Warga memungut sampah di pinggir pantai kawasan Kedung Cowek, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (29/8/2021). Kegiatan bersih-bersih sampah yang dilakukan oleh Tunas Hijau dan warga tersebut sebagai wujud kepedulian terhadap kebersihan lingkungan di kawasan panta | ANTARA FOTO/Didik Suhartono
21 Sep 2021, 13:51 WIB

Ajak Lestarikan Lingkungan dengan Film

Kampanye kreatif lebih efektif mengajak masyarakat lestarikan lingkungan.

JAKARTA -- Lewat film bertajuk "Bude Jo Belajar Kelola Sampah", pemerintah mengajak masyarakat untuk bisa mengelola sampah guna mendukung penanganan masalah sampah laut.

"Film kini menjadi salah satu wadah yang baik untuk menyampaikan pesan bahwa ada berbagai masalah yang kita hadapi, salah satunya mengenai sampah di laut," kata Asisten Deputi Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Rofi Al Hanif dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Melalui resensi film "Bude Jo Belajar Kelola Sampah" yang digelar secara virtual, Senin (20/9), sebagai rangkaian Pekan Literasi Maritim dalam rangka peringatan Hari Maritim Nasional, pemerintah berharap bisa melakukan sosialisasi soal penanganan sampah laut.

Rofi menuturkan sampah di laut merupakan akibat dari tidak terkelolanya sampah-sampah di darat dengan baik dan masih kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya penanganan sampah.Laut kini menjadi sebuah tempat penampungan sampah terakhir yang tentunya menimbulkan berbagai dampak buruk bagi manusia dan ekosistem yang ada.

Terkait

Penanganan sampah di laut pun kini sudah menjadi ambisi yang besar bagi pemerintah untuk ditangani. Berbagai upaya mulai dari pengukuhan kebijakan hingga sosialisasi masif terus dilakukan. "Kami membutuhkan kerjasama masyarakat untuk mengurangi sampah di laut ini, film yang digarap KLHK ini begitu ringan dan bagus untuk dicontoh oleh berbagai kalangan, khususnya kita yang setiap harinya terus memproduksi sampah," tegasnya.

Menurut Rofi, kini kampanye dan sosialisasi tidak lagi dapat dilakukan secara langsung, melainkan harus disisipkan melalui berbagai pesan yang dapat digarap melalui karya seni seperti film ini. "Masyarakat kini sejatinya sudah lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah demi menjaga lingkungan dan sudah menjadikan ini sebagai bagian dari gaya hidup," kata Kepala Seksi Bina Peritel Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Agus Supriyanto.

Sepakat dengan hal tersebut, Wira Hardiprakoso selaku produser film seri ini cukup takjub dengan keadaan sampah yang tidak terolah begitu besar. "Saya jadi tahu banyak kalau memang manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi itu memproduksi banyak sekali sampah, dan kalau tidak dikelola dengan maksimal, ya kembali lagi merugikan manusia," ungkapnya.

Melalui film ini diharapkan seluruh masyarakat Indonesia dapat mulai tersadar dan mau beraksi untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia secara kolektif, demi masa depan bangsa ini yang bebas sampah.Beberapa langkah kecil seperti memilah sampah, memilih tindakan yang paling sedikit menghasilkan sampah, penerapan zero-wate living, diharapkan dapat berkontribusi bagi keadaan ini.

Piala Adipura tingkat Kabupaten Bekasi

Dalam peringatan World Cleanup Day (WCD) Kabupaten Bekasi 2021, Pj Bupati Bekasi Dani Ramdan akan melakukan penilaian dan memberi penghargaan. Penghargaan akan diberikan kepada kepada desa dan kecamatan yang berhasil mengelola sampah dengan baik.

Selain itu, pemkab juga akan menobatkan daerah paling bersih di Kabupaten Bekasi. Ide ini berangkat dari masih banyaknya warga yang membuang sampah ke sungai. Hal itu disebabkan oleh sistem pelayanan pengangkutan sampah di daerah aliran sungai yang belum memadai.

"Kita akan buat Adipura versi Kabupaten Bekasi, dan pada peringatan World Cleanup Day tahun depan, kita akan umumkan mana kecamatan terbaik," ucap dia, dalam keterangan tertulis, Ahad (19/9).

Dani mengatakan, kegiatan bersih-bersih sampah di Kabupaten Bekasi tidak berhenti setelah usainya puncak peringatan World Cleanup Day tanggal 18 September lalu. Namun, akan dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya.

"Nanti kita akan rutinkan setiap bulan. Di semua desa dan kecamatan di Kabupaten Bekasi, akan kita lakukan kegiatan bersih-bersih seperti ini," ungkapnya.

Selain itu, Dani meminta, agar pengolahan sampah lingkungan di kawasan perumahan dapat dijalankan dengan baik melalui proses pemilahan, reduksi dan daur ulang. "Jadi tidak hanya mengandalkan pengangkutan ke TPA Burangkeng. Karena saat ini sudah penuh dan tahun depan sudah tidak bisa menampung sampah lagi," ujar dia.

Pemkab Bekasi mengerakkan seluruh perangkat daerah, termasuk para camat dan kepala desa untuk melaksanakan aksi bersih-bersih lingkungan secara serentak, mulai tanggal 12 hingga 18 September 2021 kemarin.

Acara tersebut digagas oleh Jangkar Ecovillage bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi dan komunitas pegiat lingkungan ini tersambung secara virtual ke 23 Kecamatan se-Kabupaten Bekasi.

TPST Bantargebang

Di tempat terpisah, Pemkota Bekasi tengah mengevaluasi kontrak kerja sama TPST Bantargebang dengan Pemprov DKI Jakarta, menyusul berakhirnya kontrak pada akhir Oktober mendatang.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi yang akrab disapa Pepen ini mengharapkan, ada langkah strategis yang dapat mengubah pembuangan sampah itu menjadi energi baru terbarukan. Hal itu bisa memberikan multiplier effect sekaligus mengurangi deposit sampah.

"Harus ada tempat pembuangan sampah terpadu yang menggunakan energi terbarukan, yaitu menjadi listrik, menjadi bahan batu briket bara, supaya mengurangi deposit," ujar dia, Sabtu (18/9).

Pembuangan sampah yang ada, masih menggunakan metode yang lama. Yakni open dumping dan landfill. Cara yang cukup mudah, namun jika tidak ditangani segera bisa memicu masalah baru yang lebih besar.

Saat ini, gunungan sampah di TPST Bantargebang sudah nyaris melebihi kapasitas.  “Kita lagi evaluasi kerja sama itu yang bulan Oktober (2021) kalau nggak salah habis. Sekarang membahas tentang perjanjian kerja samanya, kan itu setiap 5 tahun sekali dievaluasi,” ujarnya. 


×