Pekerja mengangkut potongan tebu hasil panen di Nagari Batu Bulek, Lintau Buo Utara, Tanah Datar, Sumatra Barat, Kamis (17/9/2020). | WAHDI SEPTIAWAN/ANTARA FOTO
20 Sep 2021, 03:50 WIB

BUMN Kejar Swasembada Gula 

Butuh keseriusan pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula pada 2025.

JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong holding BUMN perkebunan mewujudkan swasembada gula konsumsi. Sesuai target dari Presiden Joko Widodo, Indonesia diharapkan bisa swasembada pada 2024-2025. 

Erick menyampaikan hal itu dalam kunjungan kerjanya ke Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (18/9). Di kabupaten terujung Pulau Jawa tersebut, Erick meninjau PT Industri Gula Glenmore (IGG) yang memiliki lahan seluas 102,4 hektare. Pabrik ini berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara XII. 

Erick mengapresiasi transformasi yang dilakukan PT IGG, baik dari sisi produksi maupun penerapan teknologi modern dalam pengolahan gula. Ia berharap transformasi ini dapat mendorong terwujudnya swasembada gula konsumsi bagi Indonesia. 

Dengan luas seluruh lahan yang dikelola holding BUMN perkebunan, Erick menegaskan, Indonesia harus bisa menjadi negara dengan industri gula yang solid. "Melalui produksi gula yang terus meningkat dan penerapan teknologi modern di industri ini, saya harap PT IGG menjadi bagian dari usaha terwujudnya swasembada gula konsumsi. Itu merupakan bagian dari ketahanan pangan," kata Erick dalam keterangannya. 

Terkait

photo
Truk pengangkut tebu bongkar muatan di Pabrik Gula Glenmore, PTPN XII, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (9/6/2021). Pada musim buka giling 2021, PT Industri Gula Glenmore menargetkan peningkatan produksi gula dari sebelumnya 44 ribu ton tahun 2020 menjadi 55 ribu ton gula yang dapat mensuplai kebutuhan gula nasional mencapai dua persen. - (ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA)

Rata-rata produksi gula nasional tercatat 2,2 juta ton per tahun. Adapun kebutuhan gula konsumsi per tahun mencapai 2,8 juta ton dan gula industri 3,62 juta ton. Dengan kata lain, angka impor gula per tahun saat ini mencapai lebih dari empat juta ton.

Erick mengatakan, pemerintah sudah memiliki peta jalan mengenai realisasi swasembada gula konsumsi. Presiden Jokowi pun turut memberikan dukungan. "Meski banyak tantangan, tetapi lillahi ta’ala kita harus jalankan," tutur Erick. 

Walau tetap memerlukan peran swasta, kata Erick, sudah saatnya perusahaan BUMN yang bergerak dalam bisnis perkebunan tebu dan gula bergabung dalam satu holding demi mewujudkan mimpi lama tersebut. Saat ini, terdapat tujuh anak perusahaan PTPN yang bergerak di industri tebu dan gula, yaitu PTPN VII di Lampung, PTPN IX sampai XII di Jawa Timur, dan PTPN XIV di Sulawesi Selatan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Akun resmi Kementerian BUMN RI (kementerianbumn)

Menurut Erick, restrukturisasi yang dilakukan di PTPN XII telah memberikan hasil maksimal. Ini terlihat dengan membaiknya keuangan dan memberi keuntungan. Swasembada gula juga memerlukan kolaborasi dengan rakyat dan instansi lain. "Saya minta libatkan petani tebu rakyat," katanya. 

Hal lain yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan lahan Perhutani untuk peningkatan lahan produksi dari 45 ribu hektare menjadi 85 ribu hektare. Kemudian, jumlah lahan secara perlahan ditambah hingga menjadi 250 ribu hektare pada 2024-2025. "Jika hal itu tercapai, impian Indonesia menjadi negara pengekspor gula akan terwujud," jelas dia.

photo
Foto udara antrean truk pengangkut tebu di pabrik gula PT Rejoso Manis Indo (RMI) Blitar, Jawa Timur, Selasa (15/6/2021). - ( ANTARA FOTO/Irfan Anshori)

Keinginan meningkatkan ekspor dan mengurangi impor, terutama pada komoditas yang dimiliki dan menjadi kekayaan Indonesia, terus diupayakan oleh Kementerian BUMN kepada perusahaan BUMN. "Sudah satnya kita jangan hanya menjadi market. Melalui potensi yang kita miliki, industri gula harus menjadi tulang punggung ekonomi yang penting ke depannya,” tegas Erick. 

