Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Jumat (3/9/2021). Kementerian BUMN mengumumkan rancangan penggabungan empat BUMN di bidang pelabuhan yakni PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, II, III, dan IV yang akan berintegr | ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
21 Sep 2021, 13:37 WIB

Pelindo: Globally Connected, Locally Integrated

Pelindo II akan bertindak sebagai surviving entity atau perusahaan penerima penggabungan dalam merger empat Pelindo.

Setelah menunggu kurang lebih 15 tahun, integrasi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo I, II, III, dan IV akan terwujud pada 1 Oktober 2021. Peleburan empat Pelindo yang selama ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas infrastruktur pelabuhan nasional, yang terhubung secara global dan terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global atau globally connected, locally integrated.

Pelindo II akan bertindak sebagai surviving entity atau perusahaan penerima penggabungan dalam merger empat Pelindo. Setelah terintegrasi, nama perusahaan hasil penggabungan menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.

“Integrasi Pelindo merupakan momentum bagus untuk mewujudkan globally connected, locally integrated. Dua poin penting itu,” kata Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi kepada Republika, akhir pekan lalu.

Guna merealisasikan konektivitas infrastruktur pelabuhan nasional yang terhubung secara global dan terintegrasi secara lokal bukanlah perkara mudah. Termasuk meningkatkan daya saing nasional agar sukses dalam era persaingan rantai suplai dunia.

Terkait

Setijadi menyampaikan, salah satu pekerjaan rumah (PR) Pelindo adalah masih terlalu banyaknya pintu masuk pelabuhan. Menurut Setijadi, pintu masuk pelabuhan di Tanah Air harus dibatasi. Selain itu, jalur darat dan laut harus terintegrasi dengan baik, sehingga sistem multimoda transportasi dari laut ke darat efisien dalam menyalurkan logistik.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pelabuhan Indonesia II/IPC (pelindo)

Selama ini dwelling time atau masa penimbunan peti kemas menjadi masalah. Setijadi mengharapkan Integrasi Pelindo mampu mengurai permasalahan kepelabuhan seperti dwelling time, peralatan penunjang aktivitas pelabuhan, standardisasi pelayanan pelabuhan hingga informasi teknologi (IT) pelabuhan.

“Adanya integrasi bisa menetapkan satu standardisasi pelabuhan di Indonesia yang selama ini berbeda. Transparansi dan monitoring juga lebih gampang, termasuk standardisasi konsep pemasaran pelabuhan,” ujar Setijadi.

Menurut Setijadi, jika tata kepelabuhan membaik lewat integrasi Pelindo, Indonesia berpeluang mengambilalih posisi atau menjadi alternatif Singapura yang selama ini menjadi hub transshipment di Asia Tenggara. Apalagi Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya selama juga sudah masuk 50 pelabuhan di dunia dengan produksi bongkar muat peti kemas terbanyak.

 

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menargetkan terminal peti kemas milik Pelindo masuk dalam delapan terminal terbesar di dunia. Hal ini seiring dengan terwujudnya merger antara Pelindo I, II, III, dan IV.

“Kita sedang menunggu bagaimana transformasi yang ada di Pelindo, yang setelah digabungkan bisa Pelindo yang sesuai kita harapkan nanti peti kemasnya nomor delapan terbesar di dunia,” kata Erick.

Harapan tersebut tampaknya bukan sesuatu yang mustahil. Sebagai contoh, arus muat peti kemas di Pelindo I tetap tumbuh di tengah pandemi Covid-19. Sepanjang semester I 2021 tercatat bongkar muat peti kemas sebanyak 717.030 twenty-foot equivalent units (TEUs) atau naik 10,79 persen dibandingkan dengan capaian semester I 2020 yang hanya 647.172 TEUs.

Direktur Utama Pelindo IV Prasetyadi mengatakan, integrasi Pelindo akan meningkatkan konektivitas nasional. Konektivitas di pelabuhan dari Timur ke Barat memang sangat diperlukan karena kondisi geografis Indonesia merupakan negara kepulauan dan sebagian besar wilayahnya adalah perairan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pelabuhan Indonesia II/IPC (pelindo)

Setelah resmi menyatu, Pelindo mengusung visi menjadi pemimpin ekosistem maritim terintegrasi dan berkelas dunia. Adapun misi Pelindo adalah mewujudkan jaringan ekosistem maritim nasional melalui peningkatan konektivitas jaringan dan integrasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Prasetyadi mengatakan, peleburan Pelindo memudahkan koordinasi pengembangan kawasan industri dan ekonomi khusus di sekitar pelabuhan di daerah-daerah. Sehingga mendorong peningkatan konektivitas hinterland yang akan meningkatkan volume ekspor-impor dan trafik pelabuhan.

Berbicara kegiatan ekspor-impor, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengharapkan, integrasi Pelindo mengakomodasi kegiatan ekspor. Menurut dia, pelabuhan adalah gerbang produk, jadi pelayanan harus mudah, murah, cepat, aman sehingga kegiatan logistik seperti ekspor tidak tertahan atau lambat.

"Pelindo juga bisa berperan menjadi agregator produk di daerah unggulan ekspor sehingga bisa melihat lebih jeli lagi sentra produksi produk yang dihubungkan lewat layanan pelabuhan. Kemudahan layanan pelabuhan bisa memudahkan rantai pasok produk dan menekan biaya logistik yang masih tinggi,” kata Mahendra kepada Republika.

Ketua Organizing Committee (OC) Integrasi Pelindo sekaligus Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono mengatakan, integrasi Pelindo akan menciptakan sinergi BUMN pelabuhan dengan standarisasi operasional untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional. Biaya logistik masih menjadi permasalahan di Tanah Air.

Saat ini tercatat biaya logistik masih berada pada level 23,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka itu berbeda dengan Malaysia yang hanya mencapai 13 persen dari PDB negara setempat dan masih terbilang tinggi dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.


×