Penumpang menanti jemputan ke fasilitas karantina setiba di Bandara Internasional Manila, Filipina, Senin (6/9/2021). Pemerintah Indonesia harus terus pantau perkembangan Covid-19 hingga varian baru di negara tetangga. | AP/Aaron Favila

Nasional

21 Sep 2021, 03:45 WIB

Indonesia Waspadai Lonjakan Kasus di Negara Tetangga

Pemerintah harus terus pantau perkembangan Covid-19 hingga varian baru di negara lain.

JAKARTA -- Indonesia mewaspadai kasus Covid-19 yang berpotensi dibawa pelaku perjalanan internasional dari wilayah perbatasan. Saat ini kenaikan kasus Covid-19 terjadi di beberapa negara tetangga yang berbatasan dengan Indonesia.

"Sesuai dengan laporan ikhtisar mingguan Covid-19 pada 3-9 September 2021, Indonesia masih perlu mewaspadai kasus yang mulai dan masih melonjak di Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Australia, dan Singapura," kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Kementerian Kesehatan Vivi Setiawaty, Senin (20/9).

Berdasarkan kajian Puslitbangkes, kata Vivi, kasus di negara yang berbatasan dengan Indonesia masih didominasi oleh varian Delta. Hingga kini belum ada laporan terkait temuan varian B.1.621 (Mu).

Vivi menegaskan, faktor yang berkontribusi terhadap percepatan penularan Covid-19 salah satunya adalah perjalanan orang. "Dengan terus beragamnya temuan varian baru, maka varian baru menjadi salah satu yang perlu dicegah dan terus dimonitor. Lonjakan kasus pada umumnya selalu diiringi dengan pemeriksaan genome virus dari sampel pasien Covid-19," ujarnya.

Selain Indonesia, kata Vivi, varian Delta masih mendominasi di beberapa negara yang saat ini tren kasusnya baru mulai dan masih mengalami lonjakan, seperti Jerman, Britania Raya, Amerika, Israel, dan Malaysia.

Kemenkes RI melaporkan bahwa varian tertinggi kedua di Jerman setelah Delta adalah jenis Lambda sebesar empat persen. Sedangkan, di Britania Raya, Amerika Serikat, dan Israel adalah varia Alfa dengan masing-masing 0,68 persen, 0,09 persen, dan 0,62 persen. "Malaysia, varian tertinggi kedua setelah Delta adalah Kappa sebesar 8,11 persen," kata Vivi.

Meskipun angka yang dilaporkan di luar varian Delta masih relatif kecil, tapi pemantauan varian baru di negara-negara lain penting. Tujuannya untuk meningkatkan kewaspadaan dalam pencegahan, peningkatan whole genome sequencing maupun pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait SARS CoV-2.

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, meminta pemerintah terus memantau perkembangan kasus Covid-19 hingga varian baru virus di negara-negara lain, termasuk negara tetangga. Jika kasus Covid-19 di sebuah negara meningkat, maka otoritas harus segera mengidentifikasi.

Caranya, yaitu melakukan pembatasan dan penapisan untuk orang asing atau orang Indonesia dari negara lain termasuk negara-negara tetangga. Laura menilai langkah pembatasan masuknya warga negara asing (WNA) dan WNI dengan hanya membuka sejumlah bandara, pelabuhan, pos lintas batas negara tertentu sangat tepat.

"Karena begitu ada kasus varian suatu negara dan itu menjadi concern organisasi kesehatan dunia PBB maka harus segera direspons oleh Pemerintah Indonesia, jangan sampai terlewat. Jangan sampai setelah ditemukan kemudian baru berpikir bagaimana upaya antisipasinya," katanya.

Menurutnya, pemerintah pasti memiliki pertimbangan mengapa hanya membuka pintu kedatangan luar negeri di lokasi yang terbatas. Karena itu, pembatasan akses masuk ke Indonesia sangat penting.

Laura memperkirakan kondisi ini akan berubah bila situasi mereda. "Kemudian kalau munculnya varian baru virus sudah mereda, maka bisa dibuka secara umum," ujarnya.

Sumber : Antara


×