Prajurit TNI AL melakukan latihan tempur anti udara dari atas KRI I Gusti Ngurah Rai di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (8/4/2021). TNI Angkatan Laut (AL) melaksanakan latihan operasi laut gabungan untuk menguji kesiapsiagaan peralatan tempur atau | Teguh prihatna/ANTARA FOTO
20 Sep 2021, 03:45 WIB

Malaysia Cemaskan Provokasi di Laut Cina Selatan

Rencana Australia dinilai memprovokasi kekuatan lain lebih agresif, terutama di Laut Cina Selatan.

KUALA LUMPUR -- Malaysia menyatakan keprihatinan pada Sabtu (18/9) atas rencana Australia untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir di bawah pakta baru dengan Inggris dan Amerika Serikat. Keputusan itu dinilai dapat memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan Indo-Pasifik.

"Ini akan memprovokasi kekuatan lain untuk juga bertindak lebih agresif di kawasan itu, terutama di Laut Cina Selatan (LCS)," kata Kantor Perdana Menteri Malaysia dalam sebuah pernyataan, Sabtu.

"Sebagai negara di dalam ASEAN, Malaysia memegang prinsip menjaga ASEAN sebagai Zona Damai, Kebebasan, dan Netralitas (ZOFPAN)," kata pernyataan itu mendesak semua pihak untuk menghindari provokasi dan persaingan senjata di wilayah tersebut.

Pernyataan Kuala Lumpur tidak menyebutkan Beijing. Tetapi, kebijakan luar negeri Beijing di kawasan LCS terlihat semakin keras.

Terkait

LCS diklaim secara tumpang tindih oleh enam negara. Cina mengeklaim porsi terbesar LCS, dan lima negara lain adalah Malaysia, Vietnam, Brunei, Taiwan, dan Filipina.

Australia akan membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir di bawah kemitraan keamanan Indo-Pasifik. Keputusan ini bagian dari kesepakatan aliansi baru Indo-Pasifik yang dinamakan AUKUS, yaitu singkatan dari Australia, United Kingdom (Inggris), dan United States (AS).

Ketiga negara itu sepakat untuk berbagi informasi di tiga bidang. Ketiga bidang itu adalah kecerdasan artifisial, kapabilitas pertahanan siber, dan pertahanan bawah laut. Hingga saat ini AS hanya berbagi informasi teknologi pengembangan nuklir dengan Inggris.

Macron dan Biden

Presiden Prancis Emmanuel Macron akan melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam  beberapa hari mendatang. Mereka bakal membahas tentang ketegangan diplomatik pascapembentukan AUKUS.

"Akan ada percakapan di telepon dalam beberapa hari mendatang," kata juru bicara Pemerintah Prancis, Gabriel Attal, kepada saluran berita BFM, Ahad. Dia menyebut inisiatif dan permintaan untuk melakukan pembicaraan datang dari Biden.

Aliansi AUKUS ini membuat Cina, Uni Eropa (UE) dan Prancis berang. Mereka memiliki alasan masing-masing.

Prancis merasa berang atas keputusan Australia yang memilih membangun kapal selam nuklir dengan AS. Alasannya, Australia kemudian menghentikan kontrak kapal selam konvensional dengan Prancis yang terjalin 2016. 

Pada Sabtu (18/9), Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan, situasi yang ditandai “bermuka dua, penghinaan, dan banyak kebohongan” terkait sikap Australia. Ia menduga ada kesepakatan belakang layar yang mengkhianati Prancis. 

Namun, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengaku tak menyesali keputusannya. Ia mengaku telah memberi sinyal kepada Prancis beberapa bulan sebelumnya.  

“Saya tidak menyesali keputusan untuk mengutamakan kepentingan Australia lebih utama,” katanya Ahad.

Prancis menarik duta besarnya untuk Australia dan Amerika Serikat pada Jumat (17/9). Langkah ini untuk memprotes kesepakatan AUKUS.

"Saya ingin bisa menemukan mesin waktu dan berada dalam situasi yang tidak berakhir pada situasi nyaris tak bisa dipercaya, sulit, tidak pantas, dan bukan seperti gaya Australia," kata Duta Besar Prancis untuk Australia Jean-Pierre Thebault, saat siap pulang ke Prancis, Jumat.

UE juga merasa ditinggalkan AS. Pekan lalu, Kepala kebijakan luar negeri UE Josep Borrel mengatakan, kehadiran AUKUS menunjukkan bahwa UE harus mengembangkan sendiri strategi keamanan dan pertahanannya. Ia tidak diajak berbicara mengenai kesepakatan baru antara AS dan Australia untuk membangun kapal selam berkekuatan nuklir.

Cina juga mengecam kesepakatan AUKUS. Mereka mengatakan, kemitraan seharusnya tidak mengincar negara ketiga. Negeri Tirai Bambu juga memperingatkan kerja sama pertahanan itu memicu perlombaan senjata di kawasan.

Sumber : Reuters/Associated Press


×