Dalam kunjungan ke Banyuwangi, Erick juga meresmikan pabrik pupuk hayati Bioneensis. Pabrik itu merupakan hasil kerja sama antara PT IGG dan PT Riset Perkebunan Nusantara, yang merupakan anak usaha holding perkebunan PTPN III (Persero).

Dia berharap langkah yang dilakukan PTPN III bisa turut mendukung target swasembada gula nasional pada 2025. "Kita sudah melihat keberadaan PTPN ini harus menjadi manfaat buat petani. Sekarang kita lihat, kita mau PTPN ini bisa jaga keseimbangan gula nasional," katanya.

Erick menuturkan, produksi gula PTPN sudah meningkat menjadi sekitar 800 ribu ton. Namun, jumlah tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan nasional, sehingga pemerintah masih membuka keran impor. "Tetapi untuk 2024-2025, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, kita mengharapkan bisa mulai menata swasembada beras dan gula," katanya.

Pada 1930-an, papar Erick, Indonesia menjadi salah satu negara produsen gula dunia. Namun, prestasi itu terus menurun hingga pascakemerdekaan. "Pada 2025, kita mulai kembali swasembada. Kita berupaya, kita kerja maksimal. Tapi, saya harapkan kinerja PTPN, apalagi kemarin habis restrukturisasi, sekarang sudah terlihat," katanya.

Direktur Utama PTPN III Mohammad Abdul Ghani mengatakan, pihaknya akan jadi bagian dari upaya mendukung target swasembada gula. "Pada 2024, target kami adalah 1,8 juta ton produksi gula," katanya.

photo
Pekerja memanen tebu di desa Kerticala, Tukdana, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (11/6/2021). PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) menargetkan produksi gula mencapai 282 ribu ton pada 2021 atau meningkat 22 persen dari tahun 2020 dengan produksi gula 231 ribu ton. - (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Butuh keberpihakan

Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai, butuh keseriusan dan keberpihakan dari pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula pada 2025. Kebijakan di sektor gula, saat ini, tidak mendukung petani yang membuat petani tebu kurang bergairah dalam meningkatkan produksi.

Sekretaris Jenderal APTRI Nur Khabsyin mengakui, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus menggalakkan peningkatan produktivitas tebu lewat sejumlah kebijakan. Namun, kebijakan yang fokus pada sisi hulu itu akan kurang bermanfaat ketika harga produk di hilir sangat murah dan tidak sesuai dengan besarnya biaya produksi gula tebu.

"Ada upaya peremajaan, tapi ketika sudah dipanen harga tebu murah, itu artinya mendistorsi kebijakan karena tidak ada harmonisasi," kata Khabsyin.

Ia menyebut, saat ini, harga gula sedang turun ke level Rp 10.400-Rp 10.500 per kg. Produksi gula tahun ini juga diperkirakan turun karena masih adanya tunggakan pembayaran gula petani oleh perusahaan. Hal itu mengakibatkan petani enggan untuk menambah luasan dan mengganti komoditas.

"Swasembada gula sudah dicanangkan sejak era SBY. Tahun 2018, mundur 2019 lalu 2022, sekarang mau 2025. Tetap tidak bisa karena kebijakan saling mendistorsi," kata dia.

photo
Foto udara antrean truk pengangkut tebu di pabrik gula PT. Rejoso Manis Indo (RMI) Blitar, Jawa Timur, Selasa (15/6/2021). Pada musim giling tebu 2021 yang dimulai pertengahan Juni 2021 ini, PT RMI menargetkan mampu produksi gula sebanyak 1,2 juta ton selama 130 hari masa giling, dan ditargetkan mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan gula nasional yang diperkirakan mencapai 5,8 juta ton tahun ini. - (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)

Ia mengakui, petani saat ini lebih memprioritaskan menjual tebunya ke perusahaan giling swasta. Sebab, harga pembelian tebu dari perusahaan swasta lebih baik daripada pembelian harga pembelian oleh BUMN. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah menilai, mewujudkan swasembada gula dalam lima tahun ke depan bukan pekerjaan mudah. Sebab, meskipun pemerintah berupaya untuk terus menambah pabrik gula baru, namun ketersediaan tebu dalam negeri belum mencukupi.

Rusli menilai, pembangunan sisi hulu dan hilir harus beriringan agar para investor memiliki minat dalam berusaha di Indonesia. Meski begitu, Rusli mengapresiasi langkah pemerintah yang terus menggalakkan pembangunan pabrik gula baru.

Hal ini seperti yang dilakukan oleh  PT Industri Gula Glenmore dan PT Riset Perkebunan Nusantara, yang merupakan anak usaha holding perkebunan PTPN III (persero). "Kita harus apresiasi karena sudah ada keberpihakan untuk membenahi sektor gula tebu nasional," kata dia.

Sumber : Antara


×