan mulai dari restrukturisasi di BUMN, pembentukan holding dan subholding, hingga pembentukan klaster-klaster industri strategis. 

 

Menurut Erick, transformasi total yang harus dilakukan di seluruh BUMN menjadi sebuah keharusan, apalagi nanti menghadapi kondisi pasca-Covid-19 semua akan berubah. Karena itu, tidak hanya restrukturisasi bisnis model, tetapi juga tetap harus didampingi efisiensi dan tidak kalah pentingnya inovasi bisnis serta transformasi human capital.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, holding migas yang dibentuk sejak 2018 terus berjalan. Walaupun tahun lalu dunia diterpa pandemi Covid-19, sesuai arahan pemegang saham, agenda transformasi tidak boleh berhenti, bahkan harus dipercepat.

Nicke menjabarkan, Pertamina memiliki tiga tugas yang harus dilakukan secara paralel, yakni Pertamina harus menyediakan dan mendistribusikan untuk seluruh masyarakat Indonesia dan industri. Namun, Pertamina juga ditantang melakukan pengembangan dan melangkah untuk menjawab energi transisi.

Adapun enam subholding Pertamina yang sudah terbentuk adalah upstream, refining dan petrochemical, commercial and trading, gas, integrated marine logistics, dan power and new renewable energy.

"Bagaimana cara kita melaksanakan? Kita membagi kapal besar Pertamina dengan membuat enam kapal-kapal kecil yang kita sebut subholding,” kata Nicke.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Pertamina (Persero) (pertamina)

Menjawab keraguan mengenai pemisahan subholding, Nicke menyebutkan, kuncinya adalah integrasi yang dilakukan oleh holding dalam hal operasional dan komersial serta mengawasi tugas- tugas yang diberikan oleh negara. Dengan demikian, Pertamina sebagai holding akan tetap ramping dengan fungsi integrasi.

PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan strategi sebagai subholding komersial dan perdagangan mendukung pencapaian target Pertamina pada 2024. Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina Alfian Nasution menyampaikan, pihaknya siap berlari mencapai visi menjadi salah satu perusahaan energi terbesar di Asia Pasifik, mendukung pencapaian aspirasi Pertamina 100 miliar dolar AS pada 2024.

Dengan legal end-state, Pertamina Patra Niaga selaku subholding Pertamina bertugas mengelola bisnis BBM, LPG, avtur, serta produk petrokimia, baik secara business to business (B2B) maupun business to customer (B2C) secara langsung. Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga turut mengelola seluruh infrastruktur fuel terminal, depot LPG, dan depot pengisian pesawat udara (DPPU).


×