Petani mengumpulkan jagung untuk dijemur di Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (9/8/2021). Petani setempat mengatakan harga jual jagung di tingkat petani naik dari Rp3.000 menjadi Rp5.000 per kilogram akibat minimnya hasil panen di dae | ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/rwa.

Ekonomi

21 Sep 2021, 10:28 WIB

Kementan Antisipasi Musim Hujan Jaga Stok Jagung

Peternak mulai menerima pasokan jagung murah.

JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan, musim penghujan pada akhir tahun ini diperkirakan tiba lebih cepat berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejumlah antisipasi disiapkan untuk meminimalisasi dampak negatif yang kerap berdampak pada penurunan produksi pangan.

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi mengatakan, menurut laporan BMKG, musim hujan sudah masuk pada pertengahan bulan ini untuk wilayah Sumatra. Untuk Jawa dan Kalimantan kemungkinan mulai memasuki musim penghujan pada Oktober mendatang. Puncak musim hujan diperkirakan tiba pada Januari 2022.

"Ini sering berdampak kepada banjir maupun bencana alam lainnya. Kementan mengambil langkah antisipatif untuk menjaga produksi pangan," kata Harvick dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR, Senin (20/9).

Ia menyampaikan, antisipasi utama yang dilakukan dengan menyiapkan pemetaan wilayah produksi pangan pokok di setiap daerah beserta early warning system (EWS) untuk pemantauan rutin. Kementan juga siap memberikan bantuan penyediaan benih gratis bagi petani maksimal 20 hari setelah banjir. Kementan juga menyiapkan Brigade La Nina untuk membantu petani menghadapi tantangan cuaca.

"Kami juga sudah melakukan sosialisasi penggunaan benih padi tahan genangan seperti Inpara 1 sampai 20, Inpari 29 dan 30, Ciherang Sub 1, Inpari 42 Agritan, serta varietas unggul lokal lainnya," kata Harvick.

Untuk bantuan permodalan, Kementan sudah menyiapkan asuransi usaha tani padi (AUTP) khusus untuk petani padi. Harvick mengatakan, seluruh hal itu terus disosialisasikan kepada petani sembari terus memantau ketersediaan pangan pokok strategis di setiap daerah.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Pertanian RI (kementerianpertanian)

 

Ia menegaskan, seluruh pasokan komoditas pangan pokok mencukupi. Kementan mencatat, hingga akhir pekan kedua September 2021, stok beras sebanyak 7,62 juta ton, jagung 2,3 juta ton, cabai besar 16 ribu ton, cabai rawit 17 ribu ton, dan bawang merah 35 ribu ton.

Meski begitu, ia tak menampik terdapat beberapa provinsi yang mengalami defisit pangan. Oleh karena itu, Kementan sudah memberikan stimulus bantuan biaya pengiriman pasokan pangan dari wilayah surplus ke defisit sehingga terjadi pemerataan ketersediaan pangan.

Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bustanul Arifin, dalam kesempatan terpisah mengatakan, padi merupakan komoditas yang sangat rentan terhadap sistem pengelolaan air. Ketika air berlebih, potensi panen dapat terganggu. Sebaliknya, kondisi kekeringan ekstrem juga dapat mempengaruhi hasil panen.

Karena faktor itu, Bustanul meminta pemerintah lebih waspada dan memberikan pendampingan lebih baik. Dia mengatakan, perlu ada intervensi lebih jauh khususnya dalam pembenahan sistem budi daya agar lebih memberikan dampak positif bagi perekonomian.

Jagung murah

Peternak mulai menerima pasokan jagung murah. Kementan melakukan intervensi untuk menstabilkan harga pakan yang mengalami kenaikan dan harga telur yang mengalami penurunan. Untuk memenuhi pasokan jagung pakan bagi peternak mandiri, Kementan mengeluarkan kebijakan berupa bantuan kirim jagung bagi peternak, salah satunya di Blitar, Jawa Timur.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ditjen Tanaman Pangan (ditjentanamanpangan)

“Hari ini sudah diterima jagung dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Jagung ini akan kami manfaatkan untuk pakan ternak ayam kami di wilayah Blitar,” kata peternak dari Kelompok Ternak Layer Mandiri Blitar, Rofi seperti dikutip dari siaran pers, Senin (20/9).

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan juga menggelar penandatanganan perjanjian kerja sama antara petani jagung di Sumenep, Bojonegoro, Blitar, dan Lamongan dengan peternak Blitar untuk menjamin distribusi jagung ke peternak layer mandiri. Kerja sama ini berlaku hingga 31 Desember 2022 dan dapat diperpanjang lagi sesuai kebutuhan dan kesepakatan.

Pada pertemuan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Hadi Sulistyo mengatakan surplus jagung di Jatim sebesar 3,9 juta ton pipil kering. Perkembangan jagung di Jatim berdasarkan realisasi luas panen mencapai 1,06 juta hektare dengan potensi hasil 5,88 juta ton pipil kering.

Dengan demikian, adanya kerja sama petani jagung binaan Kementan di Jawa Timur dengan peternak Blitar dapat menjamin harga jagung petani dan pasokan jagung bagi peternak dengan harga yang wajar.

“Kalau hitungan kebutuhan pakan ternak 3,6 juta ton maka produksi jagung Jatim bisa dikatakan mampu memenuhi. Memang setiap tahun terjadi permintaan jagung baik pakan maupun pangan sehingga memang perlu petani jagung dan peternak duduk bersama mengatasi solusi harga pakan ternak,” ujar Hadi.


×