Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
21 Sep 2021, 03:30 WIB

Usah Putus Asa

Sikap terbaik menghadapi kondisi sulit adalah makin kuat keyakinan kepada Allah. Jadi, usah putus asa.

OLEH IMAM NAWAWI

Menjadi Muslim itu anugerah tiada tara. Karena ajarannya tidak sekadar memerintahkan ibadah, tetapi juga memberi panduan hidup yang bisa digunakan untuk survive menghadapi apa pun, termasuk ujian besar, seperti sekarang kita alami, yakni pandemi.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS al-Hadid [57]: 22).

Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitabnya, Shafwatut Tafasir, menjelaskan, ayat tersebut bermakna segala macam musibah di bumi, seperti paceklik, gempa bumi, hama tanaman, dan berkurangnya buah-buahan, termasuk apa yang dialami jiwa manusia berupa penyakit, kemelaratan, dan kehilangan anak, sejatinya telah ditetapkan Allah SWT.

Terkait

Dengan kata lain, ayat itu menghendaki umat Islam sadar dan yakin bahwa sikap terbaik dalam menghadapi kondisi sulit adalah makin kuat keyakinan kepada Allah. Jadi, usah putus asa.

Kita patut belajar pada Umar bin Khattab RA dalam menghadapi musibah, yang ternyata ia justru mendapati nikmat. Umar RA mengatakan, “Tidak ada musibah menimpaku, kecuali aku mendapati tiga nikmat padanya. Pertama, musibah itu tidak pada agamaku. Kedua, tidak lebih besar daripada sebelumnya. Ketiga, Allah memberi aku pahala yang besar atas pahala itu.

Oleh karena itu, jangan putus asa, jangan apatis, jangan pesimis karena semua hal bagi Allah itu mudah. Tinggal kita sadar, patuh, dan tunduk kepada-Nya dengan sebulat tekad di dalam dada. Sekalipun karena ujian itu seseorang harus ditinggalkan oleh teman dan rekan-rekannya, tetaplah optimis, usah putus asa.

Imam Syafi'i pernah menyebutkan, “Jika semua orang menjauh ketika engkau mendapat kesulitan, ketahuilah bahwa Allah SWT ingin membuatmu kuat dan Dia akan menjadi penolongmu.”

Rasulullah SAW bersabda, "Hendaklah engkau bersabar atas sesuatu yang tidak engkau sukai, ia akan membawa banyak manfaat bagimu.” (HR Ahmad).

Di antara contoh sabar ialah seperti yang diperintahkan oleh Nabi Ya'kub kepada putra-putranya dalam menemukan Yusuf dan saudaranya. "Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf [12]: 87).

Jadi, sabar diwujudkan dengan usaha yang dilandasi strategi, langkah konkret, serta keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah. Bukan diam dan pasrah dalam makna yang salah.

Yakin akan pertolongan Allah ini adalah puncak usaha yang harus dilakukan oleh hati dan akal manusia sebab hanya dengan cara itu keajaiban dalam bentuk pertolongan-Nya akan datang. Jika iman kuat di dalam dada, mustahil diri akan terjerembap pada keputusasaan.


×