Porter mendorong perempuan Afghanistan saat melintasi perbatasan menuju Pakistan di pos perbatasan Chaman, Pakistan, Kamis (19/8/2021). | AP/AP

Internasional

Pakistan: Jangan Buru-Buru Akui Pemerintahan Taliban

UNHCR memperkirakan lebih dari 9.000 pengungsi Afghanistan tiba di Pakistan.

NEW YORK – Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi mengatakan, para penguasa baru Afghanistan harus memahami lebih peka dan lebih menerima opini dan norma internasional, Senin (20/9) malam. Sikap tersebut harus diterapkan oleh Taliban jika menginginkan pengakuan dan bantuan dalam membangun kembali negara yang dilanda perang itu.

Qureshi mengatakan, negara-negara lain mengawasi untuk melihat kondisi yang berkembang di Afghanistan sebelum memberikan pengakuan. “Saya tidak berpikir ada orang yang terburu-buru untuk mengakui pada tahap ini,” ujarnya.

Menteri Pakistan itu mengatakan, tujuan negaranya adalah perdamaian dan stabilitas di Afghanistan. Untuk mencapai itu, Islamabad akan menyarankan kepada warga Kabul bahwa mereka harus memiliki pemerintahan yang inklusif.

Pernyataan awal Taliban, menurut Qureshi, menunjukkan bahwa kelompok yang memimpin Afghanistan saat ini tidak menolak gagasan itu. "Mari kita lihat," ujarnya.

Qureshi mengungkapkan, harapan agar Taliban memenuhi janji mereka. Dia menyoroti tentang nasib anak perempuan dan perempuan dewasa yang akan diizinkan pergi ke sekolah, kampus, dan universitas.

Qureshi sangat mendesak Amerika Serikat dan negara-negara lain yang telah membekukan uang dari bekas Pemerintah Afghanistan untuk melepaskannya. Permintaan ini karena memperimbangkan uang Afghanistan yang harus dihabiskan untuk rakyat Afghanistan.

photo
Porter mendorong perempuan Afghanistan saat melintasi perbatasan menuju Pakistan  di pos perbatasan Chaman, Pakistan, Kamis (19/8/2021). - (AP/AP)

 Etnis Hazara

Sejak Taliban merebut Kabul pada 15 Agustus, badan pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan lebih dari 9.000 pengungsi Afghanistan tiba di Pakistan. Sekitar 30 persen di antaranya masyarakat etnis Hazara. Masih kuat dalam ingatan mereka tentang perlakuan pemerintahan Taliban pada 1996 hingga 2001.

"Kami dua bahaya pada kami, satu mengancam nyawa kami dan yang lainnya (bahaya) pengangguran, jadi tidak ada cara bagi kami untuk bertahan lebih lama," kata mantan dosen yang kini berada di Kota Mazar-e-Sharif, Muhammad Ali Muhammadi, dikutip Aljazirah, Selasa (21/9).

Muhammadi mengatakan, ia ingin pulang ke Afghanistan. "Namun, kami tidak mempercayai pemerintah kami saat ini, kami tidak tahu kapan mereka mulai melakukan ketidakadilan lagi," kata pria berusia 28 tahun ini.

Hazara yang mayoritas penganut Islam Syiah menjadi target serangan Taliban selama puluhan tahun. Agustus lalu, organisasi hak asasi manusia, Amnesty International, menemukan Taliban membunuh sembilan orang Hazara saat merebut Provinsi Ghazni pada Juli lalu. Beberapa tahun terakhir kelompok teroris bersenjata ISIS juga mengincar etnis Hazara di Afghanistan. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat