Ilustrasi pemberitaan perusahaan Evergrande | Youtube
22 Sep 2021, 11:07 WIB

BI Cermati Dampak Gagal Bayar Evergrande

BI akan mewaspadai dampak kasus gagal bayar utang yang dialami perusahaan properti Cina Evergrande.

JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) akan mewaspadai dampak kasus gagal bayar utang yang dialami perusahaan properti Cina Evergrande. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, kasus gagal bayar utang tersebut berpengaruh terhadap ketidakpastian pasar keuangan global.

Hal itu juga kemudian memengaruhi pasar keuangan Indonesia. "Tentu saja, yang dulu memang ketidakpastiannya tinggi, terus mereda dalam jangka pendek. Ini terpengaruh apa yang terjadi di Tiongkok, terutama kegagalan bayar korporasi," ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Selasa (21/9).

Menurut Perry, saat ini kondisi pasar modal Indonesia mengikuti sejumlah sentimen, baik dari eksternal maupun domestik. Meski ada sentimen negatif dari eksternal, terdapat sentimen positif, antara lain, berupa perkembangan ekonomi yang terus membaik di Tanah Air.

“Pasar modal Indonesia lebih mencerminkan kondisi fundamental Indonesia daripada teknikal pasar global," tuturnya.

Terkait

Keadaan pasar global yang disebabkan gagal bayar perusahaan Cina, kata dia, tidak terlalu berdampak pada investasi yang masuk ke Indonesia. BI mencatat, dari sisi investasi portofolio, terjadi aliran modal asing masuk ke Indonesia atau nett inflow sebesar 1,5 miliar dolar AS selama periode Juli sampai 17 September 2021.

Masuknya aliran modal tersebut,dia menambahkan, juga menjadi salah satu faktor penyebab nilai tukar rupiah relatif membaik atau setidaknya stabil. "Kami terus mengikuti dan memantau pengaruhnya sejauh ini, terutama ke pasar modal, lalu berangsur mereda. Sementara (pengaruhnya) di pasar SBN (Surat Berharga Negara) dan nilai tukar tidak banyak," ujar Perry.

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) pada Selasa (21/9) ditutup melemah seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak dari potensi gagal bayar utang Evergrande. IHSG melemah 15,56 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.060,76. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,1 poin atau 0,36 persen ke posisi 851,73.

"Pergerakan pasar saham Asia merespons negatif kasus meningkatnya risiko di Cina di mana perusahaan properti terbesar di negara tersebut sedang dicermati oleh pelaku pasar di seluruh dunia," tulis tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas.

Regulator telah memperingatkan bahwa kewajiban China Evergrande Group sebesar 305 miliar dolar AS dapat memicu risiko yang lebih luas terhadap sistem keuangan Cina jika utangnya tidak distabilkan. Dari dalam negeri, pelaku pasar merespons positif keputusan BI untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada 3,5 persen.

Keputusan itu sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia melihat kinerja ekonomi domestik telah menunjukkan adanya perbaikan secara bertahap seiring dengan perbaikan mobilitas akibat pelonggaran kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Pada awal Agustus 2021, aktivitas domestik membaik dan tecermin dari beberapa indikator, di antaranya penjualan ritel, PMI manufaktur, serta sistem kliring BI dan RTGS yang menunjukkan adanya peningkatan. Kinerja ekspor juga tetap kuat seiring dengan kenaikan permintaan dari mitra dagang.


×