Pekerja memanen tebu di desa Kerticala, Tukdana, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (11/6/2021). Holding pabrik gula diharapkan kurangi importasi dan mencapai target swasembada. | ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
21 Sep 2021, 10:33 WIB

PTPN Bidik Kemandirian Gula Konsumsi

Holding pabrik gula diharapkan kurangi importasi dan mencapai target swasembada.

JAKARTA  — Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Muhammad Abdul Ghani optimistis kehadiran holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pabrik gula, yang bernama Sugarco, akan bermanfaat mengurangi impor gula. Konsolidasi 35 pabrik gula milik holding perkebunan juga demi membidik target kemandirian gula konsumsi.

Ghani menjelaskan, 150 ribu hektare (ha) lahan tebu PTPN Group saat ini menghadapi berbagai tantangan dari sisi operasional dan finansial. Ia mengatakan, produktivitas tebu pada 2020 berkisar pada angka 67 ton ha dan rendemen kurang dari tujuh persen. Sedangkan produksi gula PTPN Group pada 2020 sebanyak 704 ribu ton atau 34 persen dari total produksi domestik.

"Dengan Sugarco, kita targetkan lahan meningkat menjadi 248 ribu hektare, produktivitas tebu hingga 84 ton per hektare, dan produksi gula mencapai 1,8 juta ton atau 70 persen dari total produksi domestik pada 2024,” kata Ghani saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (20/9).

Ghani mengatakan, kehadiran Sugarco juga merupakan upaya agar menjaga petani tebu tetap bertahan dan tidak beralih pada sektor lain. Untuk itu, ia menargetkan adanya peningkatan sisa hasil usaha (SHU) petani tebu dari Rp 3,7 juta per hektare per tahun pada 2020 menjadi Rp 21,2 juta per ha per tahun pada 2024.

Terkait

Sugarco secara resmi berdiri pada 17 Agustus 2021 setelah penandatangan akta pendirian PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Ghani menyebutkan, SGN telah mendapat pengesahan pendirian dari Kemenkumham pada 19 Agustus 2021.

Ghani menyampaikan, Presiden Joko Widodo juga mendukung terbentuknya Sugarco untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani, serta menjaga kestabilan. Dalam rapat terbatas mengenai restrukturisasi dan divestasi bisnis gula PTPN Group pada 5 Agustus 2021, Ghani melanjutkan, Presiden menyetujui restrukturisasi dan divestasi bisnis gula melalui pembentukan single entity gula.

Ghani menyampaikan, PTPN sebagai perwakilan pemerintah memegang mayoritas saham SGN sebesar 51 persen, dan sisanya untuk investor. "Kita juga akan meminta klausul sampai kapan pun kita tetap mayoritas, negara tetap mengendalikan," katal Ghani.

Komisi VI DPR RI mendukung pembentukan Sugarco sebagai holding BUMN pabrik gula. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Muhammad Haikal mengatakan, Komisi VI DPR RI menilai pembentukan Sugarco sebagai upaya pemenuhan pasokan gula dalam negeri agar tidak bergantung kepada impor.

Haikal mengharapkan Sugarco mampu mewujudkan kemandirian gula konsumsi, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menjaga stabilitas harga gula ritel. Ia mengatakan, pembentukan Sugarco merupakan salah satu dari 88 program Kementerian BUMN pada 2020 hingga 2023.

Haikal berharap kehadiran Sugar Co dapat meningkatkan produktivitas gula PTPN group menjadi dua juta ton pada 2025 sehingga Indonesia tidak lagi mengimpor gula konsumsi. "Kita ingin transformasi ini dapat meningkatkan lapangan kerja baru dan mendapatkan pemasukan bagi negara dan tentunya mengurangi ketergantungan kepada gula impor," ujar Haikal.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Perkebunan Nusantara III (ptpniii)

Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai target pemerintah untuk swasembada gula pada 2025 mustahil tercapai. Pasalnya, kebijakan di sektor gula saat ini tidak mendukung petani yang membuat petani tebu kurang bergairah dalam meningkatkan produksi.

Sekretaris Jenderal APTRI Nur Khabsyin mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menggalakkan peningkatan produktivitas tebu lewat sejumlah kebijakan. Namun, kebijakan yang fokus pada sisi hulu itu akan kurang bermanfaat ketika harga produk di hilir sangat murah dan tidak sesuai dengan besarnya biaya produksi gula tebu.

Khabsyin mengatakan, petani saat ini lebih memprioritaskan menjual tebunya ke perusahaan giling swasta. Sebab, harga pembelian tebu dari perusahaan swasta lebih baik daripada BUMN. Ia menambahkan, BUMN juga kerap kali tidak memiliki dana cukup untuk membayar gula maupun tebu petani.

Ekonom Institute for Development of Economcs and Finance (Indef), Rusli Abdullah menilai sulit bagi Indonesia mencapai swasembada gula tebu dalam lima tahun mendatang. Menurut dia, meskipun pemerintah berupaya terus menambah pabrik gula baru, namun ketersediaan tebu dalam negeri belum mencukupi.

Rusli mengatakan, pembangunan sisi hulu dan hilir harus beriringan agar para investor juga memiliki minat dalam berusaha di Indonesia. Meski begitu, Rusli mengapresiasi langkah pemerintah yang terus menggalakkan pembangunan pabrik gula baru.


